moms-life
Cara Mengenali Orang Suka Marah Berlebihan dari Obrolan yang sering Diucapkan Sehari-hari
HaiBunda
Senin, 29 Jun 2026 14:00 WIB
Daftar Isi
-
Cara mengenali orang suka marah berlebihan dari obrolan yang sering diucapkan sehari-hari
- 1. "Saya tidak ingin melanjutkan lagi"
- 2. "Saya tidak mau melihatmu sekarang"
- 3. "Jangan menguji kesabaran saya sekarang!"
- 4. "Saya hampir kehilangan kendali"
- 5. "Kamu memang tidak pernah mengerti saya"
- 6. "Kenapa hanya saya yang bisa melakukannya dengan benar?"
- 7. "Saya tidak punya waktu untuk hal ini"
- 8. "Saya tidak akan berteriak kalau kamu mau mendengarkan"
- 9. "Bukan saya yang bermasalah, tetapi kamu"
- 10. "Saya tidak mengerti mengapa harus menghadapi masalah ini lagi"
- 11. "Apa sesulit itu melakukannya dengan benar?"
Tidak ada seorang pun yang ingin dianggap sebagai pribadi yang pemarah. Banyak orang menilai sikap ini sebagai tanda bahwa seseorang sulit mengendalikan diri.
Padahal, setiap orang tentu pernah merasakan marah. Namun, hanya saja sebagian orang yang memiliki kemarahan berlebihan akhirnya melampiaskannya kepada orang lain.
Pada dasarnya, tidak ada emosi yang sepenuhnya buruk. Nah, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana seseorang mengekspresikan rasa marah tersebut, apakah dengan cara sehat atau justru menyakiti orang lain.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketika seseorang terus-menerus mengucapkan kalimat tersebut saat berbicara, hal itu menjadi tanda adanya emosi yang belum diselesaikan dengan baik. Lambat laun, kebiasaan itu dapat membuat hubungan dengan orang lain menjadi renggang.
Bicara soal hal ini, ada beberapa cara mengenali orang yang suka marah berlebihan dari obrolan yang sering mereka ucapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Cara mengenali orang suka marah berlebihan dari obrolan yang sering diucapkan sehari-hari
Dilansir dari laman Your Tango, ada beberapa cara mengenali orang yang suka marah berlebihan dari ucapan yang mereka lontarkan dalam keseharian. Simak selengkapnya yuk:
1. "Saya tidak ingin melanjutkan lagi"
Rasa marah sebenarnya hal yang wajar dalam setiap hubungan, baik dengan pasangan, keluarga, maupun teman. Namun, yang paling penting adalah bagaimana seseorang mengatur emosi tersebut, Bunda.
Orang yang sulit mengendalikan amarah mudah terbawa emosi saat menghadapi masalah. Ketika emosinya memuncak, mereka kerap mengucapkan kalimat seperti, "Saya tidak ingin melanjutkan lagi".
Seorang psikolog asal Amerika Serikat, Bernard Golden, PhD, mengatakan bahwa mengenali kemarahan adalah kunci untuk menghadapinya dengan bijaksana. Nah, cara sehat untuk mengelola amarah melibatkan berhenti sejenak dan merenungkan apa yang dipikirkan dan rasakan.
2. "Saya tidak mau melihatmu sekarang"
Memberi jarak saat sedang bertengkar sebenarnya bukan sesuatu yang salah. Bahkan, mengambil waktu sejenak untuk menenangkan diri membantu seseorang mengendalikan emosi sebelum berbicara lebih jauh.
Bagi orang yang sulit mengendalikan amarah, meluapkan emosi memang melegakan untuk sesaat. Namun setelah emosi mereda, perasaan tersebut kerap berubah menjadi penyesalan atau rasa malu.
3. "Jangan menguji kesabaran saya sekarang!"
Bunda perlu tahu bahwa ungkapan seperti ini menunjukkan bahwa seseorang sedang kesulitan mengendalikan amarahnya dan mudah terpancing oleh situasi di sekitarnya.
Orang yang sulit mengendalikan amarah suka merasa bahwa emosi yang mereka rasakan sepenuhnya disebabkan oleh orang lain. Maka dari itu, mereka mengucapkan kalimat ini untuk menyalahkan orang lain.
4. "Saya hampir kehilangan kendali"
Jika seseorang mengucapkan ini, bisa jadi mereka menyadari dirinya sedang marah. Namun, ucapan tersebut dapat terdengar seperti ancaman jika tidak ada keinginan untuk menenangkan diri.
Lalu, bagaimana cara mengatasinya? Cara efektif untuk meredakan amarah adalah dengan memberi waktu pada diri sendiri untuk menenangkan tubuh dan pikiran, Bunda.
Saat emosi mulai mereda, seseorang dapat berpikir lebih jernih dan tidak mudah melampiaskan kemarahannya kepada orang lain. Mengambil jeda sejenak, beristirahat, atau menjauh dari situasi yang memicu emosi dapat mengurangi ketegangan.
5. "Kamu memang tidak pernah mengerti saya"
Dalam sebuah perdebatan, ucapan seperti ini menunjukkan rasa kecewa atau marah yang sedang dirasakan oleh seseorang. Apa pun jawaban yang diberikan, pasti akan tetap salah di mata orang yang sedang emosi.
