MOM'S LIFE

Komentar 'Jleb' yang Bisa Bikin Bunda Merasa Dinyinyiri

Radian Nyi Sukmasari 21 Feb 2018
Komentar Jleb yang Bisa Bikin Bunda Merasa Dinyinyiri/ Foto: Thinkstock Komentar 'Jleb' yang Bisa Bikin Bunda Merasa Dinyinyiri/ Foto: Thinkstock
Jakarta - Dalam hidup ini nggak bisa dipungkiri kalau beragam komentar bisa mampir di telinga terkait apa yang kita lakukan. Termasuk buat para bunda, masalah anak dan rumah tangga sering banget nih mengundang komentar yang kadang kala terdengar jleb dan bikin kita merasa dinyinyirin.

Nah, Bun, dirangkum HaiBunda berikut ini komentar-komentar seputar kehidupan para bunda yang bisa terdengar jleb dan membuat kita merasa dinyinyiri. Simak yuk, siapa tahu komentar-komentar ini juga sering Bunda dengar.

1. Umur 1 Tahun Anakmu Belum Ngomong? Kalau anakku Sih Udah...

Yap, komentar soal tumbuh kembang anak kita sering banget nih mampir ke telinga, Bun. Misalnya, anak kita udah umur 1 tahun dan kebetulan belum bisa ngomong. Terus, ada anak tetangga atau bahkan kerabat yang kebetulan di umur 1 tahun udah lancar ngomong. Jadilah anak kita dibanding-bandingkan. Padahal, tahap tumbuh kembang masing-masing anak kan beda ya?

Menurut Dr dr Hartono Gunardi SpA(K) dari RS Cipto Mangunkusumo, memang melihat pertumbuhan anak saudara atau tetangga yang seumuran dengan anak kita adalah cara yang paling mudah untuk tahu apakah tumbuh kembang anak kita normal atau nggak. Tapi, akan lebih baik kalau kita rutin periksakan anak ke posyandu sehingga bisa terpantau tuh, Bun, tumbuh kembang anak sesuai grafik atau nggak.

"Lalu rajin mengisi formulir Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP). Formulir ini perlu diisi sejak anak berumur 3-72 bulan untuk mengetahui normal ataukah ada penyimpangan pada tumbuh kembang anak," kata dr Hartono.

2. Kamu Sih Ndidik Anakmu Nggak Benar

Komentar 'Jleb' yang Bisa Bikin Bunda Merasa DinyinyiriKomentar 'Jleb' yang Bisa Bikin Bunda Merasa Dinyinyiri /Foto: Thinkstock


Kali ini terkait pola asuh. Bagaimana cara kita mengasuh anak serta mendidiknya kadang nggak lepas dari komentar orang lain. Kalau kata psikolog anak Fathya Artha Utami, mengkritik pola asuh yang diterapkan orang tua lain adalah hal yang sensitif. Ya, soalnya orang tua itu langsung merasa disalahkan, Bun.

"Kalau memang ada perilaku si anak yang kita rasa sudah merugikan, nggak apa-apa kita bicarakan ke orang tuanya tapi jabarkan aja faktanya. Nggak perlu menyinggung cara si orang tua mengasuh anaknya. Atau, kita bisa libatkan pihak lain, dalam hal ini sekolah," kata Fathya.

Kenapa sih soal pola asuh sering dijadikan bahan nyinyiran? Kata sosiolog dari New York University, Kathleen Gerson, hampir semua orang punya pengalaman soal parenting. Walau mereka belum merasakannya secara langsung, tapi observasi udah dilakukan, Bun.

"Di sisi lain, kita semua merasa ahli dalam bidang itu dan di sisi lain, kita sebenarnya juga nggak yakin dengan ini. Nah, inilah yang jadi 'resep' timbulnya konflik dan ketidaksetujuan atas pola asuh yang dilakukan orang lain," kata Kathleen.

Padahal, psikolog dari Loyola University Amy Bohnert bilang nggak ada satu formula pasti yang bisa bekerja untuk semua anak karena masing-masing anak unik. Prinsipnya, kata Amy perlakukan anak dengan penuh kehangatan dan pastikan kebutuhannya bisa dipenuhi orang tua sehingga mereka bisa nyaman sama orang tuanya.

3. Kalau Kamu Kerja, Anak Gimana?

Pertanyaan yang bisa terdengar nyinyir ini umumnya mampir di telinga ketika ibu memutuskan bekerja setelah punya anak. Padahal, seperti kata psikolog keluarga dari Tiga Generasi Anna Surti Ariani yang akrab disapa Nina, keputusan seorang ibu lanjut bekerja atau memutuskan berhenti bekerja setelah punya anak pastinya sudah dengan berbagai pertimbangan. Pertimbangan ini pastinya sudah dibicarakan dengan suami. Jadi, akan lebih bijak kalau kita menghargai keputusan masing-masing pasangan termasuk apakah si istri bekerja atau tidak setelah punya momongan.

4. Udah Nggak Kerja? Enak Dong di Rumah Aja

Serba salah nih, Bun. Kita bekerja, dikomentari, nggak bekerja alias jadi ibu yang tinggal di rumah, dikomentarin juga ya. He-he-he. Nina menekankan, apapun keputusan seorang ibu apakah dia akan di rumah setelah punya anak atau bekerja pasti sudah dipikirkan konsekuensinya matang-matang kok oleh si ibu juga pasangannya.

"Kadang kala cara terbaik untuk mengatasi komentar bahka nyinyiran orang tentang hidup kita adalah nggak menggubrisnya. Jadi, cuekin aja," kata Nina.



5. Kamu Lahirannya Caesar atau Normal? Kalau Aku Dulu...

Komentar 'Jleb' yang Bisa Bikin Bunda Merasa DinyinyiriKomentar 'Jleb' yang Bisa Bikin Bunda Merasa Dinyinyiri/ Foto: Thinkstock


Saat si kecil lahir, pertanyaan semacam ini kayaknya lumrah banget ditujukan ke para ibu. Lahiran caesar atau normal seakan jadi sesuatu yang penting banget buat diketahui tapi belum tentu dengan tujuan yang baik. Seperti kata Nina, kalau bertanya apa prosedur melahirkan kita bertujuan menyesuaikan bantuan yang akan diberi ke ibu, itu nggak masalah. Tapi, kalau prosedur lahiran kita cuma jadi bahan perbincangan, itu yang bikin kesal deh. Setuju nggak, Bun?

"Masing-masing anak punya caranya tersendiri untuk lahir ke dunia. Apapun prosedur persalinan kita, syukurilah karena kita sudah jadi perantara hadirnya si kecil ke dunia. Memang kadang lahiran normal diidentikkan dengan ibu sejati, tapi ini nggak lepas dari pemahaman yang dimiliki masyarakat yang nyatanya nggak selalu benar," kata Nina.

6. Liburan Nggak ke Mana-mana? Kerja Mulu Ya...

Komentar 'Jleb' yang Bisa Bikin Bunda Merasa DinyinyiriKomentar 'Jleb' yang Bisa Bikin Bunda Merasa Dinyinyiri/ Foto: Thinkstock


Apa yang dilakukan keluarga kita pun kadang nggak lepas dari komentar orang lain nih, Bun. Misalnya lagi long weekend tapi nyatanya keluarga kita nggak ke mana-mana. Atau sebaliknya, saat kita sering keluar rumah di hari libur, bisa aja ada komentar 'jalan-jalan mulu nih'. Padahal, si pemberi komentar nggak tahu juga kan apa yang kita lakukan? He-he-he. Saya sendiri suka berpikir apa memang orang-orang usil atau hobinya mengomentari hidup orang lain ya?

Waktu ngobrol dengan Nina, dia menyampaikan kalau kadang seseorang hanya perlu berbasa-basi. Nah, karena nggak ada topik yang bisa dibicarakan alhasil apa yang kita lakukan pun dijadikan bahan basa-basi olehnya. Biasanya, orang yang hanya basa-basi atau usil hanya sekadar mengomentari apa yang kita lakukan dan berlalu. Kalau kata Nina, cara terbaik menghadapi situasi kayak gini adalah tersenyum dan berusaha nggak ambil pusing dengan komentar tersebut.

Kalau Bunda, biasanya sering dengar komentar apa sih yang lama-lama rasanya kok kayak kita dinyinyiri? Yuk berbagi apa yang pernah Bunda alami di kolom komentar.


(rdn/vit)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi