HaiBunda

MOM'S LIFE

Singapura Jadi Zona Biru 2.0 Pertama di Dunia, Apa Artinya?

Azhar Hanifah   |   HaiBunda

Rabu, 04 Mar 2026 17:40 WIB
Singapura Negara 2.0 / Foto: Getty Images/tobiasjo

Singapura kembali mencuri perhatian dunia, kali ini bukan hanya karena kemajuan ekonominya, tetapi juga karena kualitas hidup warganya. Negara ini resmi disebut sebagai Zona Biru 2.0 pertama di dunia, sebuah predikat yang menempatkannya sejajar dengan wilayah-wilayah legendaris tempat orang hidup lebih lama dan lebih sehat.

Berbeda dari Zona Biru klasik yang terbentuk secara alami lewat tradisi dan budaya turun-temurun, Singapura justru membangun fondasi kesehatan dan umur panjang melalui kebijakan publik, desain kota, serta gaya hidup modern yang terencana. 

Lantas, apa sebenarnya makna Zona Biru 2.0 bagi Singapura? Simak penjelasan lengkapnya dalam artikel di bawah ini, ya, Bunda.


Mengenal Zona Biru 2.0 dan mengapa Singapura berbeda?

Istilah Zona Biru pertama kali diperkenalkan oleh penulis asal Amerika Serikat, Dan Buettner, untuk menggambarkan wilayah dengan konsentrasi penduduk berusia panjang dan sehat. 

Contohnya adalah Okinawa di Jepang dan Sardinia di Italia, yang dikenal dengan pola makan sederhana, aktivitas fisik alami, serta komunitas yang erat. Namun, Singapura menghadirkan konsep baru.

Melansir dari laman Aplussingapore, Singapura disebut sebagai Zona Biru 2.0 karena berhasil menanamkan kesehatan dan kesejahteraan ke dalam sistem perkotaan modern. Artinya, hidup sehat tidak lagi bergantung pada suplemen mahal, melainkan didukung oleh lingkungan yang membuat warganya dipaksa untuk memilih hidup sehat setiap harinya.

Kebijakan ini terlihat jelas melalui program Healthier SG yang diluncurkan pada 2023. Program tersebut menggeser fokus layanan kesehatan dari sekadar mengobati penyakit menjadi mencegahnya sejak dini. 

Di pusat jajanan, misalnya, warga kini lebih mudah memilih menu dengan kandungan gula, garam, dan lemak yang lebih rendah. Dalam sebuah forum, Menteri Kesehatan Singapura Ong Ye Kung juga menegaskan bahwa Singapura sangat berbeda dari Zona Biru Tradisional.

Pola makan tinggi gula dan garam, ritme hidup yang cepat, hingga tingkat stres tinggi justru menjadi tantangan utama. 

Jalur hijau dan ruang terbuka, kunci warga tetap aktif setiap hari

Keistimewaan Singapura sebagai Zona Biru 2.0 juga tampak dari cara kota ini dirancang. Pemerintah dan berbagai lembaga desain secara aktif mengintegrasikan alam ke dalam ruang perkotaan melalui visi City in Nature.

Taman, jalur hijau, dan konektor antar ruang terbuka membuat aktivitas fisik seperti berjalan kaki atau bersepeda menjadi bagian alami dari rutinitas harian. Salah satu contohnya adalah jaringan jalur hijau sepanjang ratusan kilometer yang menghubungkan taman, kawasan air, dan area pemukiman.

Selain itu, terdapat healing garden di ruang publik, termasuk taman terapi yang terhubung langsung dengan rumah sakit, untuk mendukung ketenangan dan kesehatan mental.

Konsep hunian multigenerasi seperti Kampung Admiralty juga menjadi sorotan. Bangunan ini memadukan hunian, layanan kesehatan, ruang komunal, hingga taman atap, sehingga lansia tetap aktif, mandiri, dan terhubung secara sosial.

Desain tersebut dapat memperkuat ikatan antar warga dan mencegah rasa kesepian, faktor penting dalam umur panjang.

Dalam berbagai pameran desain dan program inovatif, konsep repair and recovery digunakan sebagai metafora penyembuhan mental. Salah satunya lewat kegiatan memperbaiki benda, yang dapat merefleksikan proses pemulihan diri.

Melalui inisiatif School of X, desain bahkan digunakan sebagai alat untuk pencegahan penyakit jangka panjang. Tamsin Greulich-Smith, Director of School of X, menyatakan bahwa memahami kebutuhan manusia seiring bertambahnya usia membutuhkan pendekatan berbasis desain.

Menurutnya, desain dapat membantu menciptakan layanan yang membuat pilihan hidup sehat terasa lebih mudah dan menarik, sekaligus memperkecil jarak antara usia hidup dan masa hidup sehat.

Singapura membuktikan bahwa kesehatan dan umur panjang bisa dibangun secara sadar melalui kebijakan, desain, dan kolaborasi lintas sektor. Meski tidak semua strategi bisa diterapkan di setiap negara, pengalaman Singapura memberi gambaran bahwa kota modern pun bisa menjadi tempat yang ramah bagi kesehatan fisik dan mental.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)

Simak video di bawah ini, Bun:

Unforgettable Family Trip at Resorts World Sentosa

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Intip Isi Rumah Termahal di Dunia Rp5,28 Triliun Milik Pangeran Saudi

Mom's Life Azhar Hanifah

Angga Yunanda Ungkap Rasanya Nantikan Kelahiran Anak Pertama dengan Shenina Cinnamon

Kehamilan Amrikh Palupi

Haru! Bocah 4 Tahun Jalani Operasi Jantung Sendiri, Kini Diadopsi Dokter Penyelamatnya

Parenting Nadhifa Fitrina

Singapura Jadi Zona Biru 2.0 Pertama di Dunia, Apa Artinya?

Mom's Life Azhar Hanifah

Studi Terbaru Temukan Kaitan Kehamilan Kedua dengan Stres Tinggi, Apa Penyebabnya?

Kehamilan Annisa Karnesyia

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Kumpulan Soal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Kelas 2 Semester 2 dan Kunci Jawabannya

Angga Yunanda Ungkap Rasanya Nantikan Kelahiran Anak Pertama dengan Shenina Cinnamon

Andhika Sudarman Dikeluarkan dari Harvard Club of Indonesia Buntut Dugaan Pelecehan Seksual

Haru! Bocah 4 Tahun Jalani Operasi Jantung Sendiri, Kini Diadopsi Dokter Penyelamatnya

Studi Terbaru Temukan Kaitan Kehamilan Kedua dengan Stres Tinggi, Apa Penyebabnya?

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK