parenting

Mengenal Donor Sumsum Tulang Belakang yang Dijalani Ani Yudhoyono

Yuni Ayu Amida Kamis, 07 Mar 2019 08:56 WIB
Mengenal Donor Sumsum Tulang Belakang yang Dijalani Ani Yudhoyono
Jakarta - Ani Yudhoyono masih menjalani perawatan di National University Hospital (NUH) Singapura karena kanker darah yang diidapnya. Kabar terbaru, istri presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini menerima donor sumsum tulang belakang yang cocok.

"Barusan saya komunikasi ke Singapura, benar, bahwa adik Ibu Ani, Pak Jenderal Pramono Edhie Wibowo, mantan KSAD, yang 'matching' dan ternyata sangat cocok untuk jadi donor Ibu Ani," kata Ketua DPP Partai Demokrat (PD) Jansen Sitindaon, dikutip dari detikcom.


Proses donor sumsum tulang belakang bagi Ani Yudhoyono memang belum akan dilakukan dalam waktu dekat. Semua masih dalam tahap persiapan.


"Jadi, adik kandung beliau sendiri. Tapi belum dalam waktu dekat ini akan dilaksanakan donor ya. Ini persiapan saja kalau memang benar akan terjadi transplan nantinya," ucap Jansen.

Menurut dr.Michael Dominguez, transplantasi sel induk seperti donor sumsum tulang belakang dapat menjadi pengobatan efektif untuk pengidap kanker tertentu, seperti leukemia dan limfoma. Tujuan dari transplantasi sel induk atau transplantasi sumsum tulang adalah untuk mengisi kembali tubuh dengan sel-sel sehat dan sumsum tulang ketika kemoterapi dan radiasi selesai.

"Agar seorang pasien mendapatkan transplantasi sumsum tulang, kecocokan harus ditemukan untuk pasien itu," ujar Dominguez, seperti dilansir Health Texas.

Namun, tidak sembarang orang bisa menjadi pendonor. Biasanya, orang yang memiliki kecocokan sumsum tulang belakang adalah anggota keluarga pasien sendiri.

Dikutip dari Web MD, setelah transplantasi sukses, sumsum tulang akan mulai memproduksi sel darah baru. Dalam beberapa kasus, transplantasi dapat memiliki manfaat tambahan, seperti sel-sel darah baru akan menyerang dan menghancurkan sel-sel kanker yang tersisa setelah pengobatan tahap awal.


Namun, meskipun transplantasi sel induk mungkin menyelamatkan nyawa, cara ini bukan pengobatan yang tepat untuk semua orang. Prosesnya bisa sulit dan melelahkan. Risikonya pun bisa serius.

Dokter pun perlu mempertimbangkan kondisi fisik umum pasien, diagnosis, tahap penyakit, dan perawatan yang sudah dijalani. Pasien akan memerlukan sejumlah tes untuk memastikan bahwa dia cukup sehat untuk menjalani prosedur.

[Gambas:Video 20detik]

(muf)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi