sign up SIGN UP search


parenting

Kisah Bocah di Rembang, Tetap ke Sekolah karena Tak Punya Smartphone

Annisa Karnesyia Sabtu, 25 Jul 2020 12:14 WIB
Dimas Ibnu Alias, sekolah sendirian di Rembang, Jumat (24/7/2020). caption
Jakarta -

Kisah menggetarkan hati datang dari seorang bocah dari Rembang, Jawa Tengah. Adalah Dimas Ibnu Alias, siswa kelas VII SMPN 1 Rembang yang tetap datang ke sekolah di masa new normal.

Dimas menjadi satu-satunya murid yang masuk sekolah di tahun ajaran baru ini, Bunda. Seperti hari-hari lain, Dimas datang ke sekolah lengkap dengan seragamnya.

Dimas yang diantar ibunya ini duduk berhadapan dengan sang guru di kelas. Keduanya terlihat menggunakan pelindung wajah dan masker.


Berbeda dengan teman-temannya yang belajar di rumah dan mengikuti kelas secara daring, Dimas memilih ke sekolah karena tak punya smartphone. Keterbatasan orang tuanya ini membuat Dimas diizinkan belajar tatap muka di sekolah selama pandemi Corona.

"Ia datang diantar ibunya naik sepeda motor. Setelah itu ditinggal lantaran ibunya bekerja sebagai karyawan pengeringan ikan. Selesai pembelajaran, Dimas diantar wali kelas sampai rumah," kata Kepala SMP N 1 Rembang Isti Chomawati.

Ayah Dimas, Didik Suroyo, sehari-hari bekerja sebagai nelayan harian. Sementara ibunya Asiatun, bekerja sebagai buruh pengeringan ikan.

Sebelum mendapatkan izin, pihak sekolah sudah memastikan Dimas tak memiliki fasilitas memadai untuk belajar daring. Menurut Isti, smartphone bukanlah kebutuhan prioritas di keluarga Dimas,

"Barangkali, bagi keluarganya, beras jauh lebih dibutuhkan daripada ponsel pintar dan kuota internet," ujar Isti.

Dimas Ibnu Alias, sekolah sendirian di Rembang, Jumat (24/7/2020).Dimas Ibnu Alias, sekolah sendirian di Rembang, Jumat (24/7/2020)./ Foto: (Arif Syaefudin/detikcom)

Selain Dimas, sebenarnya banyak siswa di daerah itu yang tidak punya fasilitas belajar daring, Bunda. Namun, pihak sekolah belum selesai mendatanya.

SMPN 1 Rembang memang sengaja membuat kebijakan khusus ini untuk siswanya yang tak punya smartphone atau kesulitan belajar online di rumah. Kebijakan ini dilakukan dengan protokol kesehatan yang ketat.

"Tentu saja, dengan protokoler ketat, seperti cek suhu badan, pelindung wajah, masker, dan lainnya," ucap Isti, dikutip dari detikcom.

"Kami sudah inventarisasi, ada beberapa siswa yang memang tidak memiliki fasilitas daring. Nanti mereka akan kami bantu belajar offline," sambungnya.

Nah, cerita Dimas yang tak punya smartphone ini viral, Bunda. Kemudian ada yang berbaik hati ingin memberikan ponsel untuk anak-anak yang belum punya ponsel buat belajar di rumah seperti Dimas.

"Rekan2 media, temen2 yg temukan kejadian serupa yg ditulis Mas Arif, Detik ini boleh share kontak pihak sekolah/guru/orangtua ke aku atau @tsarina_m ya agar kami bisa salurkan ponsel bekas. Kami butuh banget kolaborasi antar warga utk jangkau mereka yg membutuhkan. Terima kasih!" cuit akun Twitter @ghinaghaliya.

Ponsel tersebut adalah hasil donasi yang sebelumnya telah dikumpulkan. Salah satu syarat untuk mendapat ponsel itu, siswa calon penerima harus bersekolah formal dan menjalankan program PJJ. Tentu banyak yang membutuhkan ya, Bunda, karena memang proses pembelajaran masih berlangsung dari rumah.

Beberapa waktu lalu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nadiem Anwar Makarim menegaskan bahwa tahun ajaran baru tidak mengubah metode pembelajaran yang sekarang. Artinya, para peserta didik diwajibkan belajar dari rumah.

Nadiem juga menyampaikan bahwa metode belajar dari rumah ini ditentukan sesuai zonanya. Untuk daerah dengan zona kuning, oranye, dan merah, dilarang melakukan kegiatan belajar tatap muka.

"Sebanyak 94 persen peserta didik kita, tidak diperkenankan belajar tatap muka. (Sebanyak) 6 persen yang berada di zona hijau belajar tatap muka tapi dengan protokol yang sangat ketat," kata Nadiem Makarim, di kanal YouTube Kemendikbud RI pada (15/6/2020).

Pendidikan adalah sesuatu yang tidak bisa berhenti. Prof. Dr. Ir. K.H. Mohammad Nuh, Menteri Pendidikan Nasional Indonesia periode 2009 - 2014, mengatakan bahwa pembelajaran online merupakan cara terbaik untuk diterapkan saat ini.

"Kita semua sepakat cara terbaik saat ini pakai daring. Tetapi saya memberikan pendapat, kombinasi, ada yang online ada yang offline," katanya.

Ia juga menyinggung soal ketersediaan fasilitas yang harus mendukung sistemĀ belajar daring. Kebijakan tidak akan berjalan, jika fasilitas tidak memadai.

"Tentu ketersediaan dan keterjangkauan digital infrastruktur menjadi keharusan. Karena kalau ini tidak ada, maka kebijakan belajar dari rumah tidak punya makna," ucapnya.

Simak juga rahasia harmonis rumah tangga Donna Agnesia yang beda 6 tahun dengan suaminya, di video berikut:

[Gambas:Video Haibunda]

(ank/rap)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi