Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

menyusui

Kandungan Lemak dalam ASI Ternyata Tak cuma Dipengaruhi oleh Makanan yang Dikonsumsi Ibu

Annisa Aulia Rahim   |   HaiBunda

Rabu, 07 Oct 2026 08:55 WIB

Ilustrasi menyusui
Kandungan Lemak dalam ASI Ternyata Tak cuma Dipengaruhi oleh Makanan yang Dikonsumsi Ibu/Foto: Getty Images/FatCamera
Daftar Isi
Jakarta -

Bunda mungkin pernah mendengar bahwa makanan yang dikonsumsi selama menyusui dapat memengaruhi kandungan ASI. Hal tersebut memang ada benarnya. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pola makan ibu, terutama asupan jenis lemak tertentu, dapat memengaruhi komposisi asam lemak dalam ASI.

Namun, bukan berarti semakin banyak makanan berlemak yang dikonsumsi, semakin tinggi pula kandungan lemak dalam ASI.

Faktanya, lemak dalam ASI merupakan komponen yang sangat dinamis. Kadarnya dapat berubah sepanjang masa menyusui, bahkan dalam satu hari yang sama. Faktor seperti waktu pengambilan ASI, jarak dari sesi menyusui sebelumnya, seberapa kosong payudara, tahap laktasi, serta karakteristik tubuh ibu juga dapat berperan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Lemak sendiri merupakan sumber energi utama dalam ASI. Menurut sebuah systematic review yang diterbitkan di jurnal Nutrients, lemak menyumbang sekitar 50 persen energi ASI dan menyediakan asam lemak esensial yang dibutuhkan untuk perkembangan sistem saraf pusat dan retina bayi.

Lantas, apa saja yang memengaruhi kandungan lemak ASI?

Lemak ASI sangat dinamis dan bisa berubah

ASI bukan cairan yang komposisinya selalu sama setiap kali bayi menyusu. Kandungan berbagai zat gizi di dalamnya dapat mengalami perubahan sebagai bagian dari proses fisiologis laktasi.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam The American Journal of Clinical Nutrition menganalisis 308 sampel ASI dari 17 ibu selama lima minggu pertama setelah melahirkan.

Peneliti menemukan bahwa kadar trigliserida, salah satu komponen utama lemak ASI, meningkat terutama pada minggu pertama setelah persalinan dan kemudian relatif stabil. Sementara itu, kadar kolesterol mengalami perubahan berbeda selama masa tersebut.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa komposisi lemak ASI memang mengalami perubahan seiring perkembangan masa menyusui.

1. Makanan ibu memang berpengaruh, tetapi tidak sederhana

Pola makan ibu merupakan salah satu faktor yang dapat memengaruhi komposisi asam lemak ASI.

Hal ini diperkuat oleh systematic review terbaru yang diterbitkan pada 2024. Peneliti menganalisis 27 studi observasional dan lima studi intervensi, dengan total 7.138 pasangan ibu dan bayi.

Hasilnya menunjukkan bahwa konsumsi ikan pada ibu secara umum berkaitan dengan kadar beberapa asam lemak dalam ASI, termasuk ALA, DHA, dan EPA. Asupan PUFA atau polyunsaturated fatty acids dari makanan juga secara umum berkorelasi positif dengan konsentrasinya dalam ASI.

Namun, para peneliti menekankan bahwa hasil penelitian mengenai hubungan pola makan ibu dan komposisi ASI masih beragam. Banyak penelitian yang tersedia merupakan penelitian observasional sehingga belum cukup untuk menyimpulkan bahwa perubahan satu jenis makanan secara langsung akan menghasilkan perubahan tertentu pada keseluruhan komposisi ASI.

Jadi, Bunda tidak perlu berpikir bahwa harus makan makanan berlemak sebanyak-banyaknya agar ASI menjadi lebih berlemak.

2. Seberapa kosong payudara saat menyusui juga berpengaruh

Salah satu faktor yang cukup penting adalah tingkat pengosongan payudara.

Penelitian mengenai komposisi ASI menunjukkan bahwa konsentrasi lemak cenderung meningkat ketika ASI dikeluarkan dari payudara selama proses menyusui atau pemerahan. Karena itu, ASI yang keluar pada awal sesi dapat memiliki kadar lemak berbeda dengan ASI yang keluar menjelang akhir sesi. Hal inilah yang kemudian sering dikaitkan dengan istilah foremilk dan hindmilk.

Namun, keduanya sebenarnya bukan dua jenis ASI yang benar-benar terpisah. Kandungan lemak berubah secara bertahap selama payudara semakin kosong. Karena itu, ASI yang terlihat lebih encer pada awal sesi menyusui tidak otomatis berarti ASI tersebut kurang bergizi.

3. Jarak dari sesi menyusui sebelumnya

Jarak waktu antara satu sesi menyusui dengan sesi berikutnya juga dapat memengaruhi konsentrasi lemak.

Salah satu penelitian pada 52 ibu menyusui di Guatemala meneliti variasi kandungan lipid ASI selama 24 jam. Hasil penelitian menemukan bahwa waktu dalam sehari dan jarak waktu sejak pemberian ASI sebelumnya merupakan faktor yang berhubungan dengan variasi kandungan lipid ASI.

Penelitian yang sama juga menemukan bahwa perbedaan kandungan lipid antaribu berkaitan dengan berat badan dan indeks massa tubuh ibu.

Artinya, ketika Bunda membandingkan dua hasil pumping yang dilakukan pada waktu berbeda, kandungan lemaknya memang bisa tidak sama.

4. Waktu dalam sehari ikut memengaruhi lemak ASI

Menariknya, kandungan lemak ASI juga dapat mengalami perubahan mengikuti waktu dalam sehari.

Sebuah systematic review yang diterbitkan di Nutrients pada 2020 menganalisis 83 laporan penelitian mengenai 71 komponen ASI. Peneliti menemukan bukti adanya variasi harian pada beberapa komponen, termasuk lemak, trigliserida, dan kolesterol.

Dari 19 penelitian yang menilai variasi kadar lemak total, sebanyak 15 penelitian melaporkan adanya variasi berdasarkan waktu. Pada sebagian besar penelitian tersebut, kadar lemak lebih tinggi pada sore atau malam hari.

Namun, systematic review tersebut juga menekankan bahwa hasil antarpenelitian cukup heterogen. Jadi, tidak tepat jika dikatakan bahwa ASI malam pasti selalu lebih berlemak pada setiap ibu.

Penelitian lain terhadap 45 ibu, termasuk ibu yang melahirkan bayi prematur dan cukup bulan, juga menemukan adanya perubahan kadar lemak ASI sepanjang 24 jam. Sampel dikumpulkan empat kali sehari, yakni pukul 06.00, 12.00, 18.00, dan 00.00. Perbedaan kadar lemak ditemukan pada beberapa titik waktu tersebut.

5. Tahap menyusui juga membuat komposisi ASI berubah

Kandungan lemak ASI juga tidak selalu sama dari hari-hari pertama hingga berbulan-bulan setelah melahirkan.

Penelitian mengenai perubahan lipid selama masa laktasi menunjukkan bahwa komposisi trigliserida dan komponen lipid lainnya mengalami perubahan pada minggu-minggu awal setelah persalinan.

Penelitian lain yang mengamati 30 ibu selama periode laktasi dari empat hari hingga 10 bulan juga menemukan adanya perubahan kandungan lipid dan trigliserida sepanjang masa menyusui.

Dengan demikian, perubahan komposisi ASI seiring bertambahnya usia bayi merupakan bagian dari dinamika normal laktasi.

6. Kondisi tubuh ibu dapat berhubungan dengan kandungan lemak ASI

Selain pola makan dan pola menyusui, karakteristik tubuh ibu juga dapat berkaitan dengan variasi lemak ASI.

Dalam penelitian terhadap ibu menyusui di Guatemala, misalnya, variasi kandungan lipid antaribu ditemukan berkaitan dengan berat badan dan indeks massa tubuh ibu.

Namun, temuan seperti ini tidak berarti bahwa ukuran tubuh tertentu membuat ASI menjadi 'lebih baik' atau 'lebih buruk'. Penelitian tersebut hanya menunjukkan adanya hubungan antara karakteristik ibu dan variasi komposisi lipid ASI.

ASI sendiri merupakan cairan biologis yang sangat kompleks sehingga kandungannya dipengaruhi oleh banyak faktor secara bersamaan.

7. Bahkan jenis lemak dalam ASI juga bisa berbeda

Yang menarik, bukan hanya jumlah lemak yang dapat berubah. Jenis lipid di dalam ASI juga menunjukkan variasi.

Sebuah penelitian lipidomics yang menganalisis ratusan jenis lipid dalam ASI menemukan adanya variasi yang cukup besar antarindividu dan berdasarkan waktu pengambilan sampel.

Dari 237 jenis lipid yang dianalisis, 119 menunjukkan perbedaan antara sampel pagi dan malam. Beberapa kelompok lipid, termasuk fosfatidiletanolamin dan trigliserida, menunjukkan perbedaan yang lebih jelas.

Penelitian tersebut memperlihatkan betapa dinamisnya komposisi lipid ASI dan mengapa satu sampel ASI tidak selalu dapat menggambarkan keseluruhan komposisi ASI seorang ibu.

Apakah Bunda perlu makan banyak lemak agar ASI lebih berlemak?

Tidak perlu, Bunda.

Makanan tetap penting selama masa menyusui karena asupan ibu dapat memengaruhi beberapa jenis asam lemak dalam ASI. Namun, kandungan lemak ASI tidak ditentukan oleh makanan saja.

Penelitian menunjukkan bahwa pola makan, tahap laktasi, waktu dalam sehari, jarak antar-sesi menyusui, tingkat pengosongan payudara, dan karakteristik ibu dapat berhubungan dengan variasi kandungan lemak ASI.

Karena itu, Bunda tidak perlu sengaja mengonsumsi makanan tinggi lemak hanya karena khawatir ASI terlalu encer.

Lebih penting untuk menerapkan pola makan yang beragam dan seimbang, dengan sumber protein, karbohidrat, sayuran, buah, serta lemak sehat. Ikan juga dapat menjadi pilihan sumber asam lemak omega-3 seperti DHA dan EPA.

ASI terlihat encer bukan berarti kurang bergizi

Bunda yang melakukan pumping mungkin pernah melihat ASI tampak lebih encer, kemudian setelah didiamkan muncul lapisan lemak di bagian atas.

Kondisi tersebut normal.

Penampilan ASI dapat berubah tergantung kapan ASI dikeluarkan, bagaimana proses pemerahan dilakukan, dan berapa lama ASI disimpan. Karena kandungan lemak juga dapat berubah selama satu sesi menyusui, tampilan ASI saja tidak dapat digunakan untuk menilai kualitas nutrisinya.

Penelitian tentang variasi lipid ASI justru menunjukkan bahwa komposisinya sangat dinamis dan dipengaruhi oleh banyak faktor.

Jadi, Bunda tidak perlu langsung khawatir ketika melihat ASI tampak lebih encer dibandingkan hasil pumping lainnya. Jika bayi tumbuh dan berkembang dengan baik serta menyusu secara efektif, perubahan tampilan ASI umumnya bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda