MOM'S LIFE

Sempat Salah Diagnosis, Ibu Ini Meninggal karena Kanker Serviks

Melly Febrida 10 Mei 2018
Sempat Salah Diagnosis, Ibu Ini Meninggal karena Kanker Serviks/ Foto: Facebook Louise Gleadell Sempat Salah Diagnosis, Ibu Ini Meninggal karena Kanker Serviks/ Foto: Facebook Louise Gleadell
Leicester - Jika terdeteksi di tahap awal, biasanya pasien kanker serviks bisa diselamatkan. Nah, kanker serviks yang dialami Louise Gleadell, seorang ibu tiga anak ini, didiagnosis ketika sudah parah. Ini bukan karena Louise mengabaikan gejalanya, tapi dokter menduga gejala yang dialami merupakan efek dari menyusui.

Louise meninggal dua tahun setelah berjuang melawan kanker serviksnya. Perempuan berusia 38 tahun itu meninggal pada 1 April 2018 lalu.

Ceritanya begini, Bun, beberapa tahun lalu Louise ke dokter karena merasa ada yang tidak beres dengan dirinya. Adik Louise, Clare Gleadell, bilang kakaknya mengunjungi dokter beberapa kali selama beberapa bulan. Tapi dokter menolak melakukan tes malah menyangkanya hal tersebut karena efek samping dari melahirkan. Selain itu Louise menyusui putranya.

"Akhirnya setelah scan pribadi, dia didiagnosis dan melanjutkan dengan kemo dan terapi radio," kata Clare.



Setelah diagnosisnya, Louise berbagi tentang pengobatannya secara rutin di media sosial. Ia memperkenalkan dirinya sebagai "Louise, seorang ibu berusia 37 tahun dengan tiga putra yang ganteng-ganteng".

12 Minggu setelah pengobatan kanker, Louise kemudian melihat ada benjolan di leher yang merupakan pertanda kankernya telah menyebar. Dokter yang awalnya mengatakan kankernya dapat disembuhkan, lantas menyadari mereka hanya bisa menawarkan perawatan paliatif.

"Saya meninggalkan rumah sakit dengan bertekad melakukan apa yang saya bisa untuk melawan ini dan bersama anak-anak saya selama saya bisa," tulis Louis di media sosialnya.

Salah Diagnosis, Ibu Ini Meninggal karena Kanker Serviks/Salah Diagnosis, Ibu Ini Meninggal karena Kanker Serviks/ Foto: ilustrasi/thinkstock


Seiring berjalannya waktu, sharing perawatan kankernya menjadi lebih memilukan, Bun. Pada bulan Desember, Louise berbagi pesan dengan foto bertuliskan catatan dari putranya yang mengatakan, "Untuk mama dengan Natal yang luar biasa dan terima kasih telah berjuang untuk kami..."

Semangar Louise terpacu karena putra-putranya Bun. Ia terus bertempur melawan kanker yang dialaminya. Ketiga anaknya itu yang membuatnya ingin terus hidup meski tubuhnya sudah tak berdaya, tak bisa melakukan apa yang diinginkan.

"Ketika rasa sakit mengisi tubuh Anda setiap hari, sulit untuk tetap fokus dan melanjutkan," ucap Louise.



Hingga akhirnya keluarganya mengumumkan Louise telah meninggal. "Louise kami yang cantik meninggal dengan damai pada hari Sabtu pagi dikelilingi oleh cinta. Kami sangat berterima kasih atas semua cinta dan dukungan yang Anda berikan kepada kami selama 2 tahun terakhir," ujar keluarga.

"Louise tidak pernah menyerah dalam pertarungan itu. Dia melakukan semua yang dia bisa lakukan di sini selama mungkin untuk ketiga putranya. Dia damai sekarang, dan bebas dari semua rasa sakit dan penderitaan," sambung keluarga, dikutip dari Health.

Pencegahan Kanker Serviks dengan Deteksi Dini

Deteksi dini kanker bisa dilakukan dengan Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) ataupun pap smear. Sebenarnya caranya cukup mudah, namun masih ada ibu-ibu yang enggan melakukannya. Alasannya beragam mulai dari malu sampai takut kalau ketahuan ada penyakitnya.



dr Antony Atmadja, SpOG dari RS Mitra Keluarga Bekasi beberapa waktu lalu menuturkan papsmear dan IVA merupakan upaya mendeteksi sel abnormal, lesi pra-kanker dan kanker serviks. Nah, kegiatan ini memang disarankan dilakukan oleh perempuan yang sudah aktif secara seksual.

"Kalau rutin deteksi dini, akan semakin cepat ketahuan misalnya ada human papillomavirus (HPV-nya) yang mengarah ke kanker atau tidak. Semakin cepat dikendalikan maka akan semakin baik dan lebih cepat sembuh sampai 100 persen," terang dr Antony.

Kanker serviks sendiri sebenarnya adalah jenis kanker yang bisa dicegah melalui vaksinasi. Tapi vaksinasi saja tidak 100 persen bisa mencegah dari kanker serviks. Alasannya vaksin yang ada adalah untuk virus HPV tipe 16 dan tipe 18. Perlu Bunda tahu, kedua tipe ini bersama-sama menyebabkan 87,6 persen kasus di Indonesia. Sementara itu, masih ada 38 tipe virus HPV lainnya.

Selain melakukan vaksinasi dan deteksi dini, kita juga harus menjaga gaya hidup. Misalnya adalah dengan tidak berganti-ganti pasangan. Jika pasangan ditengarai memiliki HPV, untuk mencegah penularan, saat berhubungan intim hendaknya mengenakan kondom. (vit/vit)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi