MOM'S LIFE
RSJ Tak Lagi Dianggap Menakutkan, Kini Jadi Pilihan untuk Pemulihan Kesehatan Mental
Amira Salsabila | HaiBunda
Sabtu, 10 Oct 2026 07:15 WIBBunda, Hari Kesehatan Mental Sedunia diperingati setiap 10 Oktober untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan mental. Peringatan ini juga menjadi momentum untuk membuka ruang diskusi, menghapus stigma, serta mendorong setiap orang agar lebih peduli terhadap kondisi psikologis diri sendiri maupun orang di sekitarnya.
Seiring meningkatnya perhatian terhadap kesehatan mental, media sosial turut menghadirkan beragam cara unik untuk membicarakan isu tersebut. Belakangan ini, masyarakat Indonesia diramaikan oleh video promosi Rumah Sakit Jiwa (RSJ) yang viral di media sosial. Alih-alih menghadirkan kesan menyeramkan, konten tersebut justru mengundang rasa penasaran hingga menghibur netizen, salah satunya seperti konten yang dikutip dari laman Instagram @rsjdryaunin dan @grhasia_berjaya.
Kolom komentar pun dipenuhi berbagai komentar yang membuat promosi RSJ ini semakin menarik perhatian. Sejumlah netizen bahkan melontarkan gurauan seolah-olah mereka tertarik berkunjung, sementara yang lain mempertanyakan alasan video tersebut muncul di beranda mereka.
“Yang mau refreshing dia bilang,” tulis akun @aw_w**** dengan emoticon menangis.
“Kalau enggak sakit jiwa boleh datang enggak Mas?” tulis akun @_****.
“Kenapa lewat berandaku apa jiwaku mulai terganggu?” tulis akun @bashcomm****.
“Mau ke situ tapi jauhhh dari kota,” tulis akun @yuji****.
“Ini yakin gamau buka cabang di kotaku min? wkwkwk,” tulis akun @klikb****.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana media sosial dapat mengubah cara masyarakat memandang layanan kesehatan mental, termasuk RSJ yang selama ini kerap dikaitkan dengan stigma negatif.
Lantas, bagaimana psikolog melihat tren promosi tersebut dan perubahan persepsi masyarakat terhadap RSJ? Yuk, simak tanggapan selengkapnya berikut ini.
Tanggapan psikolog terkait konten promosi RSJ
Psikolog Alfath Hanifa Megawati (Ega), M.Psi., menilai konten promosi Rumah Sakit Jiwa (RSJ) yang dikemas secara ringan dan menghibur dapat membantu mengurangi ketakutan masyarakat terhadap layanan kesehatan mental. Selama ini, sebagian orang masih menganggap konsultasi kejiwaan, konsumsi obat psikiatri, hingga rawat inap sebagai sesuatu yang menakutkan dan memalukan.
“Masih banyak dari masyarakat yang menganggap bahwa ke RSJ, mempunyai keluhan kejiwaan adalah aib, hal yang memalukan. Sehingga, menutup orang untuk berkenalan lebih lanjut tentang proses dan fasilitas di RSJ. Orang menjadi awam dan tidak kenal. Otak kita akan cenderung resisten pada hal-hal yang tidak kita kenali,” ujar Ega kepada HaiBunda, Kamis (8/10/2026).
Menurutnya, stigma tersebut membuat masyarakat enggan mencari tahu lebih jauh mengenai prosedur maupun fasilitas perawatan yang tersedia. Pengenalan layanan kesehatan jiwa melalui konten yang mudah diterima pun dapat menjadi langkah awal untuk membangun pemahaman sekaligus mengurangi pandangan negatif.
“Harapannya, ketika kenal, lalu familiar, akan mengurangi ketakutan dan keengganan untuk mengakses pengobatan di RSJ. Apalagi konten dibalur dengan hal-hal yang ringan atau lucu. Mengurangi resistensi seseorang untuk menerima info tersebut,” tuturnya.
Pendekatan ringan membantu membangun kepercayaan
Konten promosi RSJ yang viral itu dinilai mampu memunculkan rasa penasaran karena menggunakan pendekatan yang tidak mengancam.
“Mekanisme sama seperti Grooming. Pendekatan yang menyenangkan untuk membangun kepercayaan seseorang. Ketika orang percaya bahwa itu bukan sesuatu yang ‘mengancam’, maka dia akan tertarik untuk mencoba hal tersebut,” ujar Ega.
Ia menambahkan, pengenalan fasilitas secara bertahap dapat membangun familiarity atau rasa akrab terhadap lingkungan perawatan.
“Grooming dalam konten ini dilakukan dengan menjadikan pak satpam (sosok yang tidak menakutkan, bicara terbata-bata, apa adanya, atau lucu) sebagai main character di video, menunjukkan satu per satu fasilitas yang akan diakses pasien jika menggunakan jasa di RS tsb (membangun familiarity), ruangan yang bersih dan ditata rapi (membangun kesan terawat, bukan sesuatu yang diberikan asal-asalan),” sambungnya.
Tren viral bisa membantu mengubah stigma kesehatan mental
Ramainya komentar netizen yang mengaku tertarik menjalani perawatan di RSJ juga berpotensi menunjukkan perubahan cara pandang terhadap kesehatan mental.
Meski demikian, Ega menilai fenomena tersebut belum tentu mencerminkan perubahan stigma secara menyeluruh.
“Menurut saya, konten seperti ini memberikan opsi baru yang aman bagi masyarakat. Dan lagi, perubahan stigma terhadap kesehatan mental dan fasilitas perawatan perlu dilakukan bersamaan dengan aspek lain, seperti dukungan masyarakat, akses yang terjangkau dari sisi biaya, support dari pemerintah dan banyak hal lainnya,” ungkapnya.
Meski ketertarikan terhadap RSJ bermula dari konten viral, psikolog menilai fenomena tersebut tidak selalu berdampak negatif.
Namun, masyarakat tetap perlu memahami bahwa kebutuhan setiap orang berbeda. Tenaga profesional dapat membantu menilai kondisi psikologis seseorang, menentukan apakah keluhan bersifat sementara atau membutuhkan penanganan berkelanjutan, serta merekomendasikan bentuk bantuan yang sesuai.
“Fomo untuk hal yang berguna sepertinya tidak apa ya. Seperti fomo di olahraga, memberikan dampak positif dalam lingkup kesehatan dan relasi sosial (psikis). Nantinya tenaga profesional akan membantu mengedukasi pasien mengenai kondisi dirinya, apakah ini sesuatu yang sementara atau harus ditangani berkelanjutan. Jadi, menurut saya, tidak apa mengakses layanan jika memang merasa perlu ya,” ungkapnya.
Nah, itulah tanggapan psikolog tentang promosi RSJ yang viral di media sosial. Semoga bermanfaat, ya, Bunda.
Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!
(asa/som)Simak video di bawah ini, Bun:
7 Cara Menghadapi Suami NPD
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Hari Kesehatan Mental Sedunia 2025: Ucapan, Sejarah, Tema, dan Pesan Utama
Peran Psikolog Klinis Atasi Kesehatan Mental di Masa Pandemi & Era Pesatnya Teknologi
Tak Hanya Fisik Bun, Kesehatan Mental Juga Penting Dijaga Saat Pandemi
4 Alasan Orang Tua Perlu Periksa Kesehatan Mentalnya, Bunda Perlu Tahu
TERPOPULER
7 Kebiasaan Orang yang Menarik Secara Mental dan Emosional, Bikin Orang Ingin Lebih Dekat
Hamil 28 Minggu, Apa yang Dirasakan dan Perubahan yang Terjadi?
RSJ Tak Lagi Dianggap Menakutkan, Kini Jadi Pilihan untuk Pemulihan Kesehatan Mental
3 Resep Bumbu dari Udang yang Gurih dan Harum, Cocok untuk Berbagai Masakan
Mengenal Disgrafia pada Anak: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya
REKOMENDASI PRODUK
7 Rekomendasi Kipas Portable dengan Angin Kencang, Praktis Dibawa ke Mana Saja
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Eye Patch untuk Mata Lelah dan Panda, Bikin Tampilan Lebih Fresh
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
Deretan Harga Kulkas Termahal dan Fitur di Baliknya
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
7 Rekomendasi Sofa Bayi yang Bagus & Nyaman untuk Belajar Duduk
Annisa KarnesyiaREKOMENDASI PRODUK
9 Rekomendasi Loose Powder untuk Ibu Hamil
Annisa KarnesyiaTERBARU DARI HAIBUNDA
Feby Febiola 5 Th Jadi Cancer Survivor, Ungkap Kehidupan di Bali yang Sederhana tapi Meaningful
3 Resep Bumbu dari Udang yang Gurih dan Harum, Cocok untuk Berbagai Masakan
Hamil 28 Minggu, Apa yang Dirasakan dan Perubahan yang Terjadi?
7 Kebiasaan Orang yang Menarik Secara Mental dan Emosional, Bikin Orang Ingin Lebih Dekat
RSJ Tak Lagi Dianggap Menakutkan, Kini Jadi Pilihan untuk Pemulihan Kesehatan Mental
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Rekomendit
Proyektor Tanpa Layar Khusus: Dinding Biasa Cukup untuk Nonton di Rumah?
-
Beautynesia
BeauPicks: 5 Rekomendasi Body Serum yang Bantu Mencerahkan Kulit
-
Female Daily
Suka Matcha Tapi Bosan Rasa Original? Ini Varian Lainnya yang Wajib Kamu Coba!
-
CXO
Turnamen Voli SBY Cup 2026 di Magelang 13-17 Mei, Ada LavAni-Samator
-
Wolipop
Viral Tradisi Pernikahan Bugis: Satu Tante Satu Emas
-
Mommies Daily
14 Drama Korea Oktober 2026, Ada Ji Chang Wook hingga Kim Ji Won!