parenting

Peringati Hari Anak Sedunia, Ini 3 Kasus Penyiksaan Anak Paling Fenomenal

Siti Hafadzoh Rabu, 20 Nov 2019 18:01 WIB
Peringati Hari Anak Sedunia, Ini 3 Kasus Penyiksaan Anak Paling Fenomenal
Jakarta - Bunda, sudah tahu kalau hari ini diperingati sebagai Hari anak Sedunia? Hal ini diputuskan pertama kali pada tahun 1954 dan dikenal juga sebagai hari anak universal.

Setelah itu, tanggal 20 November ditetapkan sebagai Hari Anak Sedunia setiap tahunnya.

Hari Anak Sedunia diperingati untuk mengkampanyekan kebersamaan dan kesadaran mengenai anak-anak di seluruh dunia. Hari anak sedunia juga bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan anak, Bun.


Dilansir situs resmi UNICEF, tanggal 20 November adalah tanggal yang penting karena pada tahun 1959. Majelis Umum PBB mengadopsi Deklarasi Hak-Hak Anak.

Bicara tentang hak anak, salah satunya dengan mengentaskan masalah penganiayaan terhadap anak. Karena hal itu merupakan salah satu perampasan terhadap hak anak.

Kekerasan terhadap anak masih terus menjadi sorotan, karena sejauh ini masih marak kasus penganiayaan pada anak-anak.Khususnya di Indonesia, sejumlah kasus penganiayaan terhadap anak masih tinggi.

Beberapa di antaranya sampai menyedot masyarakat di berbagai daerah. Sehingga menjadi isu nasional, yang tentu tak bisa kita abaikan begitu saja.

Dirangkum dari beberapa sumber, berikut ini kasus penganiayaan anak fenomenal yang terjadi di Indonesia.

1. Arie Hanggara

Kasus yang menimpa Arie Hanggara terjadi pada 8 November 1984. Arie merupakan anak kedua dari pasangan Machtino Eddiwan dan Dahlia Nasution.

Setelah rumah tangga kedua orang tuanya berantakan, Arie tinggal bersama ayah dan ibu tirinya yang bernama Santi. Penyiksaan pun bermula sejak saat itu.

Ketika ayahnya dan Santi kesal dengan perbuatan Arie, mereka sering menyiksanya dengan memukul, menendang, menampar, dan disuruh jongkok terus menerus hingga kelelahan. Kepala Arie juga dibenturkan ke tembok kamar mandi.

Arie meninggal di usia 7 tahun karena tubuhnya sudah tidak sanggup lagi menahan derita. Terdapat 40 luka pada tubuh jenazah Arie.

Peringati Hari Anak Sedunia, Ini 3 Kasus Penyiksaan Anak Paling FenomenalIlustrasi jenazah/ Foto: Thinkstock

2. Angeline

Di tahun 2015, kasus penyiksaan anak yang fenomenal kembali terjadi. Angeline yang dinyatakan hilang selama 24 hari ditemukan tewas secara mengenaskan.

Jenazah bocah usia 8 tahun ini ditemukan di belakang rumah ibu angkatnya, Margriet Megawe yang berlokasi di Sanur, Bali. Polisi terus mengusut kematian bocah ini.

Awalnya, polisi menetapkan Agus, mantan asisten rumah tangga Margaret sebagai tersangka kasus ini. Kata pihak kepolisian, Agus membenturkan kepala korban ke lantai. Ia juga sempat memperkosa Angeline.

Namun, akhirnya terbukti bahwa pembunuh sebenarnya adalah ibu angkat Angeline, Margriet. Ia melakukan penganiayaan terhadap Angeline seorang diri di dalam rumahnya. Angeline hanya bisa merintih kesakitan.

Margriet menyuruh Agus untuk menyutubuhi korban, tapi Agus tidak mau. Kemudian, ia menyuruh Agus untuk menggali lubang dekat kandang ayam untuk mengubur Angeline.

Wanita ini memperlakukan Angeline dengan kasar. Ia menyuruh Angeline untuk mengurus dan memberi makan hewan ternak miliknya. Margriet juga tidak memberikan makanan yang layak untuk bocah tersebut. Ia hanya memberinya mi instan.

3. Audrey

Berbeda dengan kasus penganiayaan di atas, kasus yang belum lama ini bukan dilakukan oleh orang tua. Remaja bernama Audrey ini dibully oleh teman-temannya. Ia mengaku dikeroyok oleh siswi SMA di kotanya.

Audrey merupakan siswi salah satu SMP di wilayah Pontianak. Kasus ini berawal dari media sosial hingga memunculkan tagar JusticeforAudrey.

Dugaan awal, kekerasan yang dialami Audrey berasal dari cekcok karena seling ejek antara Audrey dan siswi SMA di media sosial. Perkelahian dimulai karena kekesalan salah satu siswi SMA berinisial Ec kesal karena Audrey sering mem-bully dirinya di media sosial.

Audrey dan para siswi SMA itu akhirnya bertemu di tepi Sungai Kapuas pada Jumat (29/03/2019). Ketika itu terjadilah perkelahian.

Audrey mengaku dikeroyok oleh siswi SMA tersebut. Bahkan, katanya mereka sampai menekan alat kelamin korban.

Visum dilakukan seminggu setelah dugaan pengeroyokan. Dari hasil visum, kepala Audrey tidak bengkak dan tidak ada benjolan. Kapolresta Pontianak Kombes M Anwar Nasir mengatakan bahwa dari hasil visum, tidak ada bekas luka di alat kelamin Audrey.

"Alat kelamin, selaput dara atau hymen, intact. Tidak tampak luka robek atau memar," kata Anwar dikutip dari detikcom.

Kaus ini akhirnya berkembang dengan berbagai kontroversi. Akibat kasus ini, Audrey pun dianggap melebih-lebihkan. Sehingga, terkesan membohongi publik.

Tapi, satu hal yang paling penting adalah kekerasan verbal dan bullying berakibat buruk pada remaja. Sehingga menimbulkan efek yang luar biasa pada korbannya.

Hingga saat ini, masih banyak kasus penganiayaan terhadap anak terjadi di Indonesia. Padahal, anak punya hak untuk hidup layak.

Di hari anak sedunia ini, ayo kita membangun dunia yang lebih baik untuk anak.

Ternyata bermain pasir punya manfaat lho untuk anak. Simak selengkapnya di video ini ya, Bun.

[Gambas:Video Haibunda]

(sih/rap)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait

Rekomendasi