MOM'S LIFE

Saat Suami-Istri Beda Pendapat tentang Rencana Punya Anak

Asri Ediyati 22 Mei 2018
Solusi Selisih Pendapat Suami Istri tentang Rencana Punya Anak/ Foto: Thinkstock Solusi Selisih Pendapat Suami Istri tentang Rencana Punya Anak/ Foto: Thinkstock
Jakarta - Beda pendapat antara suami dan istri bisa terkait berbagai hal, salah satunya rencana punya anak. Ini bisa dipengaruhi keinginan pribadi suami atau istri, namun bisa juga desakan dari pihak keluarga besar. Bagaimana solusinya?

"Biasanya perbedaan pendapat itu kan masing-masing punya sebuah pertimbangan tersendiri terkait dengan harapan keluarga besarnya ataupun harapan pribadinya. Namun, yang terbaik adalah cari titik temu," tutur psikolog Febria Indra Hastati dari Brawijaya Clinic kepada HaiBunda.

Kata Febria, bagus banget kalau suami istri bisa saling bicara tentang keinginannya ini. Tapi kalau itu dirasa sulit, Febria menyarankan suami istri bertemu orang yang netral, misalnya psikolog atau konselor. Sehingga, mereka bisa mengemukakan pendapatnya secara asertif.

"Karena biasanya kalau suami sudah ketemu istri nantinya ada rasa enggan atau rasa canggung yang membuat mereka nggak mengeluarkan semua apa yang menjadi pertimbangan utamanya kemudian hanya perbedaan pendapat saja yang muncul," kata Febria.



Kalau dibantu oleh pihak psikolog misalnya, dalam melakukan sebuah konseling atau terapi maka masing-masing diberikan kesempatan yang sama untuk mengemukakan pendapatnya. Dengan begitu, masing-masing pihak bisa saling menilai, mendengar, mengukur, dan menimbang.

"Sehingga diharapkan akan menciptakan suatu pemahaman baru bahwa ternyata suami menghendaki seperti itu karena memiliki alasan kekhawatiran sendiri dan istri punya alasan kekhawatiran lain," lanjut Febria.

Jika pasangan suami istri saling berempati tentang kekhawatiran dan kebutuhannya, bisa ada kesimpulan dan kesepakatan baru, Bun. Kata Febria, terkadang istri kalau kehabisan argumen saat mengemukakan pendapat ke suami, peran psikolog bisa membantu suami untuk sadar apakah keinginannya realistis atau nggak.

"Pertama kita harus melihat risiko yang dihadapi istri, kondisi kesehatan istri, lalu jika hanya ingin mengabulkan permintaan keluarga besar lalu suami istri itu manjakan anaknya bukankah ini menjadi suatu bumerang bagi pasangan suami istri? Nah, sebaliknya jika anak yang lahir nggak sesuai gender yang diharapkan misalnya, dikhawatirkan akan ada diskriminasi pada anak ini," ujar Febria.

Dengan meminta bantuan profesional untuk mencari titik temu, diharapkan nantinya si profesional bisa memberi perspektif lebih ke suami. Misalnya kita memiliki anak bukan berdasarkan gender namun kualitas, jadi sekiranya suami bisa menerima itu.

Memang sampai sekarang nggak bisa dipungkiri kalau masih ada pasangan yang memilih gender sang anak. Febria menyarankan jika memang ingin jalan yang terbaik, konsultasi ke profesional nggak hanya dengan pasangan tapi juga anggota keluarga lain misalnya kakak atau orang tua.

"Siapa tahu sebenarnya dari pihak keluarganya nggak masalah, suaminya saja yang memiliki keinginan," tutup Febria.

(rdn/vit)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi