parenting

4 Mitos tentang Sunat Anak yang Masih Sering Dipercaya

Annisa Karnesyia Kamis, 20 Jun 2019 16:02 WIB
4 Mitos tentang Sunat Anak yang Masih Sering Dipercaya
Jakarta - Sunat adalah tindakan lumrah yang dilakukan pada anak laki-laki hanya pada laki-laki tapi juga perempuan. Secara anatomi, sunat pada laki-laki dilakukan untuk membuang kulup yang sudah ada sejak di dalam kandungan.

Kata CEO PT Rumah Sunat, dr.Mahdian Nur Nasution, SpBS, di bagian dalam kulup ada mukosa yang selalu memproduksi sperma. Bila dibiarkan dan enggak dibuang, bisa terjadi infeksi berulang, Bun.




Meski dari segi medis baik, bagi beberapa orang tua, melakukan tindakan sunat pada anak banyak pertimbangannya. Selain karena anak belum siap, banyaknya mitos seputar sunat kadang membuat orang tua khawatir.

Nah, berikut 4 mitos soal sunat anak yang Bunda harus tahu:

1. Anak tidak boleh banyak gerak setelah disunat

Efek disunat memang menimbulkan nyeri. Tapi bukan berarti si kecil harus membatasi aktivitasnya, Bun.

Bila Bunda merawat kebersihan area sunat dengan baik, pasti tidak akan menimbulkan infeksi atau cedera saat anak beraktivitas. Memang, pada beberapa teknik sunat, rasa nyeri tidak terlalu terasa.

"Boleh anak main sepeda dan berenang, boleh enggak apa-apa. Besoknya setelah sunat, anak sudah bisa beraktivitas," ujar Mahdian dalam acara 'Diskusi Media Revolusi Sunat Tanpa Jarum Suntik' di Rumah Makan Handayani, Matraman, Jakarta Timur, baru-baru ini.

2. Ada jenis makanan yang menghambat penyembuhan

Faktanya, enggak ada makanan yang harus dipantang setelah sunat, Bun. Kata Mahdian, ini hanya mitos yang enggak berkaitan dengan penyembuhan luka sunat.

"Ini mitos, katanya makan kecap menjadi hitam, telur atau ikan menjadi alergi gatal-gatal. Justru itu semua protein yang diperlukan untuk penyembuhan luka," kata Mahdian.

4 Mitos tentang Sunat Anak yang Masih Dipercaya4 Mitos tentang Sunat Anak yang Masih Dipercaya/ Foto: iStock

3. Badan tumbuh tinggi atau besar setelah sunat

Anak menjadi besar dan tinggi usai disunat? Menurut Mahdian sunat enggak ada hubungannya dengan pertumbuhan anak. Pertumbuhan anak itu ditentukan oleh growth hormone.

Hormon itu aktif saat anak berusia 11 - 13 tahun. Nah, biasanya do rentang usia itu pula anak disunat. Sehingga, terkesan sunat bikin anak lelaki tumbuh tinggi dan besar.

4. Disunat 'Jin'

Banyak orang sering menemukan kondisi kelamin anaknya seperti sudah disunat, yaitu bengkak, sakit, dan bentuknya seperti terbuka. Mereka menyebutnya disunat 'jin' atau mahkluk halus.

Padahal, penyebabnya adalah parafimosis. Parafimosis adalah kondisi yang menyebabkan kulup tidak bisa kembali ke posisinya lagi.

"Parafimosis itu kulit kemaluannya ketarik ke belakang, misalnya karena dimain-mainin. Kan anak suka main-main alat kelaminnya, ketarik dan enggak bisa balik lagi, seperti terbuka lalu terkunci," tutur Mahdian.

[Gambas:Video Haibunda]

(ank/rdn)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi