moms-life

7 Perbedaan Pahlawan Nasional Rohana Kudus dengan RA Kartini

Asri Ediyati Jumat, 08 Nov 2019 16:41 WIB
7 Perbedaan Pahlawan Nasional Rohana Kudus dengan RA Kartini RA Kartini/ Foto: (Rangga/detikTravel)
Jakarta - Rohana Kudus resmi diberi gelar pahlawan nasional hari ini, Jumat (8/11/2019). Rohana dikenal sebagai wartawati Indonesia pertama. Ia juga bergerak untuk memperjuangkan kaum perempuan, sama seperti RA Kartini. Lewat-lewat tulisannya, Rohana mengemukakan kritik tajam tentang keadilan kaum perempuan dan penjajahan Belanda.

Meski sama-sama perjuangkan kaum perempuan dan pahlawan nasional wanita, ada perbedaan Rohana Kudus dengan RA Kartini. Berikut tujuh perbedaannya yang dirangkum dari berbagai sumber:

1. Rohana Kudus tak berdarah bangsawan

Rohana adalah anak dari Mohamad Rasjad Maharadja Soetan dan Kiam. Ayahnya saat itu menjabat sebagai pegawai pemerintah Belanda. Rohana Kudus bukanlah anak keturunan bangsawan.


Sementara itu, RA Kartini berasal dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa. Ia adalah putri dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, seorang patih yang diangkat menjadi bupati Jepara tak lama setelah Kartini lahir.

2. Rohana Kudus tak sekolah formal

Rohana Kudus yang lahir di Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat tidak diizinkan sekolah formal. Namun, ia rajin belajar dengan ayahnya, seorang pegawai pemerintah Belanda yang selalu membawakan Rohana bahan bacaan dari kantor.

Rohana muda amat cerdas, ia sudah bisa menulis dan membaca, bahkan berbahasa Belanda. Saat ayahnya ditugaskan ke Alahan Panjang, Rohana bertetangga dengan pejabat Belanda atasan ayahnya.

Dari istri pejabat Belanda itu Roehana belajar menyulam, menjahit, merenda, dan merajut yang merupakan keahlian perempuan Belanda. Di sana ia juga banyak membaca majalah terbitan Belanda yang memuat berbagai berita politik, gaya hidup, dan pendidikan di Eropa.

Di sisi lain, Kartini yang merupakan anak bangsawan diperbolehkan belajar di sekolah hingga 12 tahun. Setelahnya, barulah ia tinggal di rumah layaknya perempuan lain pada masa itu karena sudah bisa dipingit. Kartini di rumah belajar sendiri dan menulis surat kepada sahabat penanya yang berasal dari Belanda.
Rohana KudusRohana Kudus/ Foto: Wikipedia
3. Rohana Kudus mendirikan sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS)

Pada 1911, Rohana mendirikan sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS) di Koto Gadang. Ia mengajarkan keterampilan perempuan mengelola keuangan, tulis-baca, budi pekerti, pendidikan agama, dan Bahasa Belanda. Ia harus menghadapi tantangan sosial dari pemuka adat masyarakat Koto Gadang. Sekolah Rohana berbasis industri rumah tangga serta koperasi simpan pinjam dan jual beli yang semua anggotanya adalah perempuan. Rohana juga mendirikan Rohana School di Bukittinggi, Sumatera Barat. Demikian dikutip dari buku Kisah Perjuangan Pahlawan Indonesia.

Sedangkan Kartini, ia mendirikan sekolah wanita setelah mendapat izin dan dukungan dari suaminya, Bupati Rembang K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat. Ia mendirikan sekolah di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka.

4. Rohana Kudus menyuarakan keresahannya lewat media massa lokal

Rohana adalah sosok yang sangat peduli dengan pendidikan wanita. Setelah mendirikan KAS, di tahun 1912, ia menulis di surat kabar perempuan, Poetri Hindia. Saat dibredel pemerintah Belanda, Roehana berinisiatif mendirikan surat kabar, bernama Sunting Melayu, Media tersebut tercatat sebagai salah satu surat kabar perempuan pertama di Indonesia. Ia juga memimpin surat kabar Perempuan Bergerak, Radio dan Cahaya Sumatera.

Sementara itu, Kartini menyuarakan keresahannya melalui surat. Kartini pun kemudian beberapa kali mengirimkan tulisannya dan dimuat di majalah wanita Belanda, De Hollandsche Lelie. Dari surat-suratnya Kartini membaca apa saja mengenai ilmu pengetahuan, sambil membuat catatan-catatan. Perhatiannya tidak hanya semata-mata soal emansipasi wanita, tetapi juga masalah sosial umum.
RA Kartini dan suaminyaRA Kartini dan suaminya/ Foto: Istimewa
5. Tulisan Rohana Kudus dibenci Belanda

Surat kabar yang diterbitkan Rohana mengkritik habis-habisan tentang Belanda, bahkan terang-terangan anti-Belanda. Enggak heran surat kabarnya pernah dibredel oleh Belanda.

Lain halnya dengan Kartini, surat-suratnya justru didukung oleh Belanda. Salah satunya adalah sahabat penanya Rose Abendanon. Setelah Kartini wafat, Mr. J.H. Abendanon mengumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada teman-temannya di Eropa. Abendanon saat itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda. Buku itu diberi judul Door Duisternis tot Licht yang arti harfiahnya "Dari Kegelapan Menuju Cahaya".

6. Emansipasi yang ditawarkan Rohana Kudus berbeda

Emansipasi yang ditawarkan dan dilakukan Rohana tak menuntut persamaan hak perempuan dengan laki-laki. Akan tetapi lebih kepada pengukuhan fungsi alamiah perempuan itu sendiri secara kodratnya. Untuk dapat berfungsi sebagai perempuan sejati sebagaimana mestinya juga butuh ilmu pengetahuan dan keterampilan untuk itulah diperlukannya pendidikan untuk perempuan.

Perputaran zaman tidak akan pernah membuat perempuan menyamai laki-laki. Perempuan tetaplah perempuan dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Yang harus berubah adalah perempuan harus mendapat pendidikan dan perlakukan yang lebih baik. Perempuan harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan," kata Rohana Kudus saat itu.

7. Memiliki penghargaan yang berbeda

Selama hidupnya Rohana Kudus menerima penghargaan sebagai Wartawati Pertama Indonesia (1974), pada Hari Pers Nasional ke-3, 9 Februari 1987. Kemudian, Menteri Penerangan Harmoko menganugerahinya sebagai Perintis Pers Indonesia. Lalu, pada tanggal 6 November 2007 pemerintah Indonesia menganugerahkan Bintang Jasa Utama.

Sementara itu, Kartini ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional di Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964 yang dikeluarkan Presiden Soekarno mengeluarkan tanggal 2 Mei 1964. Keputusan itu juga menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun.

Simak juga cerita Shahnaz Haque tentang caranya mengedepankan pendidikan anak:

[Gambas:Video Haibunda]

(aci/som)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait

Rekomendasi