sign up SIGN UP search


parenting

Kenali Ciri Orang Pedofil dan Cara Mencegah Anak agar Tak Jadi Korbannya

Annisa Karnesyia Kamis, 03 Jun 2021 17:41 WIB
Pelecehan Seksual caption
Jakarta -

Kata 'pedofil' dan 'pedofilia' sudah enggak asing bila merujuk ke perbuatan atau perilaku buruk pada anak-anak. Lalu apa arti kedua kata tersebut berbeda ya, Bunda?

Merujuk Kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI), pedofil adalah orang yang melakukan pedofilia. Sedangkan pedofilia adalah kelainan seksual yang menjadikan anak-anak sebagai objek seksual.

Seksolog Ray Blanchard, PhD, mengatakan bahwa pedofil merujuk pada orang yang memiliki orientasi seksual terus-menerus pada anak-anak. Umumnya, ini terjadi ke anak berusia 13 tahun atau lebih muda, Bunda.


Meski pedofil adalah kelainan seksual, tidak semua pedofilia adalah penganiaya anak. Beberapa di antaranya dapat menahan diri untuk tidak melakukan hubungan seksual dengan anak-anak.

"Penganiaya anak ditentukan dari tindakan mereka. Sementara pedofil ditentukan dari keinginan mereka. Beberapa pedofil menahan diri untuk tidak melakukan hubungan seksual dengan anak-anak sepanjang hidup mereka," kata Blanchard, dilansir WebMD.

American Psychiatric Association (APA) telah memasukkan pedofilia ke dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) sejak 1968. Artinya, pedofilia merupakan gangguan atau kelainan kejiwaan, Bunda.

Dalam pembaruan berkala, pedofilia telah dikelompokkan dalam kondisi parafilia lainnya. APA mendefinisikannya sebagai fantasi, dorongan seksual, atau perilaku seksual yang berulang dan intens dan melibatkan anak-anak, subjek bukan manusia,

"Pedofil akan didiagnosis dengan gangguan pedofilia bila rasa ketertarikan mereka terhadap anak-anak menyebabkan mereka merasa bersalah, cemas, terasing, atau kesulitan mengejar tujuan pribadi lainnya, atau bila dorongan tersebut menyebabkan mereka mendekati anak-anak untuk kepuasan seksual dalam kehidupan nyata," ujar Blanchard.

Gangguan pedofilia umumnya dialami pria dibandingkan wanita, Bunda. Kebanyakan pedofil tertarik pada anak-anak dari lawan jenis, sesama jenis, atau tidak terpaku pada pola tertentu.

Ciri dan gejala pedofilia

Mengutip Psychology Today, menurut DSM edisi kelima, gangguan pedofilia dapat didiagnosis dengan kriteria sebagai berikut:

1. Memiliki fantasi, dorongan, atau perilaku yang berulang dan intens yang melibatkan aktivitas seksual dengan pra remaja, umumnya berusia 13 tahun atau lebih muda selama minimal 6 bulan.

2. Dorