HaiBunda

PARENTING

6 Cara Mengajari Anak Mengenal Emosi

Melly Febrida   |   HaiBunda

Kamis, 03 Jan 2019 06:56 WIB
Ilustrasi emosi anak/ Foto: Thinkstock
Jakarta - Kalau orang tua bilang, anak usia dua tahun itu sedang menggemaskan dan lucu. Nah, psikolog Ashley Soderlund melakukan penelitian tentang anak berusia dua tahun. Katanya, di usia dua tahun itu berkumpulnya dari semua level.

Di usia dua tahun, kata Ashley, anak-anak mulai merasakan kemerdekaan diri dan mereka mencoba menantang aturan. Di situlah ujian dan tantangannya, Bun. Ashley ingat betul dengan pesan seorang peneliti senior yang mengatakan ketika berbicara dengan anak dua tahun, gunakan bahasa yang berbeda.

"Misalnya, ketika Bunda ingin mengatakan 'Jangan memukul meja', anak hanya akan mendengar 'Pukul meja'. Seolah-olah ini perintah pertama, mereka akan melawan yang Anda bilang. Jadi, kita perlu mempunyai cara untuk mengajaknya bekerja sama yang memungkinkan mereka memenuhi apa yang mereka inginkan, 'Saya mau melakukannya sendiri'," katanya seperti dilansir Nurtureandthriveblog.


Setelah melakukan penelitian selama bertahun-tahun, termasuk terhadap anak 2 tahun, Ashley ingin berbagi beberapa cara agar anak mau bekerja sama:

1. Abaikan perilaku yang tak diinginkan

Ashley bilang, anak usia dua tahun dalam persiapan ke tahap pengembangan kognitif, Bun. Mereka akan mengulangi beberapa perilaku yang kurang baik atau tak diinginkan, yang menghasilkan reaksi yang besar.

Misalnya, kalau si kecil mencontoh kata-kata yang tidak bagus, abaikan saja nggak masalah. Kalau Bunda bertindak malah jadi masalah. Mereka akan mengulang lagi dan lagi bahkan sampai kita kesal.

"Mungkin terlihat membosankan, tapi memang itu yang sedang suka mereka lakukan. Saat anak mengulang perkataan dan perilakunya kita hanya perlu mengiyakan. Sesekali jelaskan bahwa orang tua juga akan mendengarkan mereka," tutur Ashley.

2. Kejutkan anak dengan hal tak terduga

Anak-anak senang dengan reaksi yang tak diduga-duga. Ashley bilang, Bunda bisa memberikan kejutan dengan tindakan yang konyol dan antik. Misalnya, bersin sampai topi yang dipakai terbang. Dengan begini anak akan memiliki lelucon, Bun. Kadang lelucon memang bisa memberi kebahagiaan tersendiri bagi anak kok.



3. Ajak anak gunakan bahasa positif

"Baiknya lupakan memberi kata kerja pada anak usia 2, 3 dan 4 tahun. Lupakan kata jangan dan cobalah selalu mengatakam apa yang bisa mereka lakukan, bukannya apa yang mereka tak bisa lakukan. Misal, daripada mengatakan jangan berlari cobalah mengatakan gunakan kaki untuk berjalan, daripada jangan berteriak cobalah mengatakan gunakan suaramu dengan lembut," terang Ashley.

Pakai bahasa yang positif, langsung kemudian mereka bisa mendapat contoh konkret, demikian disampaikan Ashley.

Ilustrasi emosi anak/ Foto: Istock
4. Memberikan pekerjaan

Ashley bilang, memberi pekerjaan ke anak dua tahun bermanfaat. Ini mengajari anak bekerja sama. Libatkan anak dua tahun pada pekerjaan sederhana yang bisa mereka lakukan.

5. Ajak anak lakukan sesuatu dengan menyenangkan

Agar si kecil nggak bosan, Ashley menyarankan Bunda mengajak anak melakukan sesuatu dengan cara yang berbeda dan menyenangkan. Misalnya, ajak anak pakai sepatu dengan cara tak biasa. Sambil bermain dan menjadikan sepatu sebagai objek permainan misalnya. Tapi, tetap perhatikan waktunya ya, Bun.

6. Memberi nama pada emosi

Anak dua tahun belajar mengenal emosi mereka dan mengekspresikannya dengan cara primitif, bukan cara yang diterima masyarakat. Bunda bisa mengenalkan emosi dengan berbagai cara, salah satunya dengan buku cerita.

"Sangat penting mengajarkan anak-anak berbagai emosi. Terima gimana perasaan mereka dan mengekspresikannya. Dengan begitu, anak akan belajar kenal emosinnya," ujar Ashley.

Mengenal emosi dapat membantu anak-anak memahami emosi dan mengarahkan anak-anak untuk belajar berempati dan berperilaku dengan baik, terutama pada anak laki-laki.

Berbicara tentang emosi juga berhubungan dengan perilaku saling berbagi dan membantu pada balita. Ketika bunda mulai membicarakan emosi, cobalah dengarkan hati mereka. Dengan begitu, anak-anak akan merasa aman mengeksperikan emosi mereka kepada Bunda.

Kalau menurut psikolog anak dan remaja, Ratih Zulhaqqi, usia dua tahun itu memang usia anak sering rewel, Bun. Anak-anak masih sulit mengekspresikan emosinya.

"Usia 1-2 tahun itu bisa mengalami tahapan terrible two. Itu memang usia tantrum. Normal muncul ketika mereka sulit mengekspresikan apa yang ada dalam benaknya. Tapi perlu diingat bahwa anak-anak yang tantrum ini bukan berarti pertanda mereka akan menjadi anak yang sulit di kemudian hari," imbuh Ratih dilansir detikcom.

(rdn/rdn)

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Mau Punya Paspor Singapura? Ini Syarat di Tengah Target 30 Ribu Warga Baru

Mom's Life Natasha Ardiah

Kasus Chat Tak Pantas Mahasiswa FHUI Diusut

Mom's Life Angella Delvie & M Prima Fadhilah

Siswa SD di Pontianak Jadi Calon Haji Termuda Usai Gantikan Almarhum Ibunda

Parenting Amira Salsabila

7 Potret Maternity Shoot Ochi Rosdiana Jelang Melahirkan Anak Pertama

Kehamilan Annisa Karnesyia

5 Potret Penampilan Tamara Bleszynski Hadiri Pernikahan Teuku Rassya, Curi Perhatian Netizen

Mom's Life Nadhifa Fitrina

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

3 Kertas Gambar Ibu Kartini untuk Lomba Mewarnai Anak

Siswa SD di Pontianak Jadi Calon Haji Termuda Usai Gantikan Almarhum Ibunda

Kasus Chat Tak Pantas Mahasiswa FHUI Diusut

Mau Punya Paspor Singapura? Ini Syarat di Tengah Target 30 Ribu Warga Baru

7 Potret Maternity Shoot Ochi Rosdiana Jelang Melahirkan Anak Pertama

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK