mom-life

'Putriku Tiada Lalu Aku Bangkit dan Membahagiakan Anak-anak Lain'

Radian Nyi Sukmasari Senin, 18 Dec 2017 13:00 WIB
'Putriku Tiada Lalu Aku Bangkit dan Membahagiakan Anak-anak Lain'
Jakarta - Sebagai seorang ibu, Natalia Tjahja merasakan kesedihan mendalam ketika putrinya Maria Monique berpulang ke pangkuan Yang Maha Kuasa. Namun, Natalia tak ingin larut dalam kesedihan terlalu lama. Dia pun bangkit dengan mendirikan sebuah yayasan bernama Maria Monique Last Wish untuk memberi kebahagiaan buat anak-anak lain di dunia yang kurang beruntung.

Berawal di tahun 2006, Maria Monique udah mulai sakit, Bun. Badannya panas dan dia sempat dirawat beberapa lama di salah satu RS di Jakarta. Si kecil Maria Monique yang lahir tanggal 5 Juli 1998 ini didiagnosis infeksi paru dengan bakteri yang udah resisten. Setelah itu, Maria Monique diterbangkan ke Singapura dan dirawat di Mount Elizabeth Singapore.

Selama 39 hari Maria Monique dirawat di Mount E. Ada peristiwa yang kata Natalia bisa disebut sebagai mukjizat nih, Bun. Sehari setelah dirawat, Maria Monique dinyatakan meninggal dunia. Saat itu, Natalia bilang dia lagi duduk di ruang tunggu CCU (Critical Care Unit). Ya, di Mount E Maria Monique nggak lagi dirawat di ICU tapi di CCU.


"Saya dipanggil dikasih tahu anak saya udah sangat sakit. Saat itu saya udah habis-habisan. Saya pergi ke kamarnya, dokter bilang udah nggak ada harapan. Saya bilang saya nggak percaya wong saya baru datang kok dibilang nggak ada harapan. Saya tanya mana cardiac rest, saya akan melakukan pacu jantung sendiri. Tapi dokter minta saya keluar dan mereka yang melakukannya. Selama satu jam saya memohon sama Tuhan untuk menghidupan Maria Monique lagi dan Tuhan mendengar saya, nurutin saya. Dia hidup lagi setelah satu jam dinyatakan denyut jantungnya udah nggak ada tapi dia kembali dengan brain damage," kata Natalia waktu berbincang sama HaiBunda.

Setelah itu, Maria Monique menjalani tiga kali operasi karena paru-parunya udah dipenuhi bakteri dan lubang. Dia pun harus memakai mesin untuk membantunya bernapas. Tapi Tuhan berkata lain. Tanggal 27 Maret 2006, gadis cilik itu kembali ke pangkuan Yang Maha Kuasa. Sebagai ibu, pastinya Natalia sedih bukan main. Dia sempat menjerit, menangis, tapi hanya lima menit aja, Bun.



Natalia bilang dia nggak merasa kesal sama Tuhan karena dirinya mengalami the beautiful journey. Saat Maria Monique dirawat di Singapura, Natalia merasa punya saudara baru. Bahkan, ketika dia nggak punya uang sama sekali, dokter tetap melakukan operasi untuk Maria Monique. Media setempat, The Straits Times juga udah kayak keluarga, Bun, buat Natalia. Diibaratkan Natalia, Tuhan mengatur semuanya dengan cara-Nya.

"Saya mengucapkan terima kasih pada Tuhan. Pas di Singapura saya merasa kasih Tuhan luar biasa. Pertolongan demi pertolongan datang. Biaya perawatan Maria Monique sehari 5 ribu dolar Singapura disediakan malah saya ditemukan dengan saudara baru. Saya nggak ada kekesalan sama Tuhan. Saya bersyukur jadi ketika Maria meninggal, kalau memang itu saatnya, saya pasrah," tambah Natalia.

Seratus hari setelah meninggalnya Maria Monique, Natalia seperti mendapat bisikan 'Mom, go around the world, find unfortunate kids and give them the happiness'. Nah, mulai dari situlah Natalia mendirikan yayasan Maria Monique Last Wish dengan modal kurang lebih Rp 650 ribu. Tapi dengan niat memberi kebahagiaan untuk anak-anak lain yang kurang beruntung, tanpa disadari Natalia sampai saat ini yayasan Maria Monique Last Wish sudah berbagi kebahagiaan untuk lebih dari 46 ribu anak di seluruh dunia dengan dukungan dari lebih 40 negara.

"Saya berterima kasih saya dikasih kesempatan melahirkan seorang malaikat. Dengan Maria Monique nggak ada, banyak anak yang tertolong. Perut saya jadi tempat lahir Maria Monique, saya bersyukur sekali," kata Natalia.

(rdn)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi