HaiBunda

MOM'S LIFE

Foodscaping Jadi Tren Berkebun 2026, Halaman Cantik Sekaligus Bisa Panen Sayur & Buah

Arina Yulistara   |   HaiBunda

Selasa, 02 Jun 2026 21:10 WIB
Ilustrasi foodscaping / Foto: Getty Images/iStockphoto/vavlt

Bunda ingin menata ulang pekarangan rumah? Mari coba terapkan foodscaping yang menjadi tren berkebun di 2026.

Pada 2026, tren berkebun diprediksi akan mengarah pada konsep yang lebih produktif dan berkelanjutan. Salah satunya melalui foodscaping, yakni teknik menata lanskap dengan menggabungkan tanaman hias dan tanaman pangan dalam satu area yang harmonis.

Konsep ini semakin diminati karena menawarkan banyak manfaat sekaligus, mulai dari mempercantik taman, menyediakan hasil panen sayur, buah, dan rempah untuk kebutuhan rumah tangga, hingga membantu mengurangi jejak karbon.


Tak heran jika para pakar lanskap dan hortikultura menilai foodscaping akan menjadi salah satu tren taman terbesar beberapa tahun ke depan. Mari bahas mengenai foodscaping yang tak hanya membuat halaman rumah menjadi lebih cantik tapi juga bisa panen sayur dan buah sendiri.

Foodscaping jadi tren berkebun 2026

Foodscaping sering disebut sebagai versi modern dari kebun dapur tradisional ala Prancis atau potager. Berbeda dengan kebun sayur konvensional yang biasanya dipisahkan dari area taman utama, foodscaping justru menyatukan tanaman pangan dengan elemen lanskap dekoratif.

Tanaman yang digunakan dalam konsep ini dikenal sebagai edimentals, yaitu tanaman dengan nilai estetika sekaligus dapat dimakan. Jenisnya sangat beragam, mulai dari tanaman tahunan, semak, hingga pohon buah. Mengutip Homes & Gardens, keunggulan utama foodscaping terletak pada efisiensi pemanfaatan sumber daya.

Tanaman pangan bisa menghias taman

Salah satu tren foodscaping yang diperkirakan semakin populer pada 2026 adalah penggunaan tanaman pangan sebagai bagian dari border atau area tanam yang biasanya diisi tanaman hias.

Beberapa tanaman berbunga seperti calendula dan lavender Inggris dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan kuliner sekaligus mempercantik taman. Sementara itu, tanaman seperti kale, artichoke, rhubarb, dan chard dengan batang berwarna cerah mampu menciptakan tampilan visual menarik tanpa mengurangi fungsi produktif.

Konsep ini membantu mengubah pandangan bahwa tanaman pangan harus selalu ditanam di kebun khusus yang terpisah dari taman utama.

Adaptasi terhadap perubahan iklim

Perubahan iklim dan meningkatnya kekhawatiran terhadap ketersediaan air juga menjadi alasan mengapa foodscaping semakin relevan. Banyak pemilik rumah mulai mencari tanaman yang tetap produktif tapi tidak membutuhkan banyak air.

Bunda direkomendasikan menggunakan tanaman pangan tahan kekeringan, seperti pir berduri (Opuntia ficus-indica). Opuntia ficus-indica merupakan pir berduri yang indah untuk taman kering dan menghasilkan buah yang dapat dimakan.

Foodscaping kemungkinan akan berkembang dengan mempertimbangkan perubahan iklim di setiap wilayah. Di daerah gurun misalnya, beberapa pohon buah batu yang dahulu tumbuh produktif kini mulai kesulitan berkembang.

Tanaman edibel menjadi elemen desain lanskap

Selain menghasilkan bahan pangan segar, foodscaping juga menawarkan manfaat ekonomi karena dapat mengurangi biaya belanja dan menekan jarak distribusi makanan atau food miles. Tanaman yang bisa dimakan sebenarnya berfungsi layaknya elemen desain lanskap konvensional.

Tanaman produktif dapat digunakan sebagai pembatas taman, peneduh, pagar hidup, hingga pembentuk zona tertentu di halaman rumah. Pilihannya pun sangat beragam, mulai dari blueberry, elderberry, murbei, hingga berbagai jenis pohon kacang-kacangan.

Tren berkebun yang lebih ramah lingkungan

Popularitas foodscaping juga didorong oleh meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap keberlanjutan lingkungan. Kehadiran berbagai tanaman pangan di taman rumah dapat membantu meningkatkan keanekaragaman hayati sekaligus menyediakan habitat bagi serangga penyerbuk dan satwa liar

Foodscaping diprediksi tidak lagi terbatas pada proyek perumahan individu. Bahkan diperkirakan berkembang hingga kawasan permukiman dan kampus.

Selain mengurangi penggunaan kemasan makanan dan menekan emisi dari distribusi pangan, foodscaping juga membantu menciptakan ekosistem yang lebih sehat. Berbagai jenis bunga, tanaman herbal, pohon buah, dan semak produktif mampu menarik lebah, kupu-kupu, serta serangga bermanfaat lainnya.

Keberadaan tanaman berbuah juga menyediakan sumber makanan, tempat berlindung, dan area bersarang bagi burung maupun satwa kecil. Untuk itu, foodscaping dipandang bukan sekadar tren berkebun sesaat, melainkan pendekatan yang memadukan keindahan, produktivitas, serta keberlanjutan lingkungan dalam satu konsep taman modern.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

Simak video di bawah ini, Bun:

Daun Kelor Bantu Atasi Berbagai Penyakit

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Ramai Obat Penurun Berat Badan Disebut Bisa Turunkan Risiko Kanker Payudara, Simak Faktanya

Menyusui Annisa Aulia Rahim

Cara Aman Mengobati Jerawat, Psoriasis, hingga Eksim Selama Kehamilan

Kehamilan Annisa Karnesyia

5 Cara Membicarakan AI dengan Anak, Bunda Perlu Tahu

Parenting Kinan

5 Kalimat yang Dapat Memperkeruh Pertengkaran Menurut Pakar, Jangan Diucapkan saat Emosi

Mom's Life Amira Salsabila

6 Kebiasaan Orang yang Insecure Secara Mental dan Emosional

Mom's Life Amira Salsabila

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

5 Cara Membicarakan AI dengan Anak, Bunda Perlu Tahu

Ramai Obat Penurun Berat Badan Disebut Bisa Turunkan Risiko Kanker Payudara, Simak Faktanya

Cara Aman Mengobati Jerawat, Psoriasis, hingga Eksim Selama Kehamilan

5 Drama China Romantis dengan Male Lead yang Jatuh Cinta Lebih Dahulu, Bikin Baper

5 Kalimat yang Dapat Memperkeruh Pertengkaran Menurut Pakar, Jangan Diucapkan saat Emosi

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK