parenting

Mempertimbangkan Risiko dan Keuntungan Sunat pada Bayi Laki-laki

Ratih Wulan Pinandu Senin, 25 Mar 2019 18:33 WIB
Mempertimbangkan Risiko dan Keuntungan Sunat pada Bayi Laki-laki
Jakarta - Seorang bayi berusia lima bulan di Italia meninggal dunia, setelah orang tuanya melakukan penyunatan di rumah. Menurut laporan BBC, bayi tersebut sempat dilarikan ke rumah sakit di Bologna dalam kondisi serangan jantung pada Jumat malam lalu, Bun.

Namun sayangnya, nyawa bayi malang itu tak tertolong. Sang orang tua diketahui berasal dari Ghana, dan saat ini polisi sedang menyelediki kasus itu. Dilaporkan, memang sekitar 5.000 praktik sunat dilakukan di Italia setiap tahunnya. Badan amal kesehatan Amsi melaporkan, lebih dari sepertiganya dilakukan secara ilegal, Bun, jadi tidak bisa dipastikan keamanannya.


Kasus serupa juga pernah terjadi sebelumnya di Roma pada Desember lalu. Seorang bocah laki-laki berusia dua tahun meninggal setelah gagal disunat.


Sunat disebut sebagai prosedur medis yang relatif sederhana, namun tidak sepenuhnya bebas risiko. Dokter biasanya akan menyarankan bayi laki-laki disunat jika memiliki kulup yang ketat atau dikenal dengan fimosis. Orang dengan kondisi demikian akan mengalami infeksi berulang pada kulup dan penis, atau dikenal sebagai balanitis.

Melansir detikcom, tak ada patokan khusus yang mengatur usia berapa anak harus disunat. dr.Arry Rodjani Sp.U dari RS Asri Duren Tiga mengatakan, anak-anak boleh disunat jika memiliki penis normal.

"Tidak ada usia idealnya. Umur berapapun bisa disunat, tergantung anak dan keluarganya. Saat anak dianggap sudah besar tapi masih takut disunat, bisa dibujuk. Atau bisa dibius umum supaya tidak nyeri saat dilakukan operasi. Kalau makin besar apakah lebih sulit atau mudah sebenarnya tidak ada masalah. Tapi kalau bayi kan bisa lebih mudah karena tidak banyak gerak," ungkap Arry.

Mempertimbangkan Risiko dan Keuntungan Sunat Bayi Laki-lakiIlustrasi sunat Bayi/ Foto: iStock

Menurutnya, yang harus diperhatikan orang tua adalah pemilihan prosedur sunat yang aman. Sesuaikan dengan kondisi anak, dan jeli memilih metode sunat yang sesuai dengan standar kesehatan.

"Jangan main sembarangan sunat ke 'dokter'. Mereka mungkin bilangnya laser tapi kenyataannya bukan laser yang sesungguhnya dipakai sunat. Jika tidak hati-hati, justru glans penis ikut terbakar dan seiring berjalannya waktu kalau makin parah bisa diamputasi, bahaya itu," terang Arry.

Beberapa orang tua melakukan penyunatan pada anak baru lahir bukan karena keputusan medis. Melansir Web MD, sekitar dua pertiga anak laki-laki Amerika Serikat disunat. Selain pertimbangan agama, banyak orang merasakan manfaat medis dari sunat, antara lain mencegah risiko infeksi saluran kemih, kanker penis dan infeksi menular seksual tertentu pada pria.


Banyak orang tua mempertimbangkan untuk menyunat anaknya saat masih bayi dengan alasan akan lebih cepat sembuh karena bayi relatif belum banyak gerak. Terkait hal ini, dr.Mahdian Nur Nasution, Sp.BS pendiri Rumah Sunat dr.Mahdian mengatakan, saat masih bayi perubahan sel banyak dan cepat terjadi dibanding saat usianya lebih dewasa. Sehingga, dapat membuat luka lebih cepat sembuh, Bun.

"Karena itu, pada usia bayi kalau ada luka paling cepat sembuh, karena sel akan beregenerasi paling bagus saat itu," tegas Mahdian saat berbincang dengan HaiBunda beberapa waktu lalu.

Bunda, saksikan juga yuk cara memandikan bayi baru lahir yang tepat dari video di bawah ini.

[Gambas:Video 20detik]




(rap/rdn)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait

Rekomendasi