sign up SIGN UP search


parenting

Kekerasan pada Anak Meningkat di Masa Pandemi, Ketahui Dampak Negatifnya

Erni Meilina Kamis, 28 Jan 2021 18:16 WIB
Ilustrasi kekerasan anak caption

Pandemi COVID-19 masih menghantui seluruh penduduk dunia, tak terkecuali Indonesia. Peraturan protokol kesehatan masih tetap harus diterapkan, bahkan jauh lebih ketat dari sebelumnya. Kebijakan pemerintah yang semula merencanakan kembali melakukan pembelajaran offline pada Januari 2021 bagi siswa sekolah dasar, menengah, dan atas kembali ditunda. Kini, per 26 Januari 2021 kasus COVID-19 di Indonesia tembus 1 juta.

Hampir satu tahun lamanya, kegiatan belajar mengajar dilakukan dari rumah masing-masing secara daring. Orang tua berperan penting untuk mendampingi, mengawasi, bahkan menjadi guru anaknya untuk melakukan kegiatan pembelajaran. Pola asuh ini menjadi hal yang baru bagi orang tua.

Sayangnya, tak sedikit orang tua yang belum terbiasa melakukan aktivitas ini menjadi tersulut emosi sehingga terjadilah kekerasan pada anak yang dilakukan oleh orang tua. Ditambah orang tua yang harus sambil bekerja secara work form home dan juga mengerjakan pekerjaan rumah lainnya. Tentunya hal ini membuat emosi orang tua menjadi sering tidak terkontrol.


Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melakukan survei tentang pola asuh ibu selama pandemi COVID-19. Hasil yang mengejutkan bahwa pola asuh tersebut ada kaitannya dengan kekerasan pada anak baik secara fisik dan psikis. Survei dilakukan secara terpisah antara orang tua perempuan dan orang tua laki-laki. Hasil survei menunjukkan bahwa orang tua laki-laki sebesar 25,6 persen, sedangkan orang tua perempuan sebesar 74,4 persen.

Kekerasan pada anak adalah suatu bentuk perilaku yang dilakukan dengan sengaja untuk menyakiti fisik atau psikis seorang anak. Tujuannya adalah tak lain untuk melukai, merusak, dan merugikan anak. 

Meskipun tidak ada definisi tunggal tentang kekerasan pada anak, pengertian kekerasan pada anak dari World Health Organization (WHO)  adalah yang paling komprehensif.  Menurut WHO, kekerasan anak adalah semua bentuk perlakuan buruk fisik dan/atau emosional, pelecehan seksual, penelantaran atau perlakuan lalai atau eksploitasi komersial atau lainnya, yang mengakibatkan bahaya nyata atau potensial terhadap kesehatan, kelangsungan hidup, perkembangan atau martabat anak dalam konteks suatu hubungan, tanggung jawab, kepercayaan atau kekuasaan.

Berdasarkan survei KPAI, bentuk kekerasan pada anak secara fisik ada berbagai macam. Seperti menarik, memukul, mencubit, dan menjewer. Ada 42,5 persen ibu yang melakukan, sedangkan sisanya sebanyak 32,3 persen dilakukan oleh ayah. Sementara kekerasan psikis seperti dibentak, dibandingkan dengan anak yang lain, dimarahi, dan dipelototi tak luput terjadi pada anak. Sebanyak 73 persen ibu melakukan kekerasan psikis, dan sisanya 69,6 persen dilakukan oleh ayah.

Sekitar 40 juta anak di seluruh dunia mengalami kekerasan setiap tahun. Kekerasan pada anak terjadi di setiap tingkat sosial ekonomi, di semua garis etnis dan budaya, di semua agama, dan di setiap tingkat pendidikan. Pada tahun 2008, Statistik Kanada melaporkan bahwa, pada tahun 2006, tingkat serangan seksual terhadap anak-anak dan remaja yang dilaporkan ke polisi lebih dari 5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan orang dewasa.

Untuk setiap 100.000 orang yang berusia kurang dari 18 tahun, 334 di antaranya adalah korban kekerasan fisik atau seksual oleh teman atau kenalan, 187 mengalami kekerasan di tangan anggota keluarga, dan 101 menjadi korban orang asing. 

Kekerasan pada anak dapat mengakibatkan dampak buruk dalam waktu jangka panjang yang berakibat pada perkembangan otak dan juga perilaku anak. Melansir dari Jurnal Behavioural Consequences of Child Abuse, berikut dampaknya.

ilustrasi ibu dan anakilustrasi ibu memarahi anak. (Foto: iStock)

Dampak kekerasan pada anak terhadap perkembangan otak

Ikatan keterikatan yang kuat dan aman dengan yang mengasuh anak adalah inti dari pengembangan ketahanan dan kepribadian yang sehat. Hal ini memperkuat kemampuan anak untuk mengatasi stres, mengatur emosi, memberikan dukungan sosial, dan membentuk hubungan yang membina. 

Dunia sebagai tempat yang aman untuk mengeksplorasi dan mengembangkan kemandirian. Anak menemukan kenyamanan dan dukungan dari pengasuhnya ketika sedang stres. Ketika terjadi kekerasan pada anak, mereka mungkin menunjukkan bentuk keterikatan yang terganggu dan pola respons emosional yang tidak normal terhadap pengasuhnya, dalam hal ini orang tua. 

The Early Years Study 2 meringkas penelitian tentang efek kekerasan dan pengabaian pada perkembangan otak awal. Interaksi pengasuh bayi yang buruk dapat mengganggu pembentukan sirkuit dan jalur saraf. Serangkaian penelitian selama 2 dekade menunjukkan bahwa pengabaian, kekerasan, atau pengasuhan yang dikompromikan oleh depresi atau penyalahgunaan zat memengaruhi perkembangan otak dan jalur biologis anak.

Anak-anak lebih mungkin mengalami masalah belajar dan perilaku ketika tinggal dengan orang tua yang bergumul dengan masalah kesehatan mental atau penyalahgunaan zat. Depresi ibu adalah penentu utama buruknya perkembangan anak usia dini. Hal ini terkait dengan dan sama pentingnya dengan fungsi keluarga, gaya pengasuhan, dan keterlibatan.

Anak-anak kecil sangat peka terhadap emosi orang lain, terutama emosi anggota keluarga mereka. Menyaksikan adegan kekerasan dan perselisihan verbal atau fisik memiliki efek negatif langsung dengan konsekuensi jangka panjang. 

Demikian pula, anak-anak yang mengalami kekerasan atau penelantaran orang tua lebih cenderung menunjukkan hasil negatif yang berlanjut ke kehidupan dewasa, dengan masalah berkelanjutan dengan regulasi emosional, konsep diri, keterampilan sosial, dan motivasi akademik, serta masalah pembelajaran dan penyesuaian yang serius, termasuk kegagalan akademis, depresi berat, perilaku agresif, kesulitan teman sebaya, penyalahgunaan zat, dan kenakalan.

Dampak terhadap perkembangan perilaku

Bayi

Masa bayi merupakan masa kritis dalam perkembangan anak. Selama masa bayi, otak yang ukurannya kira-kira seperempat dari ukuran otak orang dewasa, adalah salah satu organ yang paling tidak berkembang dan sangat rentan terhadap dampak positif dan negatif dari lingkungan luar.

Misalnya, sindrom bayi terguncang, akibat dari penganiayaan fisik, merusak struktur otak, yang dapat berakibat parah bagi kesehatan seorang infan yaitu keterbelakangan mental, gangguan pendengaran, gangguan penglihatan, ketidakmampuan belajar, dan gangguan fungsi kognitif. Konsekuensi kekerasan mungkin tidak terwujud secara klinis sampai di kemudian hari.

Misalnya, hasil bayi yang menderita kerusakan otak akibat gemetar dapat berkisar dari tidak ada efek yang jelas hingga cacat permanen, termasuk keterlambatan perkembangan, kejang atau kelumpuhan, kebutaan, dan bahkan kematian. 

Data Kanada baru-baru ini tentang anak-anak yang dirawat di rumah sakit karena sindrom bayi terguncang menunjukkan bahwa 19% meninggal, 59% mengalami defisit neurologis, gangguan penglihatan, atau efek kesehatan lainnya, dan hanya 22 persen yang tampak baik pada saat keluar.

Usia balita

Pada tahun kedua, anak biasanya akan bereaksi terhadap stres dengan tampilan ekspresi marah dan emosional. Stres yang menyertai kekerasan apapun menyebabkan anak merasa tertekan dan frustrasi. Kemarahan yang berlebihan ditunjukkan dalam bentuk perilaku agresif dan pertengkaran dengan pengasuh atau teman sebaya. Bentuk tanggapan ini lebih diperkuat dengan kekerasan pada anak secara fisik.

Usia prasekolah

Pada tahap ini, anak-anak memiliki reaksi yang sama terhadap berbagai jenis penganiayaan seperti yang dilakukan oleh anak-anak yang lebih kecil. Namun, pada usia 4 dan 5 tahun, anak-anak mungkin mengekspresikan reaksi mereka terhadap pelecehan melalui perilaku yang berbeda. Anak laki-laki cenderung mengeluarkan emosi mereka melalui ekspresi kemarahan, agresi, dan perundungan verbal. Anak perempuan lebih cenderung menginternalisasi sikap perilaku mereka dengan depresi dan menarik diri secara sosial, dan mengalami gejala somatik seperti sakit kepala dan sakit perut.

Usia sekolah dasar

Pada usia ini, anak berkembang melalui interaksi teman sebaya. Kekerasan pada anak dapat mengakibatkan anak sering mengalami kesulitan dengan sekolah, termasuk prestasi akademis yang buruk, kurangnya minat di sekolah, konsentrasi yang buruk selama kelas, dan persahabatan yang terbatas. Mereka sering kali tidak hadir di sekolah.

Masa remaja

Remaja yang pernah mengalami pelecehan mungkin menderita depresi, kecemasan, atau penarikan diri dari pergaulan. Selain itu, remaja yang hidup dalam situasi kekerasan cenderung melarikan diri ke lingkungan yang mereka anggap lebih aman. Mereka terlibat dalam perilaku berisiko seperti merokok, minum alkohol, aktivitas seksual dini, menggunakan narkoba, prostitusi, tunawisma, keterlibatan geng, dan membawa senjata. Gangguan psikiatrik sering terlihat pada remaja yang pernah dianiaya. Dalam satu penelitian jangka panjang, 80 persen orang dewasa muda yang pernah mengalami pelecehan memenuhi kriteria diagnostik untuk setidaknya 1 gangguan kejiwaan pada usia 21 tahun.

Bunda, simak juga tips menjadi orang tua yang tidak mudah marah dalam video berikut:

[Gambas:Video Haibunda]



(som/som)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi