MOM'S LIFE

Saat Terlintas Hasrat Selingkuh, Ingatlah Anak Kita di Rumah...

Nurvita Indarini Rabu, 22 Nov 2017 - 15.00 WIB
Ilustrasi anak sedih karena orang tua selingkuh/ Foto: thinkstock Ilustrasi anak sedih karena orang tua selingkuh/ Foto: thinkstock
Jakarta - Bun, belakangan istilah pelakor alias perebut laki orang lagi ramai dibicarakan ya. Ini dikaitkan dengan kasus yang melibatkan selebriti Jennifer Dunn yang dicap pelakor. Soal pelakor ini lantas jadi obrolan saya dan suami.

"Bagiku kesalahan apapun akan kucoba untuk kumaafkan, tapi tidak untuk perselingkuhan..." ucap saya yang diamini juga oleh suami. Rasanya sulit banget deh bagi kami kalau pasangannya melabuhkan hatinya pada orang lain dan sama sekali tidak memikirkan keluarga.

Apalagi kalau suami selingkuh dan sampai berhubungan badan dengan perempuan selingkuhannya. Amit-amit. Rasanya akan semakin sulit untuk memaafkan kesalahannya. Saya dan suami sepakat perselingkuhan menunjukkan keegoisan seseorang.

"Ya, mungkin ada kalanya merasa bosan. Tapi kalau tiap bosan terus selingkuh ya nggak bijak juga sih. Mendingan dibicarakan bersama apa sih yang bisa bikin kita berdua nggak bosan," timpal suami saya.

Di luar sana mungkin ada banyak orang yang terlihat jauh lebih baik dari pasangan kita, tapi benarkah demikian? Nggak selalu. Apalagi rumah tangga adalah soal komitmen. Rumah tangga bukan sekadar menjalani hal-hal yang senang saja, tapi bagaimana suami dan istri kompak mengatasi hal yang nggak menyenangkan. Bagaimana menurut Bunda?

Pakar hubungan percintaan dan konselor perkawinan, Kate Figes, sudah bertahun-tahun nih, Bun, berbicara soal perselingkuhan. Kate bilang banyak orang tua modern yang sadar bahwa untuk tumbuh dan berkembang, anak-anak membutuhkan cukup tidur, makanan yang bebas dari zat aditif, stimulasi melalui mainan, pendidikan, olahraga, musik, dan aktivitas di sekolah.

Namun, seringkali, orang tua gagal memberikan apa yang paling dibutuhkan oleh anak-anaknya. Apa yang paling anak butuhkan? Bukan limpahan materi, tapi hubungan yang konstruktif dan penuh kasih antara kedua orang tuanya. Karena ketika hubungan kedua orang tuanya sehat dan konstruktif, maka bisa menciptakan lingkungan yang nyaman bagi anak untuk tumbuh dan berkembang. Demikian dikutip dari Daily Mail.



Sementara itu, Jean Duncombe, sosiolog yang melakukan penelitian ekstensif tentang masalah ini menuturkan beberapa orang berselingkuh, menjalin hubungan dengan orang lain secara diam-diam karena berpikir perceraian bisa berdampak pada anak-anaknya. Demikian dikutip dari Huffington Post.

Ketika seseorang yang berselingkuh bilang anak-anak tidak tahu apa yang dilakukannya, Jean akan mengatakan, "Apakah Anda yakin. Pikirkan tentang dampak dari yang Anda lakukan pada anak-anak,".

Ya, saya sepakat dengan Jean. Bahwa perselingkuhan membuat seseorang tidak hanya berbohong pada pasangannya, tapi juga menipu diri sendiri terkait dampak perselingkuhan pada dirinya dan juga anak-anaknya.

Kate menambahkan ketika perselingkuhan diketahui, itu sama sekali nggak gampang lho. Kedua orang tua merasa sangat cemas, marah, dan bahkan merasa trauma. Ini karena mereka nggak punya cukup kekuatan untuk menghadapi banyaknya tekanan, terutama dari anak.

Penjelasan pada anaknya pun biasanya sangat minim. Nah, kalau anaknya sudah cukup besar biasanya jadi sulit untuk percaya dan menghormati ayah atau ibunya yang telah melakukan kebohongan.



Seorang ibu bahkan pernah bercerita akibat perselingkuhan yang dilakukan sang suami sampai akhirnya berujung perceraian di usia anak yang belia, nyatanya memberikan dampak sampai dewasa. Rupanya sang anak ingat benar bagaimana ibunya menangis berhari-hari meratapi nasib saat tahu ayahnya berselingkuh. Ketika sudah dewasa, si anak pun takut untuk berumah tangga.

Dampak untuk Anak di Bawah 5 Tahun

Ketika salah satu orang tua selingkuh dan ketahuan, bisa jadi akan timbul ketegangan di rumah. Dampaknya, baik ayah atau ibu akan sama-sama menarik diri dan perhatian ke anaknya pun jadi berkurang.

Emosi orang tua yang membuncah akan berdampak pada kecemasan anak, nggak heran kalau mereka jadi lebih rewel. Padahal di usia di bawah lima tahun, umumnya anak-anak butuh rasa nyaman dari orang tua yang diwujudkan dalam bentuk kontak mata, pelukan, dan perhatian.

Di usia ini anak jadi banyak menangis karena orang tua tidak bisa merespons dengan baik apa yang mereka butuhkan. Bahkan untuk anak yang umurnya di bawah tiga tahun, bisa jadi lebih banyak menangis. Dampak lainnya adalah kecemasan pada anak, lalu saat dewasa mereka bisa saja punya masalah dalam menjalin hubungan percintaan.

Dampak untuk Anak 5-10 Tahun

Anak-anak yang berusia di atas lima tahun cenderung berpikir mereka telah menyebabkan masalah bagi orang tuanya. Ketakutan terbesar mereka adalah saat mendengar orang tuanya bertengkar dan kemudian mendapati orang tuanya akan berpisah.

Akibat ketakutan-ketakutan itu, anak-anak bisa sering mengalami mimpi buruk. Nggak cuma itu, bisa jadi anak-anak mengalami gangguan perilaku di sekolah serta perilaku regresif lainnya.

Hiks, dampaknya nggak sepele ya buat anak kalau kita selingkuh. Jadi kalau suatu saat terlintas di benak kita untuk selingkuh, yuk kita ingat baik-baik ada anak-anak di rumah.

(vit/rdn)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi