HaiBunda

MOM'S LIFE

11 Ciri Perempuan Terlalu Banyak Berkorban untuk Orang yang Tak Melakukan Hal Sama Menurut Psikologi

Azhar Hanifah   |   HaiBunda

Rabu, 25 Mar 2026 15:40 WIB
Ilustrasi ciri perempuan terlalu banyak berkorban untuk orang yang tak melakukan hal sama menurut psikologi / Foto: Getty Images/tkpond

Dalam kehidupan sehari-hari, tidak sedikit perempuan yang terbiasa mengutamakan kebutuhan orang lain dibanding dirinya sendiri. Sekilas sikap ini tampak seperti bentuk kepedulian, kasih sayang, dan loyalitas. Namun jika dilakukan terus-menerus tanpa adanya timbal balik, pengorbanan tersebut bisa berubah menjadi beban emosional yang melelahkan.

Perempuan yang terlalu banyak memberi sering kali tidak langsung menyadari bahwa dirinya sedang terkuras. Mereka tetap berusaha hadir, membantu, memahami, dan memaklumi, bahkan ketika orang-orang di sekitarnya tidak menunjukkan usaha yang sama.

Menurut psikologi, ada sejumlah ciri yang menunjukkan bahwa seorang perempuan mungkin sudah terlalu jauh berkorban untuk orang-orang yang tidak akan melakukan hal serupa untuknya. Simak penjelasannya di bawah ini ya, Bun! 


11 Ciri perempuan terlalu banyak berkorban untuk orang yang tidak melakukan hal yang Sama

Mengutip dari laman Your Tango, psikolog Dr. Melanie A. McNally, seorang clinical psychologist yang banyak membahas pola relasi, kelelahan emosional, dan batasan diri, menjelaskan bahwa perempuan yang terus-menerus memaksakan diri untuk orang lain berisiko mengalami burnout.

Berikut 11 ciri perempuan yang terlalu banyak berkorban untuk orang yang tidak melakukan hal yang sama.

1. Selalu menjadi orang yang menghubungi lebih dahulu

Salah satu tanda paling jelas adalah selalu menjadi pihak yang memulai komunikasi. Entah itu mengirim pesan, menelpon, atau menanyakan kabar, ia merasa bahwa semuanya harus dimulai dari dirinya.

Studi dari Johns Hopkins University menyoroti bahwa komunikasi yang konsisten dapat memperkuat ikatan dan membuat seseorang merasa didengar serta dihargai. Jika hanya satu pihak yang terus berinisiatif, perempuan bisa merasa diabaikan dan kesepian saat ia berhenti berusaha.

2. Merasa semua harus dikerjakan sendiri

Ciri perempuan yang terlalu banyak berkorban berikutnya adalah ia merasa bahwa jika dirinya tidak turun tangan, semuanya akan berantakan atau tidak selesai. Pola ini bisa muncul dalam urusan rumah tangga, pekerjaan, hingga tugas-tugas kecil yang sebenarnya bisa dibagi.

3. Terlalu sering meminta maaf

Perempuan yang terlalu banyak berkorban kerap meminta maaf bahkan untuk hal-hal yang sebenarnya wajar. Misalnya saat ia butuh istirahat, terlambat membalas pesan karena sibuk, atau sekadar menyampaikan kebutuhan dirinya.

Sebuah studi dalam jurnal Aging & Mental Health menunjukkan bahwa banyak perempuan mengalami kekhawatiran menjadi beban bagi orang lain. Akibatnya, mereka terus menekan diri untuk sempurna, sambil meminta maaf atas kebutuhan dasar yang seharusnya wajar.

4. Memberi kesempatan berkali-kali pada orang yang tidak pantas

Ia terus memberi kesempatan berkali-kali pada orang yang berulang kali mengecewakan atau menyakitinya. Padahal, lawan bicaranya tidak benar-benar menunjukkan niat untuk berubah.

Sikap ini sering muncul karena ia takut kehilangan hubungan atau merasa harus terus memahami orang lain. Padahal tanpa sadar, hal itu bisa menjadi tanda lemahnya batasan diri.

5. Menoleransi perilaku buruk

Ciri selanjutnya adalah ia memilih diam saat diperlakukan tidak adil, diremehkan, diabaikan, atau hanya dicari saat dibutuhkan. Baginya, menjaga suasana tetap tenang terasa lebih penting daripada menyuarakan isi hati.

Dalam banyak hubungan, perempuan memang sering diberi peran sebagai penyangga emosi keluarga atau pasangan. Namun dukungan emosional bukan berarti harus menerima perlakuan buruk.

6. Menganggap loyalitas sama dengan pengorbanan diri

Sebagian perempuan percaya bahwa setia berarti harus terus memberi, mengalah, dan menomorduakan diri sendiri. Mereka mengukur cinta dan loyalitas dari seberapa jauh ia bisa berkorban.

Penelitian dari Stanford University menunjukkan bahwa pengorbanan diri yang disertai penekanan emosi dapat berdampak negatif pada kesejahteraan hubungan.

7. Takut dianggap "terlalu berlebihan"

Ia khawatir dianggap terlalu sensitif, terlalu menuntut, terlalu emosional, atau terlalu banyak meminta. Karena itu, ia memilih menahan kebutuhan dan menyesuaikan diri agar tetap diterima.

Menurut psikologi, banyak perempuan sejak kecil disosialisasikan untuk tampil lebih penurut, tenang, dan tidak merepotkan. Akibatnya, saat mereka butuh bantuan, mereka justru merasa bersalah. Ini membuat mereka terus memberi, tetapi ragu untuk menerima.

8. Mencari validasi dari orang lain

Karena jarang merasa dihargai secara tulus, ia menjadi sangat bergantung pada pengakuan dari luar. Ia ingin dipuji, diperhatikan, atau setidaknya diakui bahwa semua usahanya berarti.

Perilaku ini bisa muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari terus menunggu ucapan terima kasih, ingin dianggap paling bisa diandalkan, sampai mengubah penampilan atau perilaku demi diterima.

9. Selalu mengubah rutinitas demi orang lain

Ciri perempuan yang lebih banyak berkorban berikutnya adalah selalu mengubah rutinitas demi orang lain, seperti membatalkan waktu istirahat, menunda kebutuhan pribadi, atau mengubah jadwalnya hanya untuk memenuhi kebutuhan orang lain.

10. Tidak ada yang benar-benar mengecek keadaannya

Ciri berikutnya adalah ia selalu hadir untuk orang lain, tetapi saat dirinya lelah atau terpuruk, hampir tidak ada yang sungguh-sungguh menanyakan kabarnya. 

Studi dalam The Journal of Social Psychology menemukan bahwa dukungan sosial yang timbal balik berkaitan erat dengan kesejahteraan dan kepuasan hidup. Saat perempuan terus memberi tanpa menerima dukungan yang seimbang, ia bisa merasa sendirian meski dikelilingi banyak orang.

11. Sering membuat alasan untuk perilaku orang lain

Ketika disakiti, ia justru sibuk membela atau memaklumi orang yang melukainya. Memaklumi terus-menerus bisa membuat luka emosional tidak benar-benar diselesaikan. Alih-alih mengakui bahwa dirinya tersakiti, ia menolak perasaannya sendiri demi mempertahankan hubungan.

Bunda, perempuan yang terlalu banyak berkorban untuk orang lain bukan berarti lemah. Sering kali, mereka hanya terlalu lama terbiasa menjadi tempat bersandar semua orang.

Karena itu, belajar berkata tidak, menetapkan batasan, dan menyadari bahwa diri sendiri juga layak diperhatikan adalah langkah penting untuk membangun hubungan yang lebih sehat dan setara.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

Simak video di bawah ini, Bun:

Tak Sepenuhnya Introvert atau Ekstrovert, Ini yang Disebut Otrovert

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Surya Insomnia & Keluarga Liburan ke Selandia Baru, Road Trip hingga Nikmati Pemandangan Indah

Mom's Life Nadhifa Fitrina

Potret Evelyn & Juan Sambut Kelahiran Anak Pertama, Nama Bayi Laki-lakinya Unik Bun

Kehamilan Pritadanes

11 Ciri Perempuan Terlalu Banyak Berkorban untuk Orang yang Tak Melakukan Hal Sama Menurut Psikologi

Mom's Life Azhar Hanifah

Charlie Puth Resmi jadi Ayah

Parenting Regita Diah & Dwi Rachmi

7 Resep Jus Detoks Selama 7 Hari, Demi Tubuh Sehat Usai Lebaran

Mom's Life Amira Salsabila

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

7 Resep Smoothies Mangga untuk Atasi GTM Anak, Enak dan Mudah Dibuat

Potret Evelyn & Juan Sambut Kelahiran Anak Pertama, Nama Bayi Laki-lakinya Unik Bun

Surya Insomnia & Keluarga Liburan ke Selandia Baru, Road Trip hingga Nikmati Pemandangan Indah

Charlie Puth Resmi jadi Ayah

7 Resep Jus Detoks Selama 7 Hari, Demi Tubuh Sehat Usai Lebaran

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK