sign up SIGN UP search


moms-life

Keinginan Punya Anak Mempengaruhi Hubungan Seks Suami Istri, Bikin Stres atau Happy?

Melly Febrida Kamis, 18 Mar 2021 17:10 WIB
Affectionate young couple relaxing in bed and having a romantic moment caption

Pasangan suami istri (pasutri) yang menikah umumnya mengharapkan kehadiran bayi. Namun, keinginan memiliki bayi ini bisa membuat hubungan seks pasutri menjadi berbeda. 

Seks tanpa mengkhawatirkan kehamilan lebih menyenangkan. Sedangkan seks mengharapkan bayi bisa membuat pasangan stres. Adakah caranya agar seks tetap menyenangkan meski mengharapkan bayi?

Psikolog klinis, Leslie Becker-Phelps, Ph. D., menjelaskan pasutri yang bercinta untuk bisa hamil itu bisa mempengaruhi psikologis. Namun, beberapa pasangan menemukan masalah anak ini diselesaikan dengan bahagia apabila hamil tanpa disengaja. 

"Seks teratur tanpa khawatir hamil memang menyenangkan, tetapi bisa juga membuat tertekan," kata Phelps, dikutip dari Love The Psychology Of Attraction: A Practical Guide to Successful Dating and a Happy Relationship.

Banner Ciri Suami Sayang Istri


Ia mengatakan, memang beberapa ahli menyarankan berhubungan seks sebanyak mungkin untuk memaksimalkan peluang hamil. Sedangkan ahli yang lain menyarankan agar Bunda berhubungan seks selama waktu ovulasi.  

"Jika Anda memutuskan untuk tidak berhubungan seks hingga waktu ovulasi, tidak ada alasan untuk tidak berpelukan sensual dan bermain-main di waktu lain.  Anda melakukan ini bersama-sama, jadi semakin dekat Anda secara emosional, semakin baik,"ujar Phelps.

Menurut Phelps, seks untuk mencoba hamil mungkin terdengar bebas stres. Namun, hasrat tiap orang itu berbeda-beda. Siapapun bisa merasakan 'demam panggung' meski sudah berusaha melakukan yang terbaik.



Bagi istri, Phelps bilang, kalau gugup membuatnya jadi tak berhasrat, hal terbaik yang harus dilakukan untuk kedua pihak dengan menurunkan ekspektasi.  

"Misalnya, wanita mungkin merasakan tekanan mengganggu lubrikasi alami tubuh mereka: daripada merasa tidak memadai, belilah pelumas non-spermisida," saran Phelps.  

Sedangkan untuk suami, lanjut Phelps, apabila keinginan hamil membuatnya sulit ereksi, cobalah membicarakan yang erotis saat momen itu supaya suami terangsang.

Bunda yang setiap bulan melihat kalender, kata Phelps, ini juga bisa membuat kehilangan harapan dan memicu kekecewaan. Untuk itu cobalah mengurangi ekspektasi dan mencoba melihat sisi lucunya.  

"Seks tidak harus menghancurkan dunia dengan menginginkan seorang bayi, tetapi jika Anda dapat terus bekerja sama, saling mendukung di saat-saat tidak aman, dan menjalaninya semudah mungkin yang Anda bisa, bercintanya masih bagus," jelasnya.

Phelps mengingatkan, seorang istri yang ingin punya bayi akan merasa sakit jika tak bisa hamil. "Rasa sakit itu nyata dan tidak boleh diabaikan," tegasnya.

Sebuah studi di Indian Journal of Community Psychology menemukan pada tahun 2010 bahwa orang yang tidak memiliki anak (terutama wanita) menderita lebih banyak kecemasan dan depresi daripada pasangan yang memiliki anak.

Meski intervensi medis seperti IVF terkadang dapat membantu, tetapi tidak selalu berhasil. Ini bisa membuat seks menderita karenanya.

Sebuah studi tahun 2007 yang dilakukan Judith C.Daniluk dan Elizabeth Tench di University of British Columbia mengikuti kemajuan dari 38 pasangan, setelah 33 bulan perawatan kesuburan yang gagal. Hasilnya, meskipun harga diri mulai pulih, kehidupan seks cenderung berkurang kecuali jika mereka memiliki dukungan sosial dan emosional yang baik.

Makanan juga bisa pengaruhi seks, Bunda. Simak informasi lebih lanjut di video berikut:

[Gambas:Video Haibunda]

(fia/fia)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi