parenting

Cara Asyik Menstimulasi Sensorik Anak: Bermain

Amelia Sewaka Jumat, 16 Feb 2018 13:02 WIB
Cara Asyik Menstimulasi Sensorik Anak: Bermain
Jakarta - Kemampuan sensorik anak salah satunya bisa distimulasi lewat cara menyenangkan lho, Bun, yakni bermain.

Menurut Noella Birowo Msc, pendiri dari Tiga Generasi & penulis buku anti panik, penting banget lho supaya orang tua bermain langsung dengan anak.

"Early attachment dari orang tua ke anak itu penting banget. Berbagai permasalahan ada banyak pada anak-anak dari mulai pelecehan seksual sampai bullying, biar anak terbuka sama kita itu pentingnya main bareng sama anak ya semacam pendekatan gitu sih," kata wanita yang akrab disapa Ui ini dalam acara ELC Little Senses Collection Preview di Nomz Kitchen Grand Indonesia, Jakarta Pusat pada Kamis (15/2/2018).


Menurut Ui memang nggak semuanya stimulasi untuk anak harus dengan mainan. Misalnya, hanya dengan kontak mata aja udah termasuk stimulasi sebenarnya.

"Anak di bawah 3 tahun emang lebih baik dikasih aktivitas fisik atau mainan yang real dari pada gadget. Gadget nggak hanya hp lho tapi juga berupa nonton televisi," ungkap Ui.

Ui mengakui bahwa fungsi mainan edukatif diperlukan dalam proses perkembangan kemampuan sensorik anak dan menjadi bekal untuk mempersiapkan kecenderungan anak merasa bosan atau takut terhadap suatu hal.

"Para orang tua dapat memberi jenis mainan yang sesuai dengan jenis kegiatan, usia, dan kemampuan anak untuk mendapatkan hasil yang optimal hingga tahap krusial perkembangan anak," ungkap Ui.

Istri Indra Birowo ini menambahkan hal yang kerap terjadi saat persiapan anak masuk sekolah adalah mereka merasa takut untuk mencoba hal baru, sulit bersosialisasi dengan teman baru ataupun kurang peka dengan lingkungan sekitarnya. Nah, faktor kebiasaan anak muncul dari pola asuh orang tua di rumah, maka dari itu dibutuhkan aspek pendukung untuk anak mengembangkan kemampuan sensorik, motorik, dan sosialnya sejak kecil.

"Pendampingan orang tua sangat penting di setiap momen bermain anak agar sang anak dapat lebih mengeksplorasi fungsi mainan tersebut," ungkap Ui.

Nah, konsep tumbuh kembang anak melalui permainan bisa jadi solusi bagi orang tua dalam mengembangkan panca indra anak sejak dini. Melalui permainan, anak juga akan dirangsang mengeksplorasi dan mempelajari hal-hal baru.

"Fase pertama sejak lahir adalah fase di mana anak memulai indra penglihatan dan sentuhan," kata Ui.

Memasuki usia 3 bulan, anak sudah mampu mengontrol gerakan tangan dan kakinya serta mengeksplor hal-hal di sekitarnya. Lalu di usia 6 bulan anak mulai bisa duduk atau bahkan merangkak. Di usia 9 hingga 12 bulan, anak memasuki tahap perkembangan yang sangat aktif dan pada usia 18 bulan hingga seterusnya anak pun mulai berimajinasi dan mengeksplor hal-hal baru.

Bicara stimulasi untuk anak, dr Caessar Pronocitro, M.Sc, SpA bilang bentuk stimulasi yang paling kuat untuk adalah wajah, suara, sentuhan dan bau manusia. Jadi bukan gadget ya, Bun. "Paling baik interaksi orang tua dan anaknya," ujar dr Caessar.

Dengan kasih sayang, banyak bermain dan tertawa bersama orang tuanya, maka akan membantu terbentuknya banyak serabut saraf alias sinaps di otak. Hmm, gimana dengan aplikasi permainan edukatif anak di smartphone? Menurut dr Caessar jika hendak diberikan pada anak yang berusia dua tahun ke atas, harus dengan pendampingan orang tua. Selain itu jangan sampai berlebihan agar anak tidak kecanduan gadget.

"Stimulasi non-gadget yang bermanfaat buat anak bisa dilakukan dengan bermain. Nggak harus dengan mainan yang mahal kok. Kita bahkan bisa mengajak anak membuat mainannya bersama-sama dari bahan-bahan sekitar. Selain meningkatkan bonding, anak juga pasti akan suka. Nah, dari mainan itu, kita bisa melatih sensorik, motorik, bahasa dan lainnya," kata dr Caessar. (rdn)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi