parenting

Viral Fire Challenge, Bocah Terbakar Gara-gara Penghapus Kuteks

Annisa Karnesyia Minggu, 06 Oct 2019 06:00 WIB
Viral Fire Challenge, Bocah Terbakar Gara-gara Penghapus Kuteks
Jakarta - Kejadian nahas lagi-lagi terjadi pada seorang anak akibat pengaruh konten di internet. Kali ini menimpa anak 12 tahun bernama Jason dari Michigan, Amerika Serikat yang ikut-ikutan tantangan viral di internet, fire challenge.

Akibat menonton tayangan di YouTube soal fire challenge, tubuh Jason mengalami luka bakar tingkat 2. Jason 'dibakar' temannya sendiri.

Mengutip Today, sang ibu, Tabitha Cleary mengatakan kalau teman putranya itu menyemprotkan pembersih cat kuku lalu menyulut api ke tubuh Jason. Kejadian ini menyebabkan Jason harus dirawat empat hari di rumah sakit.


"Pertama kali apinya kecil, tiba-tiba menyebar dan membesar," kata Jason.

Bocah malang itu menggambarkan rasa sakit yang dia rasakan saat dibawa ke rumah sakit oleh sang ibu. Cleary sendiri langsung berlari ke dalam rumah teman anaknya saat mendengar teriakan Jason. Betapa kagetnya dia melihat kondisi sang anak yang terbakar.

"Saya hanya ingin semua orang tahu kalau tantangan ini, atau sesuatu yang mereka tonton di YouTube tidak pantas ditonton karena mempertaruhkan nyawa," kata Cleary

"Anakku sampai terkena luka bakar tingkat 2, dan itu sangatlah buruk," sambungnya.

Sebenarnya fire challenge bukanlah hal baru, Bun. Pusat penelitian dari University of Iowa mengatakan, tantangan ini telah beredar di dunia maya sekitar tahun 2010.

Tahun 2016, seorang anak dari Queens, New York, mengalami luka bakar setelah menyiram dirinya dengan alkohol dan menyulutkan api. Tahun lalu, anak perempuan 12 tahun di Detroit harus dirawat selama dua bulan karena luka bakar tingkat 2 dan 3. Keduanya mencoba mengikuti fire challenge.

Ilustrasi anak main gadgetIlustrasi anak main gadget/ Foto: iStock

Fire challenge adalah satu dari banyaknya tantangan yang menjadi tren di internet. Kata psikolog John M. Grohol, Psy.D., tren ini disebut viral hoax karena menyebar di media sosial dan internet, dan biasanya dimulai dari orang dewasa yang membagikannya.

"Bisa saja video dibagikan oleh orang dewasa atau orang tua yang ingin memperingatkan, tanpa tahu itu semua tidak nyata. Padahal, video kebohongan itu akan tersebar luas dan mengancam anak-anak kita yang menggunakan internet," kata Grohol, dilansir Psych Central.

Langkah terbaik untuk melindungi anak dari konten buruk adalah memantau dan mengetahui aktivitas internet mereka, Bun. Jangan izinkan untuk menggunakan internet sendirian atau hindari penggunaan gawai sampai mereka remaja.

"Bisa juga berikan contoh dari konten buruk di internet. Ajari mereka tentang dampak negatifnya jika ditiru," ujar Grohol.

Sedangkan menurut Head of Consumer Marketing Google Indonesia Fibriyani Elastria, penting untuk orang tua menyoroti dan memastikan konten yang dikonsumsi anak itu aman. Orang tua bisa memainkan peran 'polisi' atau menggunakan layanan parental di internet untuk mengawasi anak.

"Di saat yang sama, kita harus mencari cara untuk memastikan konten-konten ini juga akan aman dikonsumsi," kata Fibri seperti dikutip dari detikcom.

Bunda, simak juga penanganan tepat pada anak yang terkena luka bakar, di video berikut ya.

[Gambas:Video Haibunda]

(ank/rdn)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait

Rekomendasi