mom-life

Kisah Mimpi Aneh Herman 'Seventeen' Sebelum Meninggal Dunia

Annisa Karnesyia Jumat, 08 Mar 2019 18:06 WIB
Kisah Mimpi Aneh Herman 'Seventeen' Sebelum Meninggal Dunia
Jakarta - Juliana Moechtar, istri Herman Sikumbang masih belum bisa melupakan cerita almarhum sebelum kepergiannya ke Tanjung Lesung, Anyer.

Salah satunya tentang mimpi aneh sang suami saat mondok di pesantren, tepat beberapa hari sebelum kejadian yang merenggut nyawanya. Seperti apa kisahnya?

"Almarhum memang sebulan sekali mondok di daerah Semarang semenjak bergabung dengan partai. Sebelum mondok, sekitar sepuluh hari kita enggak ketemu karena kesibukan dia," ujar wanita yang kerab disapa Juli ini saat berbincang ekslusif dengan HaiBunda.


Selama tiga hari mondok, Juli bercerita Herman mengalami dua kali mimpi aneh yang dia bagi ke rekan-rekan dan kyai di sana.

"Hari pertama dia mondok, almarhum mimpi digigit ular. Dia cerita dengan kyai saat lagi kumpul-kumpul dan kyai bilang itu artinya panjang umur. Nah, hari kedua almarhum mimpi lagi, kali ini dia mimpi meninggal di pangkuan kyai," tutur Juli.

Menurutnya, tidak ada firasat apapun dari mimpi yang dialami sang suami. Meskipun pada hari terakhir pulang mondok, Juli mendengar kabar suaminya itu terus menangis di pesawat. Jika ditanya oleh temannya, almarhum Herman selalu bilang tidak terjadi apa-apa.

Setelah pulang mondok, Herman ternyata meminta Juli mengosongkan jadwal dan ikut dengan dirinya ke Tanjung Lesung. Alasan Herman kala itu: ingin menghabiskan waktu liburan bersama istri dan kedua anaknya.

"Dia selalu minta saya dan anak-anak ikut. Hari Kamis, jadwal saya kebetulan kosong dan sudah siap buat ikut, tapi ternyata anak pertama saya, Fuza kena cacar karena tertular adiknya. Melihat kondisi Fuza, almarhum akhirnya mengalah karena kasihan dengan Fuza jika tetap dipaksakan ikut," lanjut Juli.

Juliana Moechtar dan Herman Sikumbang, semasa hidupJuliana Moechtar dan Herman Sikumbang, semasa hidup/ Foto: Juliana Moechtar Instagram


Setelah tragedi itu, Juli sempat terpikir jika dirinya ikut sang suami ke Tanjung Lesung, paling tidak mereka bisa menghabiskan waktu bersama seharian sebelum tragedi. Bukan penyesalan, tapi paling tidak dia bisa bertemu Herman untuk terakhir kalinya.

"Sebelum kejadian itu, seharian dia dan teman-teman di sana memang menghabiskan waktu di pantai, main air. Coba waktu itu saya dan anak-anak bisa ada disana. Yah, paling tidak untuk menemani dia untuk yang terakhir kali," ujarnya.

Kehilangan pasangan hidup secara tiba-tiba memang bisa buat perasaan hancur. Terkadang terlintas penyesalan dan kenginan jika keadaan dapat berubah sebelum pasangan meninggal. Menurut Romeo Vitelli, Ph.D, psikolog di York University, rasa kesepian adalah hal utama yang bisa menyebabkan banyak gejala lain timbul setelah kehilangan pasangan.

"Bagi seseorang yang kehilangan pasangan, mengatasi rasa penyesalan dan kesepian adalah tantangan terbesar untuk melanjutkan kehidupan," kata Vitelli, dikutip dari Psychology Today.


Bila hal itu terus didiamkan, ditakutkan akan menimbulkan gejala depresi, perubahan tekanan emosional, dan perilaku. Meskipun, tidak semua orang akan menghadapi hal serupa, paling tidak pikiran-pikiran dari penyesalan, rasa kesepian, dan keinginan itu harus segera diatasi.

Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah mencari bantuan dari keluarga dan teman. Rasa kesepian dan sikap tertutup bisa menimbulkan banyak cerita dan pikiran baru tentang pasangan yang telah meninggal. Hingga pada akhirnya, rasa penyesalan dan menyalahkan diri sendiri akan timbul dan merusak kehidupan yang sedang berjalan. Ini pun akan berpengaruh pada hidup anak.

"Coba luangkan waktu dan bercerita dengan teman terdekat atau keluarga. Mengenang boleh saja, tapi jangan pernah menyalahkan diri sendiri karena kehidupan harus terus berlanjut," tutup Vitelli.

[Gambas:Video 20detik]

(ank/rdn)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi