parenting

Ketika si Kecil Sedih karena Dibandingkan dengan Sepupunya

Nurvita Indarini Sabtu, 16 Jun 2018 11:05 WIB
Ketika si Kecil Sedih karena Dibandingkan dengan Sepupunya
Jakarta - Dibanding-bandingkan memang nggak enak. Iya kalau di mata orang lain kita lebih unggul, tapi kalau kita justru dinilai kurang oke, pasti bikin sedih. Ini juga bisa dialami anak-anak lho.

Ya, suatu kali saya mendapati keponakan saya menangis sedih. Kata dia, dirinya sedih karena nggak sepintar dan sehebat sepupunya yang menjadi juara kelas. Nah, di momen kumpul bareng keluarga seperti saat ini, semua orang sepertinya cuma memuji-muji si sepupu yang pintar.

Tapi saya salut dengan cara saudara saya menyemangati anaknya. Saudara saya bilang ke anaknya begini, Bun, "Kamu memang nggak juara kelas, tapi kamu kan sudah berusaha keras. Lagian kamu juga hebat kok karena temannya banyak dan kamu kan pintar menggambar,".


Psikolog Aurora Lumban Toruan yang saya ajak diskusi soal ini menuturkan orang tua memang perlu menerima dan mengenali anaknya masing-masing. Nah, dengan begitu orang tua dapat memberikan apresiasi maupun evaluasi positif terhadap kelebihan-kelebihan yang dimiliki anak.




"Orang tua juga dapat menginformasikan hal-hal positif yang dilakukan atau dimiliki anak. Bukan saja dari pencapaian bersifat akademis, tapi juga kemampuan atau bakat non akademis seperti seni, keterampilan, olahraga," papar Aurora.

Selain itu, kemampuan anak dalam berteman, bersosialisasi, atau memimpin, juga dalam hal perilaku yang positif, misalnya rajin membantu orang tua di rumah, atau punya inisiatif membantu adik atau bahkan tetangga dalam belajar, juga perlu diapresiasi. Ini penting banget agar anak paham bahwa prestasi itu bukan sekadar akademis belaka.

Anak sedih karena dibanding-bandingkan/Anak sedih karena dibanding-bandingkan/ Foto: Thinkstock


Orang tua boleh saja ikut mengapresiasi hal-hal baik dari keponakannya, tanpa perlu membandingkan maupun menyerang anak yang memiliki kekurangan dalam hal tersebut. Namun yang perlu diingat, apa yang diapresiasi oleh orang tua juga akan menjadi tolok ukur bagi anak.

"Misalnya orang tua hanya mengapresiasi, "Wahh ranking satu', memang itu baik. Tapi yang lebih perlu diapresiasi adalah kerja keras, kejujuran saat ujian, kemandirian dalam belajar, dan seterusnya," lanjut Aurora.




Aurora juga mengingatkan nih, Bun, pentingnya membangun konsep diri yang positif pada anak sebagai bekal baginya menghadapi berbagai masalah di kemudian hari. Konsep diri dibentuk dari penilaian orang-orang terdekat (signifikan), perbandingan sosial (dengan anak-anak sebayanya), juga harapan atau tradisi budaya (seorang anak harus taat orang tua, pada usia tertentu seharusnya bersekolah, selesai sekolah/ kuliah kemudian bekerja, menikah dan seterusnya).

"Juga evaluasi terhadap diri sendiri, ketika sang anak mengevaluasi dirinya memang bodoh, malas atau sebaliknya anak pintar dan seterusnya," imbuh Aurora. (Nurvita Indarini)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait

Rekomendasi