Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

moms-life

Saat Kesal, Jangan Menjelek-jelekkan Pasangan di Depan Anak Ya

Radian Nyi Sukmasari   |   HaiBunda

Sabtu, 28 Oct 2017 16:00 WIB

Karena saking kesalnya sama pasangan, kadang kita nggak sadar menjelekkannya di depan anak-anak.
Ilustrasi pasangan bertengkar/ Foto: Thinkstock
Jakarta - Pernah kesal sama pasangan, Bun? Nah, kadang kala karena saking sebalnya sama si ayah, kita pun menjelekkan dia di depan anak. Bunda pernah melakukan ini?

Sahabat HaiBunda, Lala, mengaku dia beberapa kali menjelek-jelekkan suaminya ketika sedang kesal luar biasa sama sang suami di depan si kecil. Kata Lala, dua anaknya yang masih duduk di bangku SD hanya diam saja.

"Saya sih bilangnya 'Ya begitu deh ayah kamu, udah tahu Bunda lagi repot gini nggak perhatian banget, nggak ada perasaannya bantuin kek gimana gitu,'. Kalimat itu keluar gitu aja. Saya nggak sadar kayak lagi ngomel aja," kata Lala.

Siapa di sini Bunda yang pernah melakukan hal sama kayak Lala? Nah, kita perlu tahu, Bun, sebetulnya ada efek ketika kita menjelekkan pasangan di depan anak gara-gara kita kesal sama pasangan. Misalnya kayak yang terjadi sama Lala atau saat kita kesal sama pasangan, alhasil kita kata-katai pasangan di depan anak.

Baca juga: Gemas! Ekspresi Kesal Bayi 9 Bulan Saat Tak Bisa Buka Laci Dapur

Psikolog keluarga dari Tiga Generasi, Anna Surti Ariani atau akrab disapa Nina bilang saat salah satu orang tua dijelek-jelekkan, anak akan menganggap sebagian asal dirinya itu buruk, Bun. Akibatnya, anak punya konsep diri yang kemudian jadi cenderung lebih negatif.

"Terlebih kalau sampai pertengkaran itu membuat si bunda dan ayahnya berpisah, kita perlu tetap sampaikan bahwa orang tua kamu baik cuma kami memang tidak ingin atau tidak bisa lagi bersama," kata Nina waktu ngobrol sama HaiBunda.

Berdasarkan pengalaman Nina, dari kasus yang sering dia temui, ketika salah satu pasangan sedang marah, ia pun melampiaskan amarahnya kepada si pasangan ke anaknya. Bahkan, sebutan yang seharusnya nggak didengar pun sampai ke telinga anak.

Psikilog klinis dewasa dari Tiga Generasi, Anna Dauhan bilang ketika kita kesal dengan pasangan dan merasa amarah sudah di ubun-ubun, kita bisa kok, Bun, menyingkir sejenak untuk 'mengambil napas' lebih dulu dan menenangkan diri. Dengan menyendiri sejenak, kita juga nggak melampiaskannya ke anak.

"Kalau marah dan kesal yang dirasakan intens, alihkan perhatian dari rasa marah dengan memikirkan hal lain, hal-hal yang menyenangkan, atau hal-hal yang memaksa kita untuk berpikir keras sehingga mengalihkan fokus perhatian dari hal yang membuat marah tadi," kata Anna.

Baca juga: Kenapa ya Saat Takut Anak Terluka, Kita Malah Jadi Marah?

(rdn)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda