parenting

Duh, si Kecil Minta Melihat Video Bom Surabaya

Nurvita Indarini Senin, 14 May 2018 12:51 WIB
Duh, si Kecil Minta Melihat Video Bom Surabaya
Jakarta - Kabar bom di Surabaya yang begitu bertubi-tubi bisa menimbulkan rasa penasaran anak. Bahkan anak usia sekolah memaksa untuk menonton video tersebut untuk memuaskan rasa ingin tahunya. Duh, gimana ya?

Ini yang dihadapi salah satu teman saya, Bun. Anaknya yang berusia 8 tahun memaksa bundanya untuk menonton video ledakan bom di Surabaya. Teman saya pun bingung karena nggak mungkin meluluskan permintaan si kecil. Ibu mana yang nggak khawatir anaknya akan terdampak hal negatif dari kengerian peristiwa tersebut.

Wajar ya, Bun, orang tua pasti akan memproteksi anak-anaknya dari hal-hal yang akan membuat mereka khawatir. Karena pastinya orang tua tidak berharap anak-anaknya tumbuh di dunia yang penuh kekerasan dan kebencian.


Kalau misalnya kebetulan televisi sedang menyala dan ada berita tentang bom di Surabaya dan ada anak di rumah, sebaiknya kita matikan dulu televisinya, Bun. Lebih baik untuk berbicara dengan anak tentang kasus itu daripada memperlihatkan gambar padanya.



"Pada anak-anak yang lebih besar, anak-anak lebih cenderung memikirkan kemungkinan hal-hal yang terjadi pada mereka. Mereka akan mulai mengajukan lebih banyak pertanyaan karena mereka menjadi lebih ingin tahu tentang apa arti semua ini," tutur Martine Oglethorpe, psikolog anak di The Modern Parent, dikutip dari Essential Kids.

Nah, kita perlu pastikan kepada anak bahwa kemungkinan hal itu terjadi pada mereka sangat kecil, Bun. Tapi di saat yang sama kita bisa juga tanyakan pada anak terkait apa yang mereka pikirkan mendengar kabar bom Surabaya. Kalau mereka punya banyak pertanyaan, kita jawab menggunakan bahasa mereka, tapi penjelasannya nggak perlu sangat detail dan sesuai fakta yang sudah diungkap kepolisian saja.

Psikolog Anna Surti Arianni menuturkan di masa seperti ini, lebih baik jangan bolehkan anak untuk menonton TV sementara. Jika mereka ingin menonton TV, lebih dampingi lagi dan pilihkan acara yang memang ramah anak.

Anak usia sekolah dasar, sambung perempuan yang akrab disapa Nina ini, ketika ia melihat kejadian berkali-kali. meskipun kenyataannya hanya satu video yang sama yang diputar berulang, anak akan menganggap kejadian itu terjadi lagi dan lagi.



"Walaupun yang diputar dan ditayangkan di TV videonya itu-itu aja, tapi anak bisa berpikir peristiwa itu terulang terus. Jadinya menakutkan buat dia," kata Nina.

Lalu gimana kalau anak tetap memaksa ingin melihat video dan perkembangan berita bom Surabaya? Apa perlu kita berbohong saja pada mereka?

"Saya nggak menyarankan untuk bohong ya. Katakan aja ini memang urusan orang dewasa dan memang anak kan belum dewasa. Kalau dia nanya dewasa itu gimana, bilang aja kalau sudah punya KTP nah kan kenyataannya anak memang belum punya KTP. Jadi dia bisa ngerti karena memang ada bukti yang konkret," papar Nina.

Sebelumnya Kemdikbud memberi saran juga nih, Bun, kalau mau membicarakan soal bom Surabaya dengan anak. Bisa disimak di sini ya, artikelnya. (Nurvita Indarini)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi