psikologi

Tentang Anak yang Ikut Meledakkan Bom, Begini Kata Psikolog

Nabilla Nufianty Putri 16 Mei 2018
Tentang Anak yang Ikut Meledakkan Bom, Begini Kata Psikolog/ Foto: Thinkstock Tentang Anak yang Ikut Meledakkan Bom, Begini Kata Psikolog/ Foto: Thinkstock
Jakarta - Miris nggak sih, Bun, dengar kabar pengeboman di Surabaya melibatkan anak-anak juga? Padahal mereka adalah generasi masa depan kita ya, yang menentukan bangsa kita akan dibawa ke mana.

Anak-anak yang masih dalam tahap perkembangan, kapasitas otak untuk berpikir dan mencerna informasi juga masih terus bertumbuh. Anak-anak hingga umur 11 tahun masih berada dalam tahap pemikiran konkret operasional di mana anak sudah mampu berpikir rasional, seperti penalaran untuk menyelesaikan suatu masalah yang aktual.

Sedangkan usia 12 tahun merupakan awal masa peralihan dari tahap konkret operasional menuju pemikiran yang lebih abstrak. Ia melakukan modelling, melihat dan meniru. Tapi belum mampu memahami makna lebih jauh dari apa yang dilakukannya.

Soal pelibatan anak-anak dalam pengeboman, Veronica Adesla, psikolog dari Personal Growth angkat bicara nih, Bun, secara umum. Kata dia sumber utama pembelajaran dan pembentukan nilai bagi anak adalah dari keluarga, terutama orang tua.

"Orang tua menjadi model atau contoh bagi anak dalam cara berpikir, bersikap dan berperilaku. Anak-anak belajar dari orang tuanya apa yang boleh dan tidak boleh," ujarnya.

Karena itu dapat dikatakan, orang tua berperan penting bagi tumbuh kembang anak. Anak akan menjadi baik atau buruk, semua tergantung didikan orang tua.

Pendidikan yang baik dan tepat perlu direncanakan dengan matang. Maka perlu mengetahui sedari awal pendidikan karakter yang baik bagi tumbuh kembang anak.

Anak-anak yang terlibat dalam peledakan bom dari awal memang sudah dibentuk karakter yang ekstrem dan radikal oleh orang tuanya. Belakangan ada ide pengembalian karakter anak karena cuci otak.

Tapi Veronica tidak setuju dengan istilah pengembalian karakter karena cuci otak. Menurutnya kata-kata pengembalian mensyaratkan ada kondisi sebelumnya yang kemudian diubah. Jadi menurutnya lebih tepat istilah pembalikan mental, Bun.

"Istilah yang saya gunakan adalah pembalikan mental, yaitu menanamkan cara pikir, nilai-nilai, cara bersikap, cara berperilaku yang sehat dan nasionalis, berpedoman pada dasar negara kita, pancasila dan juga Bhinneka Tunggal Ika," tuturnya.

Nilai-nilai yang Veronica maksud meliputi berperikemanusiaan, menjunjung tinggi keadilan, menjunjung persatuan Indonesia, juga toleransi keberagaman suku agama ras. Selain itu juga diberikan pembalikan dari nilai-nilai ekstrem dan radikal pada nilai-nilai agama yang benar, yang sesungguhnya adalah damai dan penuh kasih.

Semua itu juga harus didukung oleh lingkungan sekitar, baik teman, tetangga maupun lingkungan kerja.Terutama keluarga dekat yang tidak termasuk dalam gerakan terorisme misalnya kakek, nenek, om, tante ataupun sepupu.

"Serta satu pekerjaan rumah yang juga sangat penting dan besar adalah membangkitkan rasa empati anak tersebut," tutup Veronica. (vit/vit)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi