parenting

6 Upaya agar Anak Anak Tidak Jadi Pelaku Kekerasan

Siti Hafadzoh Sabtu, 17 Nov 2018 14:59 WIB
6 Upaya agar Anak Anak Tidak Jadi Pelaku Kekerasan
Jakarta - Sekarang ini, tindak kekerasan semakin hari semakin bertambah. Bahkan, ada orang yang hingga tega menghabisi nyawa kerabatnya sendiri lantaran sakit hati karena sering dihina, seperti yang baru-baru ini terjadi, kasus pembunuhan satu keluarga di Bekasi.

Tersangka HS yang merupakan kerabat korban tega menghabisi nyawa keluarga korban. HS mengaku, ia dendam kebada kerabatnya tersebut karena sering dihina. Menurut sosiolog kriminalitas UGM, Suprapto menjelaskan bahwa tersangka belum memiliki kedewasaan emosional.

"Kelihatannya dia belum memiliki kedewasaan emosional yang baik sehingga ketika dia dihina, mungkin saja hinaan itu tujuan untuk mencambuk agar dia menjadi lebih baik tetapi yang dia tangkapi, mungkin salah sehingga yang ada dendam, artinya bahwa dia tidak termasuk tahan kritik yang kemudian melakukan tindakan yang tidak dipikirkan dampaknya ke depan," tuturnya kepada detikcom.




Tindak kekerasan seperti ini bisa saja dipelajari seseorang sejak kecil. Dilansir American Psychological Asosiation, penelitian menunjukkan bahwa kekerasan sering kali dipelajari sejak dini. Artinya, orang tua dan anggota keluarga memiliki peran penting untuk mendidik anak agar belajar mengatasi emosi tanpa kekerasan. Bunda dan Ayah bisa melakukan 6 hal ini untuk mengurangi tindak kekerasan.

1. Berikan kasih sayang dan perhatian yang konsisten

Setiap anak membutuhkan hubungan yang kuat dan penuh cinta dengan kedua orang tuanya. Supaya mereka bisa merasa nyaman dan percaya. Anak yang perilakunya bermasalah dan melakukan kenakalan biasanya memiliki orang tua yang kurang memberikan perhatian kepada mereka, terutama di usia dini.

2. Mengawasi anak

Selalu awasi aktivitas anak. Ketika Bunda atau Ayah nggak bisa mengawasi anak, mintalah seseorang yang dipercaya untuk mengawasi kegiatan mereka. Orang tua juga perlu menemani anak bermain dan melihat bagaimana mereka berinteraksi dengan teman-temannya.

Ajarkan anak mengenai respon yang tepat ketika teman atau orang lain mengganggu dan memukul mereka. Katakan, "Itu bukan perilaku yang biak. Jangan dicontoh ya."

Ilustrasi upaya agar anak tak jadi pelalu kekerasanIlustrasi upaya agar anak tak jadi pelalu kekerasan Foto: Istock
3. Tunjukkan pada anak bagaimana perilaku yang baik

Anak belajar dengan cara meniru. Perilaku, nilai, dan sikap yang ditunjukkan orang tua dan keluarga sangat berpengaruh pada anak. Nilai-nilai seperti menghormati, jujur, dan harga diri yang ditanamkan di keluarga dapat menjadi kekuatan bagi anak ketika menghadapi lingkungan yang negatif.

Berikan pujian pada anak ketika mereka menyelesaikan masalah tanpa kekerasan. Anak-anak cenderung akan mengulangi perilaku baik tersebut ketika mendapatkan pujian dan perhatian dari orang tuanya.

4. Disiplin dan konsisten dengan peraturan

Bunda dan Ayah harus tegas ketika membuat peraturan. Kalau bisa, orang tua juga melibatkan anak ketika membuat peraturan. Misalnya, jelaskan kepada anak apa yang diinginkan oleh Bunda dan Ayah, kemudian apa konsekuensinya ketika mereka melanggar.

5. Jauhkan tindak kekerasan dari rumah

Kekerasan di dalam rumah bisa menakutkan dan berbahaya bagi anak. Anak-anak butuh rumah yang aman dan penuh kasih sayang. Anak-anak yang menyaksikan kekerasan di rumah memang nggak selalu menjadi pelaku kekerasan. Tapi kemungkinan mereka akan menyelesaikan masalah dengan kekerasan.

6. Tidak banyak menonton atau menyaksikan kekerasan di media

Penelitian menunjukkan bahwa melihat terlalu banyak tindak kekerasan di televisi, film, dan video game dapat berdampak negatif bagi anak. Jadi, sebaiknya Bunda dan Ayah mulai mengontrol apa yang dilihat anak di media nih.

Selalu ajarkan anak untuk menanggapi dengan kata-kata yang tenang dan tegas ketika mereka diganggu seperti dihina, diancam, atau dipukul. Jelaskan juga, jangan menggunakan kata-kata yang bisa memicu kekerasan, seperti membuat orang lain sakit hati.

Orang tua sangat berperan penting, Bun dalam mengendalikan perilaku anak. Ketika perilaku kekerasan yang dimiliki anak sejak kecil dibiarkan, takutnya ketika dewasa malah menyelesaikan masalahnya dengan kekerasan. Contohnya, tersangka HS yang menyelesaikan rasa sakit hati dan dendam kepada kerabatnya dengan cara membunuh mereka.


(rdn/rdn)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi