parenting

Anak Humoris Tak Masalah, Tapi Tetap Ajari Mereka Tata Krama

Melly Febrida Selasa, 20 Nov 2018 07:05 WIB
Anak Humoris Tak Masalah, Tapi Tetap Ajari Mereka Tata Krama
Jakarta - Anak-anak biasanya senang bercanda. Nah, anak Bunda termasuk yang humoris? Jika si kecil pandai melontarkan lelucon, jangan lupa untuk mengingatkan mereka agar tidak berlebihan. Seperti kita tahu, dalam berbicara juga perlu tata krama kan, Bun.

Humor memang bisa membantu menemukan banyak teman, tapi anak juga perlu belajar pentingnya mengombinasikan rasa humor dengan hati yang baik, Bun. Soalnya, secara nggak sadar kadang humor yang dilontarkan termasuk oleh anak bisa menyakiti orang. Kita saja yang sudah dewasa suka kebablasan kalau bercanda, ya, Bun. Hi-hi

Konsultan Kepemimpinan dan Pelatih, Sherly Eberly dan putrinya yang seorang editor senior di Colorado Hones and Lifestyles menuliskan dalam buku '365 Manners Kids Should Know' tentang humor yang disampaikan anak-anak. Menurut mereka, lelucon kasar yang mengejek orang lain membuat kesal semua orang.


Sedangkan lelucon yang bisa membuat orang tertawa bisa sedikit membahagiakan. Tapi, kita juga perlu ingat reaksi anak-anak dan orang dewasa terhadap humor itu berbeda, Bun. Saat orang dewasa menikmati lelucon, anak-anak belum tentu.



"Rasa humor anak bisa membantu mereka melewati situasi yang memalukan. Ingatkan dia agar selalu menertawakan dirinya sendiri tapi tidak orang lain," tulis Sherly

Ilustrasi anak humorisIlustrasi anak humoris/ Foto: iStock
Dan kalau anak Bunda humoris, tertawalah ketika ia membawakan bahan candaan. Tapi, sebaiknya melucu tidak jadi kebiasaan sepanjang waktu bagi anak nih, Bun. "Orang yang terus menerus melucu bisa membuat orang lain bosan. Mereka akan mulai mencari cara menghindari si tukang melawak," kata Sherly.

Terlebih, saat bertanya serius malah ditanggapi dengan humor, pastinya nggak mengenakkan ya, Bun. Maka dari itu, kata Sherly Bunda bisa menjelaskan ke anak orang yang humoris juga perlu menjawab dengan serius dan membiarkan orang lain mengenal perasaannya yang sebenarnya.

Sementara itu, dikutip dari detikcom menjadi orang yang humoris itu banyak manfaatnya, Bun. Saat tertawa, otak memproduksi endorfin yang dapat membuat hati terus menerus diliputi rasa senang.

Uniknya, baik tertawa yang sungguh-sungguh atau dibuat-buat memberikan dampak yang sama. Hormon kortisol yang memberikan rasa stres juga ikut menurun. Selain itu, ketika tertawa paru-paru melebar sehingga oksigen mudah mengisi rongga paru. Jadi, boleh aja anak humoris tapi haeus lihat situasi dan kondisi juga ya kapan anak bisa melontarkan humor kapan harus serius.


(rdn/rdn)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait

Rekomendasi