HaiBunda

PARENTING

Cara Melatih Anak Selesaikan Masalah Tanpa Kekerasan

Radian Nyi Sukmasari   |   HaiBunda

Kamis, 11 Apr 2019 08:02 WIB
Ilustrasi ajari anak selesaikan masalah tanpa kekerasan/ Foto: iStock
Jakarta - Baru-baru ini, terjadi peristiwa pengeroyokan terhadap siswi SMP di Pontianak bernama Audrey. Gadis 14 tahun ini dikeroyok siswi dari beberapa SMA. Diketahui, pengeroyokan ini ditengarai masalah asmara, Bun.

Dikutip dari detikcom, Ketua KPPAD Kalbar Eka Nurhayati Ishak menyatakan Audrey memiliki sepupu berinisial P. Mantan pacar P kemudian pacaran dengan D, tapi masih sering berhubungan dengan P sehingga D emosional. Masalah ini berlanjut ke media sosial.

"Korban A ini sering nimbrung dan komentar di medsos. Ini ternyata memancing emosi pelaku," ujar Eka.


Miris ya, Bun, mendengarnya. Anak yang masih di bawah umur menyelesaikan masalahnya dengan tindak kekerasan. Menanggapi hal ini, psikolog anak dari TigaGenerasi @ Brawijaya Clinic, Anastasia Satriyo yang karib disapa Anas mengatakan problem solving yang diambil pelaku kurang tepat.

Foto: Thinkstock
Dalam hal ini, memang sejatinya anak sudah dilatih kemampuannya dalam menyelesaikan masalah dan mengelola emosi dalam menghadapi sesuatu. Di sekolah, pencegahan melakukan tindak kekerasan termasuk dalam menyelesaikan masalah bisa saja diajarkan. Namun, ketika di lingkungan keluarga dan pertemanan kekerasan sering dilakukan, bukan tak mungkin anak akan menganggap itu adalah hal yang biasa.

Termasuk ketika menyelesaikan masalah dengan kekerasan, hal itu bisa dianggap biasa oleh anak. Tapi, menurut Anas masalahnya ketika kita mentoleransi kekerasan yang dilakukan anak, makin lama akan makin parah, Bun.

"Awalnya marah-marah, terus bisa aja ngelabrak, barangnya si korban diambil dan lama-lama bisa sampai melakukan kekerasan fisik," ujar Anas saat berbincang dengan HaiBunda.



Nah, agar anak tak menggunakan tindak kekerasan dalam menyelesaikan masalah, kata Anas orang tua perlu mengajari anak menyadari dan mengenali berbagai macam emosi. Kemudian, ajari anak cara tepat menyalurkan emosi.

"Marah boleh tapi tangan dan kaki enggak bertindak. Sedih boleh, tapi menyalurkannya dengan menulis, jangan mengurung diri di kamar. Lalu, ortu perlu jadi teman anak bercerita. Kalau anak lagi bercerita tentang emosinya, di sini kita perlu paham emosi karena kalau enggak paham emosi kita bakal respons 'udah-udah jangan sedih, jangan marah,'" papar Anas yang juga praktik di Klinik PERHATI Pluit ini.

Lantas, gimana respons yang tepat? Cobalah dengarkan apa perasaan anak dan terima perasaannya. Lalu tanyakan apa penyebab dia sampai memiliki perasaan seperti itu. Setelah anak bercerita, ajak dia berdiskusi apa jalan keluar yang tepat menurutnya. Dengan begini, orang tua bisa jadi tempat yang aman bagi anak bercerita, Bun.

"Kita juga akan bantu mereka menyelesaikan masalah. Apalagi untuk anak di bawah 17 tahun memang dari sisi perkembangan otaknya mereka masih belum bisa berpikir cukup matang untuk memilih hal yang tepat karena masih impulsif," pungkas Anas.

Kasus yang dialami Audrey juga mengundang perhatian Mona Ratuliu, Bun. Yuk, simak apa kata Mona dalam video berikut ini:

[Gambas:Video 20detik]



(rdn/som)

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Potret Audi Marissa di Bali Usai Berpisah dari Anthony Xie, Ungkap Isi Hati

Mom's Life Amira Salsabila

Benarkah Abu Vulkanik Bisa Bikin Makin Tanaman Subur? Begini Kata Pakar

Mom's Life Arina Yulistara

Potret Sekala Putra Ayudia dan Ditto Percussion Ikut Turnamen Golf

Parenting Annisa Karnesyia

Ciri Orang yang Nyaman Punya Sedikit Teman, Lebih Memilih Pertemanan yang Berkualitas

Mom's Life Melly Febrida

Pria Juga Mengalami Masa Menopause, Mitos atau Fakta?

Kehamilan Dwi Indah Nurcahyani

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Potret Audi Marissa di Bali Usai Berpisah dari Anthony Xie, Ungkap Isi Hati

Benarkah Abu Vulkanik Bisa Bikin Makin Tanaman Subur? Begini Kata Pakar

Potret Sekala Putra Ayudia dan Ditto Percussion Ikut Turnamen Golf

Ciri Orang yang Nyaman Punya Sedikit Teman, Lebih Memilih Pertemanan yang Berkualitas

Orang Tua yang Sedang Stres Ternyata Bisa Picu Anak Main HP Kelamaan

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK