parenting

Cara Tepat Ajari Anak Bersikap Saat Orang Tua Dinyinyiri

Radian Nyi Sukmasari Rabu, 20 Mar 2019 09:01 WIB
Cara Tepat Ajari Anak Bersikap Saat Orang Tua Dinyinyiri
Jakarta - Dalam hidup ini bukan tak mungkin seseorang tersangkut masalah. Nah, ketika orang tua yang terkena masalah, sebut saja sebuah kasus hukum, anak bukan enggak mungkin kena imbasnya yakni dinyinyiri oleh orang sekitar. Betul enggak, Bun?

Dinyinyiri atas apa yang terjadi pada orang tuanya pasti bikin anak enggak nyaman. Dalam kondisi seperti ini, orang tua bisa coba mengajarkan ke anak bahwa pasti ada konsekuensi dari setiap perilaku, demikian disampaikan psikolog anak dan keluarga dari RaQQi-Human Development and Learning Centre, Ratih Zulhaqqi.

Misalnya, saat sang ayah menjalani hukuman bui, ibu atau keluarga lain bisa mengajari anak untuk menerima hal tersebut karena si ayah sedang menebus kesalahannya. Tekankan ke anak jadikan ini sebagai pengalaman hidup, tak perlu terlalu baper alias terbawa perasaan. Ya, karena memang itulah kenyataannya.



"Kalau orang tuanya dinyinyiri karena mengundang kontroversi. Kita mesti tanamkan bahwa tiap orang bebas berpendapat. Sampaikan gimana menanggapinya. Kalau negatif, ya kita juga ikutan negatif, tapi kalau menanggapi dengan positif, kita pun jadi lebih baik. Kita hargai aja dan ajari anak merespons seperlunya, calm down, dan enggak terlalu reaktif," papar Ratih, saat ngobrol dengan HaiBunda.

Ilustrasi anak sedih karena orang tuanya dinyinyiriIlustrasi anak sedih karena orang tuanya dinyinyiri/ Foto: thinkstock
Dia mengingatkan, kita tidak bisa mengontrol bagaimana sikap orang pada diri kita, Bun. Tapi, kita bisa mengontrol respons kita terhadap apa yang dilakukan orang. Dihubungi terpisah, psikolog anak dari Tiga Generasi, Marcelina Melissa yang akrab disapa Lina, mengatakan dari sisi anak, ketika mendengar berita mengenai orang tua atau keluarga yang bikin dia dinyinyiri, klarifikasi dengan sumber utama.


Sumber utama di sini, kata Lina, adalah sosok yang jadi perbincangan. Ini untuk memastikan tidak ada mispersepsi antara info yang didengar dengan yang sebenarnya terjadi. Lalu, orang tua atau orang terdekat bisa mengajari anak menerima emosi apapun yang dirasakan.

Namun, jaga agar perilaku yang ditampilkan tidak merugikan diri sendiri dan orang lain. Kata Lina, anak bisa dilatih melakukan time out untuk diri sendiri, atau menceritakan masalah kepada orang lain untuk mencurahkan perasaan dan pemikirannya. Hal lain yang enggak kalah penting, pisahkan persepsi publik dan perilaku yang ditampilkan sosok yang jadi pemberitaan dan sorotan publik, dengan peran atau hubungan personal dengan dirinya.

"Misalnya, ortu melakukan kesalahan atau menampilkan perilaku yang kurang sesuai dengan norma masyarakat, tapi ortu menjalankan peran pengasuhan dengan baik, hingga anak merasa terpenuhi kebutuhannya," terang Lina.

"Jika seperti itu, ajari anak hingga dia bisa membedakan pandangan masyarakat yang belum tentu sesuai dengan realita, dengan hubungan personal. Jaga seminimal mungkin efek pandangan publik memengaruhi hubungan personal anak," pungkas Lina.

[Gambas:Video 20detik]

(rdn/muf)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi