HaiBunda

MOM'S LIFE

8 Kalimat yang Sering Diucapkan Orang dengan Mental dan Emosi Rapuh

Amira Salsabila   |   HaiBunda

Rabu, 21 Oct 2026 11:35 WIB
Ilustrasi kalimat yang sering diucapkan orang dengan mental dan emosi rapuh /Foto: Getty Images/interstid
Jakarta -

Orang dengan mental dan emosi yang rapuh terkadang sulit menyadari nilai dirinya sendiri. Mereka cenderung meragukan kemampuan, terlalu memikirkan penilaian orang lain, hingga merasa tidak enak saat harus menyampaikan keinginan.

Sikap tersebut juga dapat terlihat dari cara seseorang berbicara alih-alih berani menyatakan pendapat atau menetapkan batasan, mereka kerap menggunakan kalimat yang menunjukkan keraguan dan membuat orang lain lebih mudah memengaruhi dirinya.

Kebiasaan ini bukan berarti seseorang selalu memiliki kepribadian lemah. Namun, beberapa ucapan tertentu dapat menjadi tanda bahwa seseorang sedang kurang percaya diri atau kesulitan mempertahankan batasan dalam hubungan dengan orang lain.


8 Kalimat yang sering diucapkan orang dengan mental dan emosi yang rapuh

Dirangkum Your Tango, berikut beberapa ungkapan yang sering diucapkan orang yang tidak punya pendirian dengan santai atau rapuh:

1. “Apa pun yang kamu inginkan”

Orang yang tidak punya pendirian akan kehilangan otonominya. Pengambilan keputusan menjadi tugas orang lain, meskipun mereka memiliki kebutuhan dan pendapat sendiri tentang pilihan apa yang seharusnya mereka ambil.

Meski berusaha menyenangkan orang lain, menyerahkan kekuasaan mereka justru menciptakan beban emosional.

Bagi orang-orang yang ingin membangun hubungan, mereka mungkin akan cepat frustrasi ketika merekalah satu-satunya orang yang membuat keputusan penting.

2. “Tidak, tidak apa-apa”

Banyak orang yang takut untuk terbuka dan rentan mulai mengabaikan diri sendiri dengan kebiasaan menghindar. Mereka mengabaikan kebutuhan sendiri dan mengalihkan perhatian dari konflik dengan ungkapan seperti “Tidak apa-apa”.

Bagi orang-orang yang memiliki kebutuhan tambahan akan kepastian dan validasi, ungkapan seperti ini dimaksudkan untuk melindungi citra sosialnya.

Bahkan, ketika mereka memiliki emosi dan masalah rumit yang muncul ke permukaan, mereka menemukan cara untuk mengelak dengan mengatakan, “Tidak, tidak apa-apa”.

3. “Aku tidak bermaksud begitu”

Begitu seseorang marah atau tidak segera meminta maaf, orang yang tidak memiliki keteguhan emosional akan menarik diri.

Tiba-tiba, masalah dan emosi yang mereka ungkapkan ditarik kembali dengan ungkapan seperti “Aku tidak bermaksud begitu”, dalam upaya putus asa untuk mempertahankan citra mereka di mata publik.

4. “Aku akan mencari solusinya”

Jika tidak memiliki kepercayaan diri untuk mengatakan tidak, perilaku menyenangkan orang lain yang terjadi setelahnya dapat menyebabkan kelelahan dan berbagai masalah kesehatan mental.

Mengatakan “Aku akan mencari solusinya” ketika diminta untuk mengambil lebih banyak pekerjaan atau menambah daftar kewajiban mereka yang sudah tidak berkelanjutan adalah bentuk pengabaian diri.

5. “Aku tidak marah”

Mereka sedang melatih pikiran bawah sadarnya untuk tidak mempercayai diri sendiri. Ketika orang bertanya apakah mereka kesal dan mereka menjawab “Aku tidak marah”.

Meski menghindari konflik mungkin memberikan kelegaan sesaat, hal itu justru menciptakan lebih banyak ketegangan dan stres.

Ketika merasa tidak yakin dengan diri sendiri dan tidak tahu bagaimana membela diri, konflik bisa terasa menakutkan alih-alih membangkitkan semangat dan melegakan.

6. “Jangan khawatirkan aku”

Orang yang mengatakan “Jangan khawatirkan aku”, sebenarnya membutuhkan dukungan. Mereka menghindari mengungkapkan kebutuhan mereka karena takut menjadi beban. Mereka terus-menerus memberi orang jalan keluar, sehingga menambah tekanan pada mereka.

7. “Aku tidak ingin menjadi beban”

Kecemasan yang memicu rasa tidak aman atau perilaku mencari pengakuan juga dapat memengaruhi rasa takut menjadi beban dalam hubungan, menurut sebuah studi tahun 2021.

Mereka cemas karena tidak dapat membela diri sendiri, tetapi mereka juga khawatir bergantung pada orang lain untuk mendapatkan dukungan.

8. “Seharusnya aku tidak melakukan itu”

Ketika tidak memiliki ketegasan untuk meminta pertanggungjawaban atau menciptakan batasan yang nyata dan jujur, menerima kesalahan bisa terasa seperti satu-satunya cara untuk mendapatkan kendali.

Orang-orang seperti ini tidak dapat mengendalikan apa yang terjadi secara internal dan emosional, mereka hanya bisa mengatakan “Seharusnya aku tidak melakukan itu” untuk menentukan bagaimana perasaan atau reaksi orang-orang di sekitarnya.

Nah, itulah beberapa kalimat yang sering disampaikan orang dengan mental dan emosi yang rapuh. Semoga bermanfaat, ya, Bunda.

Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!

(asa/som)

Simak video di bawah ini, Bun:

Ini 4 Kata Psikologis agar Permintaan Lebih Mudah Diterima

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Ciri Kepribadian Anak yang Sering Dimarahi Orang Tua

Parenting Tiara Jasmine & Fauzan Julian Kurnia

8 Kalimat yang Sering Diucapkan Orang dengan Mental dan Emosi Rapuh

Mom's Life Amira Salsabila

Bulan Lahir Perempuan yang Miliki Daya Tarik Paling Tinggi Menurut Riset

Mom's Life Azhar Hanifah

Aktris Choi Yoo Hwa Bagikan Foto Menyusui di Tempat Umum, Picu Perdebatan Warganet Korea Selatan

Menyusui Amrikh Palupi

Kompak dan Bikin Gemas! Intip Momen Manis Ketiga Anak Lesti Kejora dan Rizky Billar

Parenting Annisa Karnesyia

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Dokter Paru Ungkap Efek Asap Karhutla bagi Kesehatan

Ciri Kepribadian Anak yang Sering Dimarahi Orang Tua

Ferdy Hasan Ungkap Rasa Bangga saat Dampingi Putra Berkebutuhan Khusus Wisuda S1

8 Kalimat yang Sering Diucapkan Orang dengan Mental dan Emosi Rapuh

Gramedia Science Day 2026 Jakarta: 880 Siswa SD Tantang Diri dalam Kompetisi Penanggulangan Bencana

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK