MOM'S LIFE

Ingin Marah ke Anak? Coba Tahan dengan Lakukan Teknik 'Peter'

Melly Febrida Jumat, 15 Mar 2019 - 13.56 WIB
Ilustrasi ibu hendak marah/ Foto: iStock Ilustrasi ibu hendak marah/ Foto: iStock
Jakarta - Siapa yang mau jadi ibu galak? Anak-anak malah jadi takut kalau kita marah-marah terus. Hiks. Untuk menghindari hal tersebut, ketika timbul keinginan marah-marah, Bunda bisa mencoba menerapkan teknik 'Peter' nih.

Ahli Gentle Parenting Sarah Ockwell-Smith termasuk yang mempraktikkan teknik ini. Katanya, kemarahan orang tua sering kali memunculkan respons berupa tindakan yang tak adil atau tidak beralasan terhadap anak.

"Tapi, teknik 'Peter' ini membantu ketika saya kesulitan menghadapi situasi tersebut," ujarnya. Dalam bukunya The Gentle Discipline, Ockwell-Smith menjelaskan 'Peter' adalah:

P atau Pause alias jeda yakni tidak langsung bereaksi
E atau Empathise yakni berempati dengan memahami bagaimana perasaan dan sudut pandang anak
T atau Think, yakni memikirkan cara yang berbeda dalam merespons dan belajar dari hasilnya.
E atau Exhale adalah buang napas. Ketika Bunda sudah tak sabar, coba tarik napas dalam-dalam, relakskan bahu dan bayangkan kemarahan meninggalkan tubuh Bunda.
R atau Response adalah menanggapi atau merespons perbuatan anak.



Selain teknik 'Peter', kata Ockwell-Smith, ketika kita kehabisan kesabaran sebenarnya ada banyak tips mengatasinya, seperti:

1. Pakai pita

"Kenakan lima pita merah di pergelangan tangan kanan. Setiap kali Anda mengatasi amarah ketika merespons anak, pindahkan sebuah pita ke tangan kiri. Tujuannya, supaya kelima pita berada di sebelah kiri pada akhir hari," katanya.

Ilustrasi ingin marah ke anakIlustrasi ingin marah ke anak/ Foto: Dok. iStock
2. Membayangkan sesuatu yang indah

"Tutup mata dan bayangkan diri kita berada di tempat favorit misalnya di pantai, hutan, atau gunung. Lepaskan seakan diri Anda berada di sana satu atau dua menit yang merupakan saat Anda paling membutuhkan kedamaian," papar dia.

3. Membayangkan seseorang yang tenang

Untuk cara ini, Ockwell-Smith mengajak Bunda membayangkan seseorang yang selalu tampak tenang dan keren. Kemudian, bayangkan Bunda melangkah masuk ke dalam tubuh mereka dan memakainya sebagai jas.

"Rasakan betapa tenangnya mereka dan biarkan kedamaian meresap ke dalam tubuh Anda. Pikirkan tentang bagaimana mereka mungkin merespons situasi yang memicu kemarahan," tutur Ockwell-Smith.

[Gambas:Instagram]



4. Telepon teman

Ockwell-Smith bilang, cobalah menelepon teman atau melakukan percakapan dalam grup, tentunya bersama orang-orang yang pola pikirnya mirip dengan Bunda.

5. Time out orang tua

Enggak hanya anak, orang tua juga butuh time out. Ockwell-Smith menyarankan, jika semuanya gagal, pastikan anak aman di ruang yang aman dan Bunda di ruangan lain untuk menenangkan diri selama beberapa menit.



Terkait marah-marah pada anak, Matt Woolgar dari Insitute of Psychiatry, Psychology, & Neuroscience di King's College London mengatakan, komentar orang tua ke anak saat marah bisa mempngaruhi anak.

"Anda bisa mengatakan hal-hal yang dapat menyakiti seorang anak dan berakibat terhadap perkembangan konsep diri mereka. Namun, Anda tidak akan mengatakan hal yang akan melukai anak secara neurobiologis," katanya.

Menurut Woolgar, satu atau dua orang saudara mungkin bisa menerima komentar yang dilempar orang tua mereka. Tapi, saudara lainnya bisa saja merasa komentar tersebut sangat menyakitkan dan berada di bawah pertahanan dirinya.

Namun, Woolgar mengatakan, respons tersebut belum tentu negatif. Sebaliknya, dapat membuat anak menerima hal-hal positif orang tua. "Kenyataannya adalah, menjadi sensitif dapat berarti seorang anak juga cukup responsif terhadap hal-hal positif," katanya mengutip CNN Indonesia.

[Gambas:Video 20detik]

(rdn/rdn)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi