parenting

Ibu Ini Membuka Toko Kue untuk Fasilitasi Anaknya yang Autis

Asri Ediyati Senin, 18 Sep 2017 07:00 WIB
Ibu Ini Membuka Toko Kue untuk Fasilitasi Anaknya yang Autis
Jakarta - Punya kekurangan bukan berarti nggak punya kelebihan. Bener kan Bun? Kita juga percaya kalau Tuhan memberi kekurangan, pasti sekaligus juga dengan kelebihan untuk menambal kekurangan yang ada. Seperti dialami anak dari Shelly Henley yang mengalami autisme sejak kecil.

Putra Shelly, Jacob Whittman, telah membuka usaha toko kue yang sekarang berjalan 4 bulan. Toko ini telah berkembang cukup pesat. Dibantu ibunya, Jacob mendirikan toko kue yang juga mempekerjakan orang-orang yang juga memiliki autisme seperti dirinya. Toko kue milik Jacob ber-setting unik, menyajikan kue yang bebas susu dan gluten. Mereka memilih nama tokonya 'No Label at The Table'.

"Hal ini berawal dari Jacob yang pada saat itu beumur 18 tahun tiba-tiba bilang kepada saya kalau ia mau menjadi seorang juru masak. Saya yakin semua orang tua seperti saya pasti ingin membantu anak untuk mewujudkan impiannya," ujar Shelly dikutip dari Today.


Shelly mengaku saat anaknya berterus terang ia menjadi juru masak, maka yang di dalam pikirannya adalah bagaimana Jacob bisa menjadi chef tanpa melalui proses pendidikan juru masak. Hal tersebut ia pikirkan karena putranya nggak bisa mengikuti pelajaran SMA.

Baca juga: Agar Anak Autisme Nyaman Ikut Ortunya Belanja, Toko Ini Bikin Quiet Hour

"Saya saat itu juga berkeyakinan bahwa anak saya akan sulit melakukan wawancara pekerjaan. Kalau pun diterima, pasti ia ditempatkan pada posisi pencuci piring dan posisi itu bukan yang ia inginkan," kata Shelly.

Berdasarkan Autism Employment Advisors dan sebuah survey dari University of Miami, hanya 19 persen orang dewasa yang mengalami autisme mendapatkan pekerjaan. Tapi sebagian besar hanya bekerja paruh waktu.

Untuk itu, Shelly melancarkan misinya untuk membuat toko kue yang bisa mengakomodasi bakat putranya dan orang-orang lainnya dengan autisme. Saat mulai membuka usaha, Shelly mempekerjakan 3 orang dan sekarang pekerjanya sudah mencapai 13 orang. Wah keren ya, Bun!

"Saya bersyukur mendapatkan respons positif dari para perawat yang merawat pegawai toko kue. Katanya, sekarang mereka, para pegawai, lebih percaya diri. Saya masih ingat, setahun yang lalu saya nggak tahu apa yang akan saya lakukan untuk putra saya. Kami selalu berseteru setiap hari, karena Jacob nggak mau keluar dari kamarnya untuk mengerjakan tugas sekolah. Tapi, sekarang ia bangun jam 7.30 pagi dan bekerja 12 jam sehari," tutur Shelly.

Baca juga: Kisah Anak dengan Autisme yang Tidak Bisa Tidur Tanpa Anjingnya

Jacob sekarang masih mengambil kelas khusus di Hoosier Academies, sebuah sekolah untuk umum berbasis online. Jacob mengambil pelajaran yang mendukung bisnis toko kuenya seperti bisnis dan kimia.

"Indra perasa dan penciuman Jacob sangat peka dan tajam sehingga ia bisa mengembangkan rasa yang lezat seperti muffin basil-stroberi atau kue almond lemon. Ia sekarang rajin membaca resep-resep di internet untuk mengembangkan menu di toko kuenya. Jacob sekarang dipercaya untuk membuat kue pernikahan, pesta ulang tahun. Bisnis toko kue telah memberinya tujuan hidup," papar Shelly dengan bangga.

Menurut The National Autistic Society, anak yang autis memiliki sensitifitas yang tinggi pada salah satu indranya. Untuk menangani sensitivitas tersebut, para orang tua dan perawat harus lebih aware, dan kreatif. Jadi apa yang dilakukan Shelly kepada anaknya adalah langkah yang tepat nih, Bun.

Shelly juga mengaku gagasan untuk mengembangkan bisnis yang dirancang untuk mempekerjakan orang dewasa dengan autisme datang saat dia mengunjungi tempat cuci mobil Rising Tide yang berbasis di Florida.

Seiring berjalannya waktu, Shelly menyadari bahwa dia akhirnya memiliki kesempatan untuk rileks dan membantu orang tua lain yang menghadapi ketakutan yang sama tentang masa depan anak-anak mereka.

"Tak cuma Jacob yang menemukan tujuan hidupnya, tapi saya juga," tutup Shelly. (aci)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi