HaiBunda

MOM'S LIFE

Diet Anti-Inflamasi untuk Perut Rata Ramai di Medsos, Ahli Gizi Beri Peringatan

Annisa Karnesyia   |   HaiBunda

Kamis, 11 Jun 2026 07:40 WIB
Diet Anti-Inflamasi untuk Perut Rata Ramai di Medsos, Ahli Gizi Beri Peringatan/ Foto: Getty Images/iStockphoto/Tomwang112
Jakarta -

Diet anti-inflamasi tengah populer di media sosial, Bunda. Diet yang disebut mendominasi di tahun 2026 ini dipercaya dapat mengatasi peradangan kronis hingga bikin perut rata.

Seperti diketahui, inflamasi atau peradangan kronis dapat merusak jantung, otak, dan organ lainnya di tubuh. Pada kondisi yang serius, peradangan bisa memicu penyakit kanker, Alzheimer, hingga depresi.

Apa itu diet anti-inflamasi?

Diet anti-inflamasi biasanya didasarkan pada makanan utuh yang kaya akan nutrisi dan mengandung antioksidan. Antioksidan bekerja dengan mengurangi kadar radikal bebas, yakni molekul reaktif yang dapat menyebabkan peradangan jika tidak dikendalikan.


"Pola makan anti-inflamasi harus menyediakan keseimbangan protein, karbohidrat, dan lemak yang sehat setiap waktu makan. Pastikan juga kita bisa memenuhi kebutuhan tubuh akan mikronutrien, serat, dan air," kata ahli diet dan nutrisi Jerlyn Jones, MS MPA RDN LD CLT, dilansir Healthline.

Dalam diet anti-inflamasi, banyak orang percaya bahwa mengonsumsi makanan dan minuman tertentu dapat mengurangi dan mencegah peradangan. Sebaliknya, kebiasaan diet tertentu dengan mengonsumsi makanan tidak sehat dapat memicu peradangan.

Hal yang sama juga disampaikan ahli gizi Julia Zumpano, RD, LD, dalam ulasan di laman Cleveland Clinic. Zumpano mengatakan bahwa istilah diet anti-inflamasi sebenarnya tidak merujuk pada pola diet tertentu. Diet ini berfokus pada gaya makan secara keseluruhan.

Namun, alih-alih fokus pada diet anti-inflamasi, ada dua gaya makan yang terbukti dapat membantu mengurangi peradangan, yakni diet Mediterania dan diet DASH.

"Laporan penelitian yang positif menunjukkan bahwa diet tersebut berhasil mengurangi peradangan, serta kolesterol, berat badan, tekanan darah, dan gula darah," ungkap Zumpano.

Manfaat diet anti-inflamasi

Diet anti-inflamasi dapat memberikan manfaat bagi tubuh. Berikut beberapa manfaatnya:

  • Membuat kulit tampak lebih bersih
  • Berkurangnya nyeri otot atau sendi
  • Berkurangnya pembengkakan pada tangan dan kaki
  • Lebih sedikit sakit kepala
  • Gejala gangguan pencernaan membaik (diare, perut kembung, mual, sakit perut)
  • Tidur lebih nyenyak
  • Mengurangi kecemasan, stres, atau kabut otak
  • Menurunkan tekanan darah
  • Menurunkan kadar gula darah
  • Meningkatkan energi
  • Penurunan berat badan

Kunci keberhasilan dari diet anti-inflamasi adalah ketika seseorang mulai merasa kondisi tubuhnya lebih baik. Setelah menjalani diet ini, penting bagi kita untuk memerhatikan perubahan positif pada kondisi kesehatan.

"Ada banyak cara tubuh dapat bereaksi terhadap diet anti-inflamasi," kata Zumpano.

Makanan yang dikonsumsi dalam diet anti-inflamasi

Ada banyak jenis makanan yang dapat dikonsumsi selama menjalani diet anti-inflamasi. Berikut daftarnya:

  • Buah segar, seperti apel, beri, alpukat, dan jeruk
  • Sayuran segar, seperti sayuran berdaun hijau, paprika, dan brokoli.
  • Protein rendah lemak, seperti ayam dan kalkun
  • Ikan berlemak, termasuk salmon, tuna, herring, atau mackerel
  • Biji-bijian utuh, seperti beras merah, beras liar, dan gandum.
  • Kacang-kacangan, termasuk kacang kering dan kacang polong
  • Rempah-rempah, seperti kunyit dan kayu manis
  • Minyak sehat, termasuk minyak zaitun extra virgin

Makanan yang dihindari selama diet anti-inflamasi

Menjauhi makanan tidak sehat termasuk dalam diet anti-inflamasi, Bunda. Melansir dari laman John Hopkins Medicine, berikut beberapa makanan yang sebaiknya dihindari selama menjalani diet ini:

  • Daging merah, seperti steak dan hamburger
  • Daging olahan, seperti bologna, bacon, sosis, dan daging olahan untuk makan siang
  • Produk roti komersial, seperti kue camilan, pai, kue kering, dan brownies
  • Roti dan pasta yang terbuat dari tepung terigu putih
  • Makanan yang digoreng, seperti kentang goreng, ayam goreng, dan donat
  • Makanan yang tinggi kandungan gula tambahan, termasuk permen, jeli, dan sirup
  • Minuman manis, seperti soda, minuman teh dalam botol atau kaleng, dan minuman olahraga
  • Lemak trans yang ditemukan dalam margarin, popcorn microwave, biskuit dan adonan yang didinginkan, serta krimer kopi non-susu

Apakah diet anti-inflamasi aman untuk semua orang?

Diet inflamasi yang merujuk pada pola makan sehat memang bisa memberikan manfaat bagi kesehatan. Namun, diet ini sebenarnya tidak spesifik dan dari segi sains masih kurang jelas.

"Sebenarnya tidak ada satu pun diet anti-inflamasi yang disepakati secara universal," ungkap ilmuwan nutrisi di King's College London, Dr. Emily Prpa, dilansir laman Marie Claire.

Sejauh ini, hanya sebagian besar penelitian yang melihat pola makan terkait dengan tingkat peradangan lebih rendah dan hasil kesehatan jangka panjang yang lebih baik. Salah satu contoh yang paling banyak diteliti adalah diet Mediterania, yang telah dikaitkan dengan penurunan risiko penyakit jantung, demensia, diabetes tipe 2, dan kanker tertentu, serta peningkatan pengelolaan berat badan dan umur panjang.

Di sisi lain, pemicu peradangan setiap orang bisa berbeda, Bunda. Sebagai contoh, seseorang yang mengidap kondisi kronis kemungkinan mengalami peradangan kronis.

Ada beberapa kondisi yang terkait dengan peradangan, seperti penyakit Crohn, penyakit jantung, tekanan darah tinggi, sindrom iritasi usus, sklerosis ganda, obesitas, psoriasis, artritis reumatoid, dan diabetes tipe 1.

"Kita mengetahui beberapa hubungan umum. Misalnya, pati olahan dan daging olahan tidak baik untuk pengidap penyakit jantung, gluten dan produk susu dapat memperburuk gangguan usus, dan sayuran nightshade (tomat, kentang putih, terong, paprika) dapat memicu peradangan pada orang yang mengidap radang sendi. Tetapi setiap orang perlu menemukan pemicu pribadinya," ungkap Zumpano.

Bila ingin mengikut diet anti-inflamasi, banyak pakar kesehatan menyarankan untuk berkonsultasi dulu dengan ahli gizi. Pasalnya, kondisi tubuh setiap orang berbeda dalam bereaksi terhadap pola diet tertentu.

Demikian serba-serbi diet anti-inflamasi menurut pakar. Semoga informasi ini bermanfaat ya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/pri)

Simak video di bawah ini, Bun:

Diet Mediterania Kembali Jadi Diet Paling Sehat di Dunia, Ini Alasannya

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Anak Mulai Berkata Kasar? Begini Cara Menyikapinya Menurut Harvard

Parenting Kinan

5 Potret Terbaru Ashanty Mantap Berhijab Usai Naik Haji, Curi Perhatian Publik

Mom's Life Amira Salsabila

Dampak Psikologis di Balik Tangis Pilu Anak Terduga Pencuri Ayam di Bali

Parenting Tim HaiBunda

7 Potret Rumah Baru Aaliyah & Thariq Halilintar, Hangat & Homey Banget

Mom's Life Amrikh Palupi

Skin to Skin Usai Melahirkan Bantu Tenangkan Bayi, tapi Tak Turunkan Risiko Kuning

Kehamilan Amrikh Palupi

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Deretan Publik Figur Menangis Usai Lihat Video Anak Histeris Ayah Tewas Dihakimi Massa

Mengenal IVF Add-Ons, Apakah Efektif Bantu Kesuksesan Program IVF?

Anak Mulai Berkata Kasar? Begini Cara Menyikapinya Menurut Harvard

Dampak Psikologis di Balik Tangis Pilu Anak Terduga Pencuri Ayam di Bali

5 Potret Terbaru Ashanty Mantap Berhijab Usai Naik Haji, Curi Perhatian Publik

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK