Sign Up search


moms-life

Layangan Putus 2: Cemas Suami Hilang, Ternyata Honeymoon dengan Pelakor

Muhayati Faridatun Senin, 04 Nov 2019 13:19 WIB
Layangan Putus 2: Cemas Suami Hilang, Ternyata Honeymoon dengan Pelakor caption
Jakarta - Cappadocia, salah satu kota di Turki yang menjadi impian sang dokter. Ia masih bermimpi sang suami mengajaknya berlibur ke sana. Belum sempat menginjakkan kaki di Cappadocia, justru kenyataan pahit yang dia dapat. Kisah Layangan Putus ini sungguh menyayat hati.

Ibu lima anak ini resah, sang suami tak ada di rumah dan belum pulang semalaman. Tak memberi kabar, hingga 12 hari menghilang. Pesan singkat yang dia kirim tak dibaca, apalagi dibalas. Ia menelepon pun sang suami tak pernah mengangkatnya.

"Ke mana dia?" tanya sang dokter pada sopir suaminya.


Setelah 12 hari pencarian, dia akhirnya mendapat kabar sang suami akan pulang. Tapi, tak ada penjelasan bahkan permintaan maaf karena sudah menghilang tanpa kabar. Dadanya pun sesak ketika tahu kenyataan pahit yang dilihatnya sendiri di ponsel sang suami.


Foto-foto yang dilihat membuat hatinya tersayat. Foto siapa? Bunda, simak kisah Layangan Putus bagian dua selengkapnya di bawah ini:

Layangan Putus Part 2
#layanganputus

19 September 2019

Lembar putusan Pengadilan Agama mengenai perceraian sudah ku terima. Aku hela nafas panjang. Lega, sedih, sesak, bercampur di setiap hembusan nafas. Aku baca lagi berulang.

"Alhamdulillah" batinku, berusaha menyempatkan untuk bersyukur dalam setiap keadaan.

Resmi sudah aku sendirian. Aku yang bertanggung jawab atas diriku sendiri, dan menanggung segala keputusan ke depan.

Seperti kehilangan satu kaki, aku berusaha tetap tegak melangkah. Pun selama setahun setengah menjalani poligami, yang aku rasakan memang kakiku sudah sakit sebelah. Ibarat dalam sisi medis, saran terbaiknya adalah mengamputasi kaki yang sudah luka dan membusuk. Sebelum menjalar menyakiti organ lainya.

Tin tiiin tiiiin

Klakson mobil di belakang mengagetkanku, aku sadar dan memacu mobilku menuju rumah. Aku bergegas mandi sesampainya di rumah. Jarang aku berlama lama di kamar mandi. Tapi, kali ini, aku betah berdiri dibawah kucuran air.

**

12 February 2018

Selesai subuh, aku mencari suami, ingin menggodanya. Semalam, ia tak masuk kamar melihatku, atau sebenarnya dia sudah melakukannya, saat aku tertidur lelap. Ku buka kamarnya, sepi.

"Oh, mungkin belum pulang sholat subuh dari mushola," batinku. Tapi, terlihat kamar masih rapi. Selimut terlipat, bantal dan guling masih tersusun. Tidak terlihat kasur yang habis ditiduri.

Aku bingung, suamiku tidak izin menginap di kantor. Ku ambil ponsel dan menghubunginya. Tersambung, tapi tidak ada jawaban. Kuulangi hingga berkali kali. Nihil.

Ku lihat jam sudah menunjukan pukul 6 pagi, langit sudah terang, gak mungkin dia di mushola selama ini. Aku mulai jengkel, kutelepon supir kantor. Ku cecar Selamet dengan pertanyaan.

"Lho Mba, sampeyan kan, istrinya! Moso mas Arif ga ada ngabarin?" jawab Selamet kaget.

"Ke mana dia?"

"Ga tau aku mba! Cuma nganter ke bandara tok wingi (kemarin)...."

Reflek ku periksa brankas mini yang terletak dilemari. Pasportnya tidak ada. Berbagai pikiran berkecamuk di kepalaku. Aku duduk dikamarnya mencari pentunjuk.

Semenjak anak keduaku lahir, memang suami lebih nyaman tidur di kamar ini. Kecil tapi tenang baginya, tidak terganggu suara tangis bayi.

Setiap pulang kantor seringnya malam hari, rutinitas kami adalah bercengkrama di ruang tv sampai lelah. Dia terkadang mengajakku bercerita di kamar ini sampai terlelap. Kemudian aku pindah ke kamar utama kami, karena di sanalah anak-anak kami tidur. Arya masih sering terbangun tengah malam berteriak mencariku, minta dipeluk.

Ku sadari kameranya tidak ada. Kemarin, dia memang pamit akan pemotretan untuk liputan motor BMW, karena itu, koper cabinnya yang berisi kamera dibawa serta. Tak ada pikiran aneh. Aku percaya semua kalimat suamiku. Tapi, kenapa dia pergi tidak jujur padaku! Ke mana dia?

Aku ingat lagi, kemarin tidak ada yang aneh, tidak ada yang salah. Sebelum dia pergi dari rumah, kami bercumbu mesraaaa sekali. Hubungan kami bahkan sedang hangat hangatnya. Dia sering menggodaku belakangan ini. Dan aku sedang hobi mengumpulkan lingerie untuk menyenangkannya.

Kami sedang semangat berolahraga agar lebih fit. Sehingga Ranjang kami hidup sekali. Terlebih lagi, aku sangat percaya dia. Dia pemilik channel dakwah di YouTube. Mas Arif paham, menyentuh lawan jenis adalah haram baginya. Bahkan, menundukkan pandangan terhadap wanita non-mahrom adalah kewajiban. Aku percaya betul suamiku.

Tapi, ke mana dia?

***

Ilustrasi kisah viral Layangan PutusIlustrasi kisah viral Layangan Putus/ Foto: iStock
24 Februari 2018

Hatiku berdebar menjemput suamiku di bandara. Akhirnya, setelah 12 hari pencarian, dia mengabarkan akan pulang. Mas Arif memintaku menunggu di rumah. Tapi rasa khawatirku memuncak sudah. Aku tidak bisa duduk manis menunggunya di rumah. Segera ku pacu mobil menuju bandara.

Teringat, 10 hari lalu, aku penuh kebingungan mencarinya, semua kemungkinan berkecamuk di kepalaku. Apakah ia pergi dari rumah tanpa kabar untuk jihad? Apakah ia ke Timur Tengah? Karena salah satu ustadz kenalan kami ada yang pernah mengajaknya meliput ke Suriah saat itu. Misinya untuk membuka mata dunia bahwa Suriah butuh pertolongan.

Ku tangisi niatnya saat itu. Aku tak rela dia pergi ke Timur Tengah. Karena itukah, dia saat ini pergi tanpa pamit? Atau apakah dia bermasalah dengan pihak bea cukai dan kemudian ditahan? Atau dia sedang terancam bahaya? Diculik dan diancam pihak lawan bisnis?
Aku tak yakin dengan semua firasat tentang kepergiannya. Yang ada hanya kecemasan yang luar biasa.

Sepuluh hari lalu akhirnya teleponku diangkat olehnya.

"Mbi aku titip anak anak," ujarnya buru buru.

"Kamu mau kemana? Kamu mau ke manaaa?" cecarku.

"Aku di Jakarta! Mas, pergi dulu. Kamu di rumah baik-baik sama anak-anak ya. Aku titip anak-anak ya, Mbi. I love you." bip bip bip... terputus.

Tidurku tak tenang. Makanku tak nyaman. Duniaku berhenti berputar. Aku terus bertanya ke mana? Di mana? Kenapa bisa dia pergi? Apa yang disembunyikan dariku?

Rekan kerjanya kudatangi untuk mencari info, nihil. Kerabat yang berposisi AKBP, kupinta bantuan melacak nomor gawainya, gagal.
Nomor terdeteksi di daerah pelosok Jawa Tengah. Namun, kerabatku menyatakan bahwa pelacakan satelit belum tentu akurat. Hingga Ku cari hacker untuk menemukannya, tapi tetap tak ada hasil.

[Mbi, sehaaat? Kamu harus sehat ya Sayang. Anak-anak tadi nonton black panther, rindu kamu banget] isi pesanku.

Mbi adalah panggilan sayang kami. Aku lupa apa yang menyebabkan kami saling memanggil Mbi. Mungkin dari baby kemudian beralih menjadi Mbi.

Hanya muncul centang satu, tak lama centang dua, tapi tak pernah centang itu berubah warna menjadi biru. Pertanda tidak dibaca.
Ku kirimi Mas Arif foto dan voice note suara anak anak. Tak ada respon.

[Mbi, aku ga tau kamu dimana, sedang apa, aku salah apa? Mbii, aku janji akan sering masak, pulang ya, Mbi]

[Aku kebangun kepikiran kamu, di mana kamu, Mas?]

Seperti biasa, pesanku hanya centang saru, beberapa menit kemudian centang dua tapi, tak pernah menjadi biru.

[Mbii, aku ke Jakarta sekarang! Aku tak peduli jika harus hilang di sana! Aku akan mencari mu sampai ketemu!] Pesanku.

Kemudian dibalas.

[Jangan sayang, batalkan kepergianmu ke Jakarta. Aku akan pulang besok!]

[Kapan?] balasku singkat.

[Besok malam, Sayang. Tunggu aku ya!]

Ku telepon dia, masih tak diangkat. Lalu ku hujani mas Arif dengan pesan singkat.

[Kirim tiket mu!] ku kirim berulang pesan itu hingga dia merespon.

[Citilink 24/2, jam 17.00. Tunggulah di rumah! Isya nanti, aku sudah di rumah, Mbi] jawabnya.

*

Suasana hening di mobil. Dia menyetir dan aku duduk di kursi penumpang menatap jalan, tapi pikiranku entah kemana.

"Mau makan?"

"Kamu dari mana?" jawabku.

"Ok. Kita bicara di rumah, ya."

Setiap dia membuka percakapan aku terus menjawabnya dengan kalimat yang sama.

"Kamu dari mana?"

Dia ganteng sekali, rapi, bersih dan wangi. Suamiku memang cenderung metroseksual, dia sangat peduli akan penampilan. Tapi, bukan itu yang membuatku jatuh cinta. Bukan fisik bukan pula harta.

Teringat saat pertama kami merintis usaha ini, aku membantunya berjualan kartu perdana seluler kepada para bule di kuta, sambil kuliah. Menjajakan pulsa dan menyewakan handphone kepada para turis. Mas Arif yang mengajari aku untuk tangguh, mengenalkan arti kerja keras.

Romantisme muncul saat uang kami tersisa sepuluh ribu. Mas Arif membeli dua bungkus nasi jinggo, masing masing seharga empat ribu. saat dimakan ternyata sudah basi.

Mas Arif tampak kecewa tidak bisa memberiku makanan yang layak. Sisa uang dua ribu, dibelikan gorengan untukku. Itulah, satu satunya makanan yang masuk keperutku. Aku terenyuh sekali. Romantis!

*

Mobil kami memasuki rumah. Anak anak menyambut dan memeluknya. Mereka rindu sekali. Selesai bermain, Arif bergegas mandi. Dan aku menidurkan anak anak. Setelah mereka terlelap aku duduk di ruang TV menanti jawaban dari berbagai pertanyaan belasan hari belakangan ini.

*


27 February 2019

Tanganku lancang membuka handphone Arif. Setelah pengakuannya yang lalu, aku masih belum berdamai dengan diriku. Perasaan hancurku membuat enggan membahas atau bertanya lebih jauh. Aku memilih mencari tahu dengan tanganku sendiri. Pun Arif, terkadang sosok yang dingin. Tidak sedikitpun dia berusaha mengajakku bicara, meminta maaf atau menenangkanku.

Ponselnya disembunyikan di atas rak buku. Tak sadar air mataku mengalir. Ku temui ratusan foto mereka. Hatiku tersayat ... ngilu. Aku dalam kecemasan yang amat sangat saat ia menghilang selama 12 hari.

Tapi mas Arif tidak hilang. Dia hanya berhoneymoon di Cappadocia. Kota impianku. Aku memang sudah pernah pergi ke Turki saat menunaikan ibadah umroh, bersamanya. Tapi, kali itu kami tidak menyentuh Cappadocia. Betapa remuknya hatiku melihat dia sudah pergi kes ana lebih dulu dengan istrinya yang baru. Istri muda yang baru 12 hari dinikahinya.

Aku tak kenal perempuan itu. Aku tak pernah bertemu perempuan itu.
Yang ku tahu dari suamiku, wanita itu cantik dan muda.

Aku marah dan murka. Aku merasa dikhianati. Maaf dari Mas Arif tak cukup membuatku tenang.

Ya Rabb... Ampuni aku.

*

19 September 2019

Selesai mandi, aku segera berpakaian. Ini mandi kelima ku hari ini. Entah karena gerah atau karena kebutuhanku saat ini. Menyenangkan sekali berada di bawah kucuran air. Air mataku bias dengan jatuhnya air yang menyentuh wajah. . Seperti di pijat, ku tengadahkan wajahku menghadap shower. Mata, pipi, dan dahi terkena pancuran air terasa yaman sekali.

Aku sudah segar, rapi dan wangi. Melangkah menuju kamar tidur, ku lihat jam dinding sudah menunjukkan angka sebelas malam. Anak anak tersusun rapi terpejam di kasur.

Bukan saatnya tumbang, aku bukan layangan putus yang tak tentu arah. PR ku masih banyak, keempat anak ini punya masa depan yang indah. Aku percayakan semua pada penopangku Alloh Sang Maha Baik.

Jauh di lubuk hati, doaku untuk mantan suami. Aku tidak mampu lagi menunaikan kewajiban sebagai seorang isteri untuknya. Dia resmi bukan milikku sekarang, ku lepaskan segala memori perjuangan cinta kami yang dulu.

Aku sudah tidak terikat sebagai istrinya. Semoga ia diberi kesehatan, kelancaran dalam segala urusan. Bukan saatnya memaki. Sampai kapan pun, aku tak boleh bermusuhan. Dia adalah ayah anak-anakku. Ku selipkan namanya dalam doa doaku.

#layanganputuspart2
#realstory
#truestory
#kisahnyata


Bunda, simak juga cerita Enno Lerian yang menganggap perceraian sebagai pelajaran hidup, dalam video ini:

[Gambas:Video Haibunda]

(muf/muf)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait

Rekomendasi