Ketika lawan bicara mengaku tidak paham, hal itu dianggap membenarkan kemarahannya, sedangkan jawaban yang setuju pun terkadang tetap ditolak. Jika ini terus terjadi, orang di sekitar memilih menjaga jarak atau lebih berhati-hati saat berbicara.
6. "Kenapa hanya saya yang bisa melakukannya dengan benar?"
Dalam situasi yang penuh amarah, ada orang yang suka mengatakan kalimat ini sebagai bentuk kekesalannya terhadap orang lain. Maka dari itu, lawan bicara kerap merasa bingung saat mendengar hal ini.
Orang yang mengucapkan kalimat ini menganggap diri mereka lebih baik daripada orang lain. Itulah mengapa, mereka sulit sekali menerima kesalahan dari sudut pandang orang lain.
7. "Saya tidak punya waktu untuk hal ini"
Berikutnya, kalimat seperti "Saya tidak punya waktu untuk hal ini" sebenarnya boleh saja diucapkan jika seseorang sedang sibuk atau memiliki banyak pekerjaan.
Namun, beda ceritanya jika disampaikan dengan nada marah, ucapan tersebut dapat membuat orang lain merasa tidak dihargai atas kehadirannya, Bunda. Akibatnya, hubungan dengan orang di sekitarnya pun bisa menjadi renggang.
8. "Saya tidak akan berteriak kalau kamu mau mendengarkan"
Kalimat ini diucapkan seseorang untuk membenarkan kemarahan yang sedang dirasakan. Seolah-olah kesalahan sepenuhnya ada pada orang lain, Bunda.
Psikolog asal Amerika Serikat, Nick Wignall, menyampaikan bahwa banyak orang sebenarnya menyimpan kemarahan mereka. Emosi yang terus dipendam itu akhirnya dapat meledak ketika sudah tidak mampu ditahan lagi.
Seseorang pun bisa meluapkannya dengan cara yang kurang sehat, misalnya berteriak atau menyalahkan orang lain.Â
"Merasa frustrasi dan marah itu wajar. Tetapi cara Anda menghadapi perasaan tersebut bisa sangat tidak sehat," jelas Wignall.
"Cara paling sehat untuk menghadapi amarah adalah dengan mengakui, memvalidasi, bertindak tegas jika perlu, atau membiarkannya saja jika tidak," lanjutnya.
9. "Bukan saya yang bermasalah, tetapi kamu"
Dalam beberapa situasi, kemarahan bisa terjadi karena seseorang merasa tidak aman atau tidak percaya diri. Perasaan itu yang kemudian membuat mereka melampiaskan emosi kepada orang-orang di sekitarnya.
Saat diminta untuk bertanggung jawab, mereka kerap menolak untuk mengakui kesalahannya. Sebaliknya, mereka justru mengatakan bahwa masalahnya sepenuhnya berasal dari orang lain.
10. "Saya tidak mengerti mengapa harus menghadapi masalah ini lagi"
Saat seseorang mencoba membahas masalah yang belum selesai, orang yang sulit mengendalikan amarah merasa dirinya sedang disalahkan. Padahal, orang lain mungkin hanya ingin mencari solusi atau menyelesaikan persoalan yang ada.
Akibatnya, mereka bersikap defensif dan enggan membicarakan masalah tersebut. Kalimat seperti ini pun terucap saat emosi mulai meningkat.
11. "Apa sesulit itu melakukannya dengan benar?"
Alih-alih mencari solusi, kalimat tersebut justru membuat lawan bicara merasa terpojok. Orang yang menerimanya pun merasa tidak dihargai atau dianggap tidak mampu.
Dalam banyak situasi, orang yang mudah marah sulit paham alasan di balik sebuah kesalahan. Mereka hanya fokus pada hasil yang tidak sesuai harapan daripada mencoba mengerti kesulitan yang sedang dialami orang lain.
Di lingkungan kerja, hal ini terjadi ketika seseorang menetapkan standar yang tinggi atau tidak memberikan arahan yang jelas. Akibatnya, orang lain sulit memenuhi harapan yang sebetulnya itu belum dijelaskan dengan baik.
Itulah beberapa cara mengenali orang yang suka marah berlebihan dari ucapan yang sering mereka lontarkan dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ndf/fir)ARTIKEL TERKAIT
Mom's Life
Bunda Perlu Tahu, Ini Trik Sederhana Usir Stres Saat di Rumah
Mom's Life
Anniversary Mommies Daily ke-10 Ajak Bunda Lebih Peduli Kesehatan Mental
Mom's Life
Peran Psikolog Klinis Atasi Kesehatan Mental di Masa Pandemi & Era Pesatnya Teknologi
Mom's Life
Tak Hanya Fisik Bun, Kesehatan Mental Juga Penting Dijaga Saat Pandemi
Mom's Life
4 Alasan Orang Tua Perlu Periksa Kesehatan Mentalnya, Bunda Perlu Tahu
5 Foto
Mom's Life
5 Potret Zhao Lusi Bintang Hidden Love Sebelum Jatuh Sakit hingga Pakai Kursi Roda dan Akui Alami Depresi
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Cara Mengenali Seseorang Punya EQ Rendah Dilihat dari Kebiasaan Sehari-hari
9 Cara Mengenali Orang Tidak Tulus dari Kesehariannya
Cara Mengenali Orang Pemilik IQ Tinggi dari Trik Psikologis yang Digunakan Sehari-hari