HaiBunda

PARENTING

Menangani Anak yang Sejak Kecil Dicekoki Terorisme

Nabilla Nufianty Putri   |   HaiBunda

Rabu, 16 May 2018 18:47 WIB
Menangani Anak yang Sejak Kecil Dicekoki Terorisme/ Foto: thinkstock
Jakarta - Pelaku peledakan bom di Surabaya melibatkan perempuan dan anak dalam aksinya. Tentu ada alasan di balik hal ini ya, Bun.

Pengamat terorisme Universitas Indonesia (UI), Solahudin, menduga ini terkait upaya kelompok teroris untuk lebih menyebarkan rasa takut. Iya, karena kalau pelaku peledakan bom laki-laki dewasa itu sudah biasa.

Nah, ada anak terduga teroris yang selamat dari ledakan di depan gerbang Polrestabes Surabaya beberapa hari lalu. Usianya masih tujuh tahun. Tentu berat ya, anak sekecil itu kehilangan ayah, ibu, dan saudara kandung dengan cara yang tragis.


Konon anak-anak terduga teroris diberi pemahaman terorisme, meski dengan istilah berbeda, oleh orang tuanya. Bisa jadi bukan hanya anak tersebut saja yang mendapatkan pemahaman terorisme sejak dini.

Ya, penanaman karakter teroris yang sudah ditanam sejak dini memang tidak mudah untuk mengubahnya. Terlebih jika itu dilakukan oleh orang tua sendiri, yang langsung memberikan contoh dalam kehidupan sehari-hari.



Veronica Adesla, psikolog Personal Growth menyarankan pengembalikan mental perlu dilakukan agar tidak menimbulkan potensi bahaya dikemudian hari.

"Harus dipahami pembalikan mental pada anak-anak ini sungguh tidak mudah, namun didiamkan juga bukan tindakan yang benar dan tepat, karena hanya akan menjadi potensi bahaya laten," tutur Veronica.

Oleh karena itu, langkah-langkah penanganan tetap harus dilakukan. Mari kita simak beberapa langkah penanganan yang disarankan oleh psikolog.

1. Pastikan untuk anak berada di tempat dan lingkungan yang aman, sehat, dan terlindungi baik dari hal-hal buruk yang mungkin datang dari dirinya sendiri maupun orang lain.

2. Lakukan pemeriksaan menyeluruh atau profiling kondisi fisik maupun mental anak. Libatkan profesional dokter, psikiater, psikolog, guru, maupun pemuka agama (ulama). Pemerintah wajib memilih orang-orang ini dengan cermat. Selain itu penjadwalan dan pelaksanaan profiling tetap harus memperhatikan situasi kondisi dan tahap perkembangan anak. Tidak mengintimidasi.



3. Setelah mendapatkan profiling maka program pembalikan mental perlu dibuat dengan melibatkan seluruh tenaga profesional di atas, termasuk pemuka agama.

4. Program pembalikan mental harus bekerja beriringan pada berbagai sektor:
a. Pemulihan dan pembinaan psikologis dan kejiwaan.
b. Kesehatan fisik
c. Pembentukan karakter anak bangsa (nasionalis, Pancasila, dan Bhinneka Tunggal Ika)
d. Pendidikan sekolah
e. Pendidikan/pengajaran nilai-nilai agama yang benar (damai dan kasih)
5. Jalankan bersama, ciptakan situasi yang kondusif, diiringi dengan doa oleh kita bersama. (Nurvita Indarini)

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Orang yang Suka Tidur Lama & Sulit Bangun Bisa Jadi Sedang Lari dari 8 Kenyataan Ini

Mom's Life Annisa Karnesyia

Potret Alia Shatara Khansa, Anak Kedua Zaskia Gotik yang Ekspresif dan Bikin Gemas

Parenting Annisa Karnesyia

40 Contoh Cerita Fantasi Pendek yang Menarik dan Seru untuk Anak Sebelum Tidur

Parenting Dilla Atqia Rahmah

Kisah Bunda Handstand saat Hamil Besar Berujung Melahirkan Prematur di Toilet

Kehamilan Dwi Indah Nurcahyani

AI Butuh Banyak Air untuk Beroperasi, Ini Besaran Penggunaannya

Mom's Life Dilla Atqia Rahmah

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

18 Drama Korea Ahn Eun Jin Terbaik Rating Tertinggi, Ada A Love Other than Yours

Orang yang Suka Tidur Lama & Sulit Bangun Bisa Jadi Sedang Lari dari 8 Kenyataan Ini

Potret Alia Shatara Khansa, Anak Kedua Zaskia Gotik yang Ekspresif dan Bikin Gemas

Cerita Daniel Ekaputra Aktor Keturunan Prancis yang Banting Setir Jadi Sopir Taksi Online

40 Contoh Cerita Fantasi Pendek yang Menarik dan Seru untuk Anak Sebelum Tidur

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK