HaiBunda

PARENTING

Sudah Tepatkah Respons Kita Saat Anak Mengajak Bicara?

Radian Nyi Sukmasari   |   HaiBunda

Kamis, 22 Mar 2018 09:05 WIB
Sudah Tepatkah Respons Kita Saat Anak Mengajak Bicara?/ Foto: Wirsad Hafiz
Jakarta - Anak mengajak bicara. Memang sih yang dibicarakan hal sepele. Misalnya, dia menyampaikan kalau ada surat dari sekolah. Sedangkan kita lagi sibuk membalas email. Hmm, kalau kayak gitu biasanya gimana respons Bunda dan Ayah?

Beberapa kerabat dan teman saya biasanya merespons dengan bilang, "Oh iya, taruh aja di situ suratnya," tanpa mengalihkan pandangan dari HP ataupun laptop. Eh, tapi tahu nggak sih, Bun, respons kayak gitu justru bisa memutus komunikasi kita sama anak lho. Sehingga, susah nih buat orang tua untuk jadi sahabat buat anak.

Dikatakan Agung Sugianto, founder Yayasan Peduli Sahabat dan penulis buku 'Anakku Bertanya Tentang LGBT' supaya jadi sahabat untuk anak salah satu caranya yakni kita membangun komunikasi yang sehat yaitu jujur, terbuka, tapi nggak vulgar. Artinya, bahasan yang kita sampaikan ke anak sesuai dengan kemampuan otak anak.


Kemudian, patuhi semua peraturan yang udah kita sepakati dengan anak sehingga anak akan percaya dengan orang tuanya. Yang nggak kalah penting, kata pria yang akrab disapa Sinyo ini, jangan putus komunikasi orang tua dengan anak.



"Kalau kayak gitu jadinya putus komunikasi. Harusnya stop dulu membalas email, pandang mata anak, lihat ke apa yang dibawa anak terus katakan 'Ini apa sih? Oh surat dari sekolah ya. Makasih ya'. Bilang aja ke anak ini bunda lagi balas email teman nanti kita lanjutkan lagi ya," kata Sinyo dalam sharing session yang digelar di kawasan Cirendeu, Tangerang Selatan baru-baru ini.

Dengan begitu, kita secara nggak langsung sudah mempertahankan komunikasi, Bun. Sama aja ketika kita lagi masak misalnya, lalu anak bawa hasil coret-coretannya. Sinyo menyarankan, coba respons dengan meletakkan sebentar ulekan kita, lihat gambar anak lalu bilang ke dia. "Oh bagus ya gambarnya. Kita lanjut nanti ya. Sekarang bunda mau masak dulu".

"Nggak sampai semenit kok. Ya kan? Kemudian, untuk jadi sahabat anak, usahakan untuk nggak membohongi anak. Misalnya anak nggak mau sikat gigi kita bilang nanti keluar ulat lho dari mulutnya. Padahal kan nggak. Jadinya anak nggak percaya dengan apa yang kita ucapkan," tambah Sinyo.

Kemudian, ciptakan hubungan erat yang asyik dengan anak yuk, Bun. Contohnya ketika anak bilang dirinya naksir seseorang nih. Nggak perlu langsung panik atau heboh lho. Coba tenang dan tanya ke anak, "Wah naksir sama siapa?". Jadi, meresponsnya nggak langsung di-cut atau kitanya heboh gitu, Bun.

Lagipula, definisi naksir pada anak-anak kan bisa beda ya. Selain itu, penting juga buat kita menggali lebih dalam tentang apa yang dirasakan anak sehingga bisa tercipta komunikasi yang terbuka dengan si kecil.

(rdn)

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Pindah ke Bali, 5 Potret Baby Kaia Anak Steffi Zamora Pertama Kali Naik Pesawat

Parenting Nadhifa Fitrina

Doa Minum Susu 1 Muharram Tahun Baru Islam dan Makna di Baliknya

Mom's Life Azhar Hanifah

Hukum Suami Istri Tidur Terpisah Menurut Islam

Mom's Life Arina Yulistara

Tingkatan Sabuk Taekwondo, Warna & Maknanya yang Perlu Diketahui Orang Tua

Parenting Azhar Hanifah

Kurang Tidur saat Hamil Sebabkan Gangguan Kecemasan Pasca Persalinan, Simak Temuan Pakar

Kehamilan Annisa Karnesyia

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Pindah ke Bali, 5 Potret Baby Kaia Anak Steffi Zamora Pertama Kali Naik Pesawat

Doa Minum Susu 1 Muharram Tahun Baru Islam dan Makna di Baliknya

Kurang Tidur saat Hamil Sebabkan Gangguan Kecemasan Pasca Persalinan, Simak Temuan Pakar

Tingkatan Sabuk Taekwondo, Warna & Maknanya yang Perlu Diketahui Orang Tua

Ciri Kepribadian Orang yang Bahagia Saat Hujan Turun, Tanda Kecerdasan Tinggi?

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK