sign up SIGN UP search


parenting

Catat Bunda, 16 Ucapan untuk Menenangkan Anak Marah

Melly Febrida Senin, 27 Jul 2020 11:22 WIB
Scared daughter holding mother's hands in autumn park. Child girl express sad emotions, complain about their own problems caption
Jakarta -

Saat anak-anak sedang kesal, ucapan Bunda terkadang malah membuatnya semakin marah. Sebagai orang tua, Bunda perlu juga mengatur emosi menghadapi anak yang sedang marah-marah.

Joanna Faber dalam buku How to Talk So Little Kids Will Listen menjelaskan, ketika anak jengkel atau marah, pertanyaan yang disampaikan dengan lembut masih saja terdengar seperti interogasi. Mungkin saja anak tidak tahu alasan kenapa dia marah.

"Ia mungkin tak bisa mengungkapkan dengan jelas melalui kata-kata. Pada orang dewasa saja pertanyaan-pertanyaan seperti itu kerap membuatnya merasa terancam," kata Faber.


Kalau Bunda bingung harus berkata apa, beberapa ucapan ini mungkin bisa menenangkan si Kecil seperti dikutip Motherly:

1. Ketimbang "Berhenti melempar barang"

Bunda bisa mengatakan: "Kalau Kakak/Adik melempar mainan, Bunda berpikir Kakak/Adik tidak suka memainkannya. Itukah yang terjadi?"

Teknik berbicara seperti ini bertujuan untuk membantu mengomunikasikan perasaan dengan cara yang tidak konfrontatif.  

Jadi Bunda enggak cuma membuka jalur komunikasi. Tapi juga mencontohkan bagaimana cara mengucapkan suatu situasi dari sudut pandang Bunda, yang pada gilirannya memberi anak kesempatan untuk mengulangi peristiwa dalam perspektifnya.

2. Ketimbang: "Anak yang sudah besar tidak melakukan ini"

Bunda bisa mengucapkan, "Anak-anak yang sudah besar dan bahkan orang dewasa kadang-kadang juga marah. Tidak apa-apa, perasaan ini akan berlalu."

Tidak benar jika memberitahu bahwa anak-anak yang sudah besar tidak mengalami kemarahan, frustrasi, atau kecemasan. Ini juga mendorong anak-anak untuk menghindari atau membuang emosi dan mencegah memprosesnya dengan cara yang sehat.

3. Ketimbang, "Jangan marah"

Bunda bisa mengatakan: "Bunda juga terkadang marah berlebihan. Mari kita coba mengendalikan perasaan marah itu."

Sebuah penelitian baru-baru ini mengungkapkan dengan berteriak ketika fisik kita terluka sebenarnya dapat mengganggu pesan rasa sakit yang dikirim ke otak. 

Meskipun anak mungkin tidak kesakitan, tangisan dapat bekerja untuk melepaskan energi kemarahan dengan cara yang menyenangkan.  

4. Ketimbang, "Jangan memukul"

Bunda bisa mengatakan: "Tidak apa-apa marah, tetapi Bunda tidak akan membiarkan Kakak/Adik memukul. Kita harus menjaga semua orang tetap aman."

Perkataan ini memberikan pesan dengan tegas bahwa emosi itu baik-baik saja, tetapi tidak dengan tindakan. Memisahkan keduanya akan membantu anak belajar melakukan hal yang sama

5. Ketimbang: "Sikat gigimu sekarang"

Bunda bisa mengatakan, "Apakah Kamu ingin menyikat gigi Elmo terlebih dahulu atau milikmu?"

Untuk balita, amukan menjadi cara untuk mengontrol lingkungan mereka. Dengan cara ini, Bunda bisa menawarkan pilihan ke anak, dan pada gilirannya, kontrol.

6. Ketimbang: "Makanannya dimakan atau Kakak/Adik nanti lapar pas tidur"

Bunda bisa mengatakan: "Apa yang bisa kita lakukan agar makanan ini enak?"

Cara ini menempatkan tanggung jawab agar menemukan solusi untuk anak.

 7. Ketimbang: "Kamar Kakak/Adik jorok! Kakak/Adik Bunda hukum kecuali membersihkannya."

Bunda bisa mengatakan: "Bagaimana kalau kita mulai membersihkan dari sudut kecil kamarmu ini? Bunda akan membantumu."

Sebagai pengganti fokus pada tugas besar membersihkan sesuatu yang berantakan, coba ubah tujuan menjadi sekadar memulai. Memulai tugas yang tidak diinginkan dapat memberikan dorongan dan momentum untuk melanjutkan.

Sad caucasian autistic little girlIlustrasi/ Foto: iStock

8. Ketimbang: "Berhenti merengek"

Bunda bisa mengatakan: "Bagaimana kalau Kakak/Adik mengatakannya dengan suara yang normal"

Terkadang anak-anak merengek dan bahkan tidak menyadarinya. Dengan meminta anak mengulangi dengan nada normal, Bunda mengajar bahwa cara mengatakan sesuatu itu penting.

9. Ketimbang: "Berhenti mengeluh"

Bunda bisa mengatakan: "Bunda mendengarmu. Bisakah Kakak/Adik menemukan solusi?"

Sekali lagi, cara ini mengajarkan anak bertanggung jawab. Lain kali apabila anak mengeluh tanpa henti tentang sekolah/makan malam/saudara kandung, mintalah dia untuk mencari solusi. Ingatkan anak bahwa tidak ada jawaban yang salah, dan semakin konyol dia, semakin baik.

10. Ketimbang: "Berapa kali Bunda harus mengatakan hal yang sama???"

Bunda bisa mengatakan: "Bunda bisa melihat Kakak/Adik tidak mendengarkan Bunda pertama kali. Bagaimana kalau Bunda berbicara ke Kakak, Kakak membisikkannya kembali kepada Bunda?"

Cara yang meminta anak mengulangi apa yang didengarnya bisa menguatkan pesan. Memvariasikan volume menambah unsur kesenangan pada permintaan.

11. Ketimbang: "Pergi ke kamarmu"

Bunda bisa mengatakan: "Bunda akan tetap di sini bersamamu sampai kamu siap untuk pelukan."

Sekali lagi, isolasi mengirim pesan bahwa ada sesuatu yang salah dengan anak. Dengan memberinya ruang sampai dia siap untuk terlibat kembali, Bunda memberikan jaminan bahwa Bunda akan selalu ada untuknya.

12. Ketimbang: "Kamu membuat Bunda malu"

Bunda bisa mengatakan: "Ayo kita pergi ke suatu tempat pribadi sehingga kita dapat menyelesaikan masalah ini."

Ingat Bunda, ini bukan tentang Bunda. Ini tentang anak dan perasaannya. Dengan menyingkirkan Bunda berdua dari situasi tersebut, bisa memperkuat upaya tim tanpa menarik perhatian pada perilaku tersebut.

13. Ketimbang: (Mendesah dan memutar mata)

Bunda bisa melakukan: (kontak mata, ingat kekuatan terbesar anak, dan berikan dia senyum belas kasih.)

Berlatih menjaga tetap dalam perspektif dengan melihat kekuatan pada anak.

14. Ketimbang: "Berhentilah berteriak!"

Bunda bisa mengatakan: "Bunda akan berpura-pura meniup lilin ulang tahun. Maukah kamu melakukannya denganku?"

Napas membantu mengembalikan tubuh ke kondisi tenang. Bermain-main dengan bagaimana Bunda terlibat dalam pernapasan mempercepat kerja sama. Untuk anak-anak yang lebih besar, minta mereka bernapas bersama dengan Bunda.

15. Ketimbang: "Saya sudah selesai berbicara"

Bunda bisa mengatakan: "Bunda mencintaimu. Bunda ingin kamu mengerti bahwa itu tidak baik untuk ____. Apakah ada sesuatu yang Bunda mengerti?"

Cara ini menjaga jalur komunikasi tetap terbuka sambil mengekspresikan emosi dengan cara yang sehat.

16. Ketimbang: "Berhentilah mengatakan tidak!"

Bunda bisa mengatakan: "Bunda mendengar Kakak berkata, 'Tidak'. Bunda mengerti Kakak tidak menginginkan ini. Ayo cari tahu apa yang bisa kita lakukan secara berbeda."

Daripada berdebat ya/tidak, ubah naskah untuk fokus pada masa depan dan prospek solusi.

Simak juga video fisioterapi untuk bayi:

[Gambas:Video Haibunda]



(kuy/kuy)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi