sign up SIGN UP search


parenting

Belajar Bersyukur dari Anak-anak yang Mengalami Gizi Buruk

Nurvita Indarini   |   Haibunda Selasa, 12 Dec 2017 14:04 WIB
Ketika saya sibuk menyusun menu main si kecil di rumah, ibu-ibu itu berjuang memberi makan anaknya seadanya. Hiks, sedih. caption
Teluk Dalam, Nias Selatan - Memang benar, kita bisa belajar bersyukur jika melihat ke bawah. Ketika melihat di luar sana ada orang-orang yang hidupnya nggak seberuntung kita, jadi pengingat supaya diri ini nggak kufur nikmat.

Dalam perjalanan bersama Tango Peduli Gizi Anak Indonesia ke Nias, saya bertemu dengan beberapa anak yang seumuran anak saya di rumah. Mereka bahagia banget saat mendapat pembagian wafer. Mereka senang sekali saat difoto-foto.

Beberapa dari anak-anak itu dulunya merupakan anak dengan status gizi buruk. Kemiskinan membuat orang tuanya nggak bisa memberikan makanan dengan nutrisi yang cukup.


"Beberapa kali kami temukan keluarga yang makannya cuma nasi sama air. Nggak ada lauk apa-apa karena memang nggak punya," tutur dr Carla Riupassa, koordinator medis Posko Obor Berkat Indonesia (OBI) Nias.

Kemiskinan membuat beberapa pasangan suami istri di Nias tidak tahu bagaimana mendapatkan hiburan, sehingga hiburan yang dipilih adalah dengan berhubungan intim bersama pasangannya, tanpa pengaman. Alhasil istrinya hamil berkali-kali tanpa perencanaan.



"Masih banyak yang percaya KB itu bikin sakit, bikin nggak bisa kerja. Makanya dulu masih banyak yang nggak mau KB," tambah dr Carla.

Belajar Bersyukur dari Anak-anak yang Mengalami Gizi BurukBelajar Bersyukur dari Anak-anak yang Mengalami Gizi Buruk/ Foto: Nurvita Indarini


Kata dr Carla, saat menikah, pihak laki-laki di Nias memberi mahar untuk istrinya. Nah, biasanya mahar itu didapat dari utang, sehingga selama bertahun-tahun mereka dijerat utang. Belum lagi anggapan bahwa istri yang harus mengerjakan semua dari mencari uang hingga mengurus rumah, membuat posisi perempuan menjadi sangat berat.

"Anak meninggal bahkan dianggap sudah biasa, karena saking banyaknya anaknya," sambung dr Carla.

Karena ibunya harus mencari uang, sering kali balita-balitanya ditinggal di rumah tanpa makanan. Ketika tim OBI datang dan memberi biskuit, hanya dalam waktu lima menit, sebungkus besar biskuit sudah licin tandas oleh balita-balita di dalam rumah tersebut. Ya ampun, sedih banget dengernya.

Ada juga nih, Bun, anak dengan gizi buruk yang dibantu diperbaiki gizinya dengan perawatan intensif oleh Tim OBI, namun ketika dikembalikan ke keluarganya, kembali mengalami gizi buruk. Yang lebih miris, bocah itu kemudian meninggal.

Cerita-cerita dari Nias ini menjadi pengingat bagi saya yang merupakan seorang ibu untuk lebih memperhatikan gizi anak, seenggaknya gizi anak saya dulu deh. Karena makan itu nggak cuma asal kenyang tapi juga harua bernutrisi.

Cerita anak-anak ini juga jadi pengingat untuk mensyukuri semua nikmat yang sudah diberikan Tuhan. Dengan tidak mengeluh di antara gelimang nikmat adalah cara terbaik untuk bersyukur.

(Nurvita Indarini/rdn)
Share yuk, Bun!

Ayo sharing bersama HaiBunda Squad dan ikuti Live Chat langsung bersama pakar, Bun! Gabung sekarang di Aplikasi HaiBunda!
Rekomendasi
Pantau terus tumbuh kembang Si Kecil setiap bulannya hanya di Aplikasi HaiBunda!