sign up SIGN UP search


parenting

6 Hal yang Harus Bunda Lakukan Saat Bayi Kena Campak

Annisa Afani Sabtu, 29 Aug 2020 12:08 WIB
Mother nursing sick child At Home caption
Jakarta -

Campak merupakan sebuah penyakit akibat infeksi virus yang menyerang sistem pernapasan, Bunda. Meski telah tersedia vaksin yang aman dan efektif untuk mengatasinya, nyatanya penyakit ini masih menjadi penyebab kematian yang signifikan di seluruh dunia, lho.

Mengutip laman Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), jumlah kasus campak masih terus menunjukkan peningkatan di seluruh dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), melaporkan peningkatan kasus campak empat kali lipat secara global dalam tiga bulan pertama tahun 2019 dibanding periode yang sama tahun 2018.

Nah bagi bayi yang belum mendapat vaksin campak, gondok, dan rubella (MMR), ada potensi terkena campak. Namun jika sudah diberi vaksin maka peluangnya sangat rendah untuk terkena campak.


Penyebab campak

Campak disebabkan oleh virus rubella yang sangat menular. Virus ini merupakan mikroba parasit kecil, setelah tubuh terinfeksi, virus akan menyerang sel inang dan menggunakan komponen seluler untuk menyelesaikan siklus hidupnya.

Virus campak lebih dulu menginfeksi saluran pernapasan. Namun, akhirnya menyebar ke bagian tubuh lain melalui aliran darah.

Ketika seseorang yang terkena virus batuk atau bersin, maka sedikit droplet yang berisi virus akan menyembur ke udara. Droplet akan tetap aktif selama beberapa jam di udara atau permukaan. Jika bayi Bunda bersentuhan dengan droplet ini, dia bisa terinfeksi.

Selain itu, dikutip dari Baby Center, berada di ruangan yang sama setidaknya selama 15 menit dengan orang menderita campak atau melakukan kontak langsung dengan mereka, sudah cukup membuat bayi terpapar virus. Mungkin Bunda tidak menyadari berada dengan seseorang yang menderita campak saat berada di ruang tunggu rumah sakit atau tempat lainnya.

Jika bayi belum divaksin dan belum pernah menderita campak sebelumnya, kemungkinan besar dia akan tertular jika terpapar. Sembilan dari 10 anak yang tidak divaksin yang terkena campak akan tertular.

"Salah satu hal terpenting yang dapat Anda lakukan untuk kesehatan anak Anda adalah memvaksinasi mereka, mencegah penyakit yang berpotensi fatal," kata Sean O'Leary, MD selaku spesialis penyakit menular dan dokter anak, dikutip dari Childrens Colorado.

Jika Bunda menduga bayi menderita campak atau telah terpapar oleh seseorang yang terkena campak, segeralah hubungi tim medis. Dengan begitu, dokter dapat memastikan campak dengan memeriksa ruam pada kulit dan memeriksa gejala yang menjadi ciri khas penyakit tersebut, seperti bintik putih di mulut, demam, batuk, dan sakit tenggorokan.

Gejala campak

Gejala pertama mungkin tampak seperti flu biasa, yakni:

1. Batuk
2. Demam
3. Pilek
4. Mata merah
5. Sakit tenggorokan
6. Bintik putih di dalam mulut
7. Ruam pada kulit

Gejala awal yang lebih jelas adalah bintik putih keabuan di dalam mulut bayi. Bintik ini mungkin terlihat seperti butiran pasir atau garam.

Antara 2-4 hari setelah gejala awal muncul, timbul ruam merah kecokelatan. Ruam pertama akan muncul di kepala atau leher bagian atas bayi, sebelum menyebar ke seluruh tubuh. Saat ruam muncul, demam bayi bisa naik hingga 40 derajat celcius.

Sementara bintik-bintik itu akan menyebar ke seluruh tubuh dan membentuk tekstur bergelombang, Ruam tersebut mungkin sedikit gatal, dan akan berlangsung selama 5 hari. Saat memudar, warnanya akan berubah menjadi kecokelatan dan membuat kulit bayi kering dan bersisik.

Seiring dengan ruam, bayi kemungkinan besar akan lelah dan mudah tersinggung, sakit dan nyeri pada ototnya, kehilangan nafsu makan dan berhenti makan, mengalami batuk semakin parah dan membuatnya terbangun di malam hari.

Mencegah campak pada bayi

Tidak ada pengobatan khusus untuk campak, Bunda. Berbeda dengan infeksi bakteri, infeksi virus tidak sensitif terhadap antibiotik. Namun biasanya virus dan gejalanya akan hilang dalam waktu sekitar dua atau tiga minggu.

Namun ada upaya pencegahan yang dapat dilakukan, yakni dengan vaksin. Vaksin adalah cara terbaik mencegah campak.

Vaksin campak sangat aman, Bunda. Selayaknya obat apa pun, vaksin bisa menyebabkan efek samping tetapi biasanya ringan, seperti nyeri atau bengkak di tempat suntikan dan demam yang berlangsung satu atau dua hari.

Empat negara Eropa tak lagi bebas campak meski tingkat vaksinasi sangat tinggiBayi terkena campak/ Foto: BBC Magazine

Risiko vaksinasi campak yang menyebabkan bahaya serius sangat kecil. Namun meski begitu, mendapatkan vaksin campak jauh lebih aman daripada terkena infeksinya.

Mengenai waktu tepat vaksin campak, IDAI merekomendasikan pemberian vaksin campak dan rubella (MR) masuk dalam jadwal imunisasi rutin dan diberikan kepada anak usia 9 bulan, 18 bulan, dan kelas 1 SD atau sederajat menggantikan imunisasi campak.

Sementara mengutip Healthy Children, American Academy of Pediatrics (AAP), Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, dan American Academy of Family Physicians merekomendasikan anak-anak untuk menerima vaksin campak, gondok dan rubella (MMR) pada usia 12-15 bulan, dan sekali lagi pada usia 4-6 tahun.

Selain itu, ada vaksin kombinasi yang disebut sebagai MMRV, di dalamnya terkandung vaksin cacar air dan MMR. MMRV sendiri adalah pilihan untuk beberapa anak usia 12 bulan sampai 12 tahun.

Bunda, vaksin campak sangat efektif melindungi dari penyakit campak. Namun, tidak ada vaksin yang 100 persen protektif sehingga sangat jarang orang yang divaksinasi dapat terserang campak.

Bagi beberapa bayi atau anak mungkin juga berisiko terkena campak jika mereka hanya menerima 1 dosis vaksin campak, yang merupakan rekomendasi hingga tahun 1989 ketika diubah menjadi 2 dosis. Tetapi, pada dosis kedua, biasanya vaksin campak dapat meningkatkan perlindungan hingga lebih dari 95 persen.

Sementara efek samping vaksin biasanya ringan dan hilang dalam beberapa hari. Efek tersebut, seperti demam dan ruam ringan. Namun dalam kasus yang jarang terjadi, vaksin dikaitkan dengan jumlah trombosit yang rendah dan kejang.

Bagaimana jika bayi terkena campak sebelum divaksin?

Jika bayi terkena campak sebelum divaksin, maka Bunda harus ke dokter. Diperlukan waktu setidaknya 10 hari untuk menunjukkan gejala campak. Perawatan paling baik untuk bayi jika dia menerima di awal masa inkubasi ialah waktu antara seseorang terinfeksi campak dan kemudian menunjukkan gejala, jadi bawa dia ke dokter dalam waktu tiga hari (72 jam) setelah terpapar campak.

Sementara jenis pengobatan yang direkomendasikan dokter tergantung pada usia bayi Bunda, yakni:

  •  Bayi usia di bawah 6 bulan

Dokter akan memberi bayi suntikan zat yang disebut dengan human normal immunoglobulin (HNIG). HNIG memberi bayi antibodi dalam jangka pendek, yang bisa membantu meringankan gejala.

Pada usia 6 bulan atau kurang, bayi Bunda terlalu kecil untuk mendapat vaksin MMR. Dia akan memiliki beberapa antibodi campak Bunda dalam sistemnya sejak dia berada di dalam rahim. Antibodi yang diturunkan ini tidak cukup kuat untuk menghentikan dari virus campak yang menyerangnya, tetapi cukup kuat untuk melindunginya.

  •  Bayi usia 6-8 bulan

Jenis pengobatan tergantung seberapa dekat bayi dengan virus:

Bayi harus diberikan HNIG jika dia berada di ruangan yang sama dengan penderita campak. HNIG adalah pengobatan yang lebih baik untuk bayi usia ini, yang memiliki risiko tinggi tertular penyakit.

  •  Bayi berusia 9 bulan atau lebih

Dokter akan memberi bayi vaksin MMR standar, idealnya dalam 3 hari setelah terpapar. Jika bayi lahir prematur, dia masih dapat HNIG sebelum 6 bulan atau MMR setelah 6 bulan.

Bahkan jika bayi pernah menderita campak atau dosis awal vaksin MMR, dia tetap perlu diimunisasi pada usia 13 bulan atau sesuai rekomendasi IDAI usia 18 bulan, sejalan dengan program vaksinasi anak.

Perawatan yang Bunda lakukan saat bayi alami gejala campak

Campak adalah virus jadi tidak bisa diobati dengan antibiotik. Bayi Bunda akan menjadi lebih baik dalam waktu sekitar 1 minggu.

Dan selama bayi mengalami gejala campak, hal terbaik yang dapat Bunda lakukan untuk mempercepat pemulihannya, yakni:

1. Pastikan bayi banyak istirahat
2. Jauhkan dia dari pusat penitipan anak dan anak-anak lain sampai setidaknya 4 hari setelah timbul ruam
3 Cobalah untuk memastikan bayi Bunda tidak mengalami dehidrasi. Berikan dia banyak ASI atau susu formula atau MPASI
4. Berikan bayi parasetamol atau ibuprofen untuk meredakan demam, dan nyeri dengan resep atau konsultasi lebih dahulu ke dokter
5. Untuk meredakan batuknya, letakkan semangkuk air panas di kamarnya untuk menciptakan kelembapan.
6. Jika bayi kesulitan makan atau minum karena hidung tersumbat, Bunda bisa mencoba obat tetes hidung saline untuk mengencerkan lendir.

Bunda, simak juga efek samping vaksin selain demam dalam video berikut ini:

[Gambas:Video Haibunda]



(AFN/jue)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi