parenting

Waspadai Diare, Penyebab Tingginya Kematian pada Anak

Ratih Wulan Pinandu Senin, 02 Dec 2019 17:21 WIB
Waspadai Diare, Penyebab Tingginya Kematian pada Anak Diare sebabkan kematian pada anak/Foto: iStock
Jakarta - Diare menjadi salah satu penyakit yang langganan datang saat musim hujan seperti ini. Bunda sebaiknya waspada agar anak tak gampang terjangkit diare.

Melansir buku Mengatasi Gawat Darurat pada Anak, diare disebut sebagai penyakit yang paling banyak dialami anak-anak. Saking seringnya menerpa anak-anak, banyak orang tua yang menganggap diare sebagai penyakit yang ringan dan dapat sembuh dengan sendirinya.


Akibatnya, banyak anak-anak yang menderita diare menjadi dehidrasi berat saat dibawa ke rumah sakit. Itulah yang kemudian membuat angka kematian akibat diare tinggi. Pada anak-anak usia di bawah 1 tahun mencapai 31,4 persen. Lalu ada 25,2 persen pada anak-anak usia 1-4 tahun.


Ciri dan gejalanya

Ciri paling mudah yang gampang dikenali adalah perubahan feses dari padat menjadi lembek atau cair. Selain itu, peningkatan frekuensi buang air besar (BAB) pada anak-anak.

Untuk mengetahui gejala diare, orang tua sebaiknya mengetahui kebiasaan BAB pada anaknya. "Bila setiap hari frekuensi BAB tiga kali sehari dengan bentuk lembek, maka BAB seperti ini bukan termasuk diare," ungkap dr. Kurniawan Taufiq Kudafi, M.Biomed, Sp.A (K).

Anak bisa dikatakan diare jika biasanya BAB tiga kali sehari, naik menjadi lima kali sehari dengan bentuk feses cair, Bun. Nah, orang tua harus waspada jika anak diare apalagi jika mereka lemas dan dehidrasi.

Waspadai Diare, Penyebab Tingginya Kematian pada AnakDiare sebabkan kematian pada anak/Foto: Istock

Penyebab diare

Diare paling banyak disebabkan oleh infeksi rotavirus. Infeksi ini dapat terjadi di dalam maupun di luar saluran pencernaan. Hal itu bisa disebabkan oleh virus seperti rotavirus, enterovirus, dan adenovirus.

Bisa juga disebabkan bakteri E.coli, salmonella, yersinia. Lalu bisa juga diakibatkan adanya parasit G.lamblia, E.histolitika, candida albicans.

Sedangkan diare yang terjadi di luar saluran pencernaan bisa disebabkan oleh infeksi saluran telinga tengah, radang paru-paru, radang tenggorokan, dan juga infeksi campak.

Sedangkan menurut dr. Gustrin Oktaviayu Cendhikalistya dalam buku Ibuku Dokterku, diare bisa terjadi antara 3-14 hari. Jika mencapai dua minggu lebih, maka tergolong dalam diare kronik.

Gustrin menambahkan, penyebab diare juga bisa diakibatkan oleh malabsorsi, alergi, keracunan makanan, imunodefisiensi, malnutrisi.

Gejala dehidrasi saat anak diare

Tanpa dehidrasi
Anak diare tanpa dehidrasi pada umumnya masih dalam kondisi baik. Mereka masih sadar, ubun-ubun besar dan tidak cekung.

Begitu pula dengan mata yang tidak cekung. Serta masih mengeluarkan air mata saat mereka menangis. Mukosa mulut dan bibir basah. Jika kulit perutnya dicubit, akan kembali dengan cepat. Kaki dan tangan pun teraba hangat.

Dehidrasi ringan sedang
Keadaan anak secara umum, rewel, dan cengeng. Ubun-ubun terlihat besar dan mulai cekung. Mata anak juga akan terlihat lebih cekung.

Perhatikan saat mereka menangis, biasanya air mata akan mulai berkurang. Mulut juga kering dan mereka juga merasa haus sekali. Perhatikan juga, apakah kulit perut jika dicubit akan melambat. Tangan dan kaki anak masih terasa hangat juga.

Waspadai Diare, Penyebab Tingginya Kematian pada AnakDiare sebabkan kematian pada anak/Foto: Istimewa


Dehidrasi berat
Anak dengan diare sangat berkemungkinan mengalami dehidrasi berat. Anak-anak biasanya akan lebih lemas, diam, hingga pingsan.

Ubun-ubun membesar dan cekung. Mata sangat cekung, dan air mata sudah tidak keluar saat anak menangis. Mulut kering, dan kulit perut akan kembali dengan lambat saat dicubit. Sedangkan tangan dan kaki terasa dingin.

Penanganan diare

Dalam menangani diare, ada yang disebut dengan tindakan cekatan. Pertama, beri anak larutan oralit, larutan gula garam/tajin/kuah sayur. "Bunda bisa juga memberikan sari buah, air teh, pocari sweet. Selanjutnya Bunda bisa juga memberikan tablet zinc selama 10 hari berturut-turut," jelas Gustrin.

Perawatan akan tergantung pada gejala, usia, dan kesehatan umum anak. Ini juga akan tergantung pada seberapa parah kondisinya. Dehidrasi adalah masalah utama diare. Dalam kebanyakan kasus, perawatan termasuk mengganti cairan yang hilang. Antibiotik dapat diresepkan jika infeksi bakteri adalah penyebabnya.

Anak-anak harus minum banyak cairan. Ini membantu menggantikan cairan tubuh yang hilang. Jika anak mengalami dehidrasi, pastikan untuk:

- Tawarkan minuman yang disebut larutan glukosa-elektrolit. Cairan ini memiliki keseimbangan air, gula, dan garam yang tepat.
- Hindari jus atau soda. Minuman jenis ini dapat membuat diare menjadi lebih buruk.
- Tidak memberikan air putih kepada bayi (jika pasiennya masih bayi).
- Tidak memberikan terlalu banyak air putih untuk anak-anak, itu bisa berbahaya.
- Terus menyusui bayi. Hal ini karena bayi yang disusui jarang mengalami diare.
- Teruslah memberi susu formula bayi.

Pada anak 1 tahun, disarankan untuk memberikan oralit 50-100 ml saat mengalami diare. Sedangkan pada anak 1-5 tahun, diberikan 100-200 ml. Lalu, pada anak di atas 5 tahun berikan oralit sesuai dengan kebutuhan mereka.

Pemberian antibiotik baru disarankan jika diare pada anak disertai dengan muntah terus-menerus. Anak tidak mau makan dan minum, serta BAB dengan intensitas tinggi.

Kapan anak harus dibawa ke dokter


- BAB cair jadi lebih sering
- Muntah profuse (berlebih dan berulang)
- Tampak sangat haus
- Menolak makan dan minum
- Demam tinggi
- Tinjanya ada darah, berbuih, dan berbau anyir
- Tidak membaik dalam tiga hari
Waspadai Diare, Penyebab Tingginya Kematian pada Anak

Bunda, simak juga yuk cara mengatasi diare dalam video berikut ini.

[Gambas:Video Haibunda]

(rap/rap)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait

Rekomendasi