MOM'S LIFE

Pesan Ibu yang Anaknya Kena Croup untuk Ortu dan Masyarakat

Radian Nyi Sukmasari Senin, 29 Okt 2018 - 19.33 WIB
Ilustrasi anak sakit croup/ Foto: Thinkstock Ilustrasi anak sakit croup/ Foto: Thinkstock
Jakarta - Bunda bernama Jihan Juniantari punya pengalaman ketika sang anak yang berusia 8 bulan, Eimar, mengalami salah satu jenis infeksi saluran napas, croup. Berangkat dari sakit yang dialami Eimar, Jihan punya pesan untuk para orang tua dan masyarakat.

Jadi, Eimar kerap diajak bundanya ke tempat umum, Bun. Nggak jarang orang-orang gemas pada Eimar terlebih bocah itu memang ramah dan murah senyum. Apalagi, bisa dibilang di tempat umum segala virus dan bakteri berkumpul. Saat imunitas seorang anak seperti Eimar rendah, bukan nggak mungkin mereka lebih rentan terinfeksi berbagai virus dan bakteri.

Diakui Jihan, dirinya dan sang suami memang nggak ingin terlalu protektif pada si kecil supaya daya tahan tubuhnya bagus. Suatu hari, Eimar didiagnosis croup yang memengaruhi saluran napasnya. Croup yang dialami Eimar bikin napas bocah itu grok-grok dan demam. Tapi kini, kondisi Eimar sudah membaik.



"Aku sempat ngobrol sama dokter dan dokter langsung tanya Eimar sering ada di ruangan ber-AC ya. Memang iya, makanya, sekarang aku siasati di malam hari AC nggak nyala nonstop. Aku matikan tiap dua sampai tiga jam sekali," kata Jihan waktu ngobrol dengan HaiBunda.

Ilustrasi anak kena croupIlustrasi anak kena croup/ Foto: Thinkstock
Karpet dan boneka berbulu pun disingkirkan Jihan karena kebetulan Eimar punya bakat alergi karena ada riwayat alergi di keluarga. Jika biasanya Jihan mengganti seprai tiap seminggu sekali, sekarang kalau dirasa seprainya sudah nggak nyaman dipakai Jihan langsung menggantinya.

Nggak cuma itu, untuk mencegah infeksi virus dan bakteri yang mudah ditemui di tempat umum, Jihan lebih mengatur waktu dia pergi ke tempat umum misalnya mal. Sebisa mungkin, Jihan mengajak Eimar ke mal di luar jam-jam ramai. Atau, Jihan lebih memilih pergi ke mal yang nggak terlalu ramai.

"Sekarang juga aku kalau ketemu orang nggak terlalu seramah dulu ya. Bukannya sombong atau gimana tapi kan kita nggak tahu ya orang lain bakal sejauh apa saat interaksi sama anak kita. Intinya sekarang lebih hati-hatilah ya," tutur Jihan.

Wanita 27 tahun ini pun berharap masyarakat lebih peduli dengan kesehatan para bayi yang notabene daya tahan tubuhnya masih lemah dan rentan sakit. Artinya, ketika orang dewasa tahu sedang sakit, sebisa mungkin nggak dekat-dekat dengan bayi. Jangan lupa, jika dari luar rumah dan bertemu anak, cuci tangan dulu sebelum kontak dengan si kecil.

"Tolonglah pokoknya sama anak, sesayang-sayangnya kita sama keponakan atau anak anggota keluarga lain, kalau gemas kan bisa ditunjukkan dengan cara lain. Nggak harus dengan cium-cium gimana gitu. Kalau kita gemas kan bisa uyel-uyel kakinya misalkan. Kalau orang tua si anak minta untuk cuci tangan dulu sebelum kontak sama anak mereka juga jangan tersinggung, ini demi kebaikan si anak kok," tambah Jihan.



Selain itu, Jihan juga punya pesan untuk para orang tua supaya nggak memaksakan kehendak. Misalnya, kita menyadari bahwa anak memang ringkih. Sehingga, anak nggak bisa dipaksa 'Nggak apa-apa mereka diajak ke sana ke mari, pasti kuat kok'.

"Pokoknya kita nggak boleh maksain kehendak. Kadang orang tua kan melihat anak nggak apa-apa dari luar tapi kita nggak tahu mungkin kondisi anak di dalam tubuhnya lagi nggak oke," tutup Jihan. (rdn/nwy)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi