MOM'S LIFE

Saat 'Dikejar Umur' Jadi Alasan Berumah Tangga

Radian Nyi Sukmasari 25 Okt 2017
Ilustrasi menikah/ Foto: Thinkstock Ilustrasi menikah/ Foto: Thinkstock
Jakarta - Apa alasan seseorang berumah tangga? Cinta, sudah cocok sama pasangan, atau sudah siap mental bisa jadi jawabannya. Tapi, gimana kalau rumah tangga dibangun karena 'dikejar umur'? Dalam hal ini, karena dianggap sudah waktunya, di umur tertentu pun seseorang diburu-buru untuk menikah.

Ketika akhirnya pria atau wanita menikah karena 'dikejar umur', apa yang bisa terjadi pada rumah tangganya kelak? Psikolog klinis dewasa Pingkan Rumondor bilang nantinya orang tersebut akan menikah bukan karena dia mau, Bun.

Padahal, tanggung jawab pernikahan kan banyak banget ya dan itu harus dilakukan dengan kesadaran bahwa 'Ya, saya mau dan saya mau berusaha. Kalaupun belum punya skillnya, saya mau belajar'. Nah, ketika hal itu nggak ada, pernikahan pun akan dijalani sebagai formalitas.

"Akibatnya apa? Di satu titik dia akan merasa 'Saya udah nggak pengen nih melakukan ini, ortu juga udah nggal ada buat apa saya menikah,'. Jadinya, bisa bercerai," kata Pingkan ditemui usai Media Gathering 'Problematika Keluarga Berencana dan Solusinya' yang digelar Gerakan Kesehatan Ibu dan Anak (GKIA) di Crematology, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (24/10/2017).

Baca juga: 5 Bahasa Cinta yang Perlu Banget Diketahui Pasangan Suami Istri

Atau, bisa saja pasangan hidup satu rumah tapi sebenarnya sendiri-sendiri. Ya, nggak ada komunikasi, interaksi, apalagi kehangatan di antara keduanya. Berdasarkan pengalaman Pingkan, dalam kasus kehidupan rumah tangga seperti itu, di satu titik seseorang akan mengaku kalau alasan dia menikahi pasangannya karena demi menyenangkan orang tua walaupun dia sendiri sadar nggak menyukai pasangannya.

"Ketika dia konseling, biasanya kita akan tanya dulu alasannya apa pas menikah. Oke, kalau jawabannya menyenangkan orang tua, saat dia mau cerai, orang tuanya senang nggak? Nggak juga kan. Kalau gitu gimana kalau kita perbaiki," tambah wanita yang juga mengajar di Bina Nusantara University ini.

"Kita bantu dia untuk memperbaiki. Pilihannya dalam situasi seperti itu kalau nggak cerai ya kita memperbaiki. Nah, dalam konseling ada step-stepnya untuk memperbaiki rumah tangganya," pungkas Pingkan.

Baca juga: Bagi-bagi Tugas Urus Anak ala Putri Titian dan sang Suami

Ya, pernikahan yang kita bangun bersama suami, sebaiknya punya pondasi yang kuat ya, Bun. Bukan berdasar 'dikejar umur' atau menyenangkan orang tua saja. Karena bagaimanapun kitalah yang akan menjalani pernikahan ini. Semoga kehidupan pernikahan kita semua selalu bahagia ya, Bun. (rdn/vit)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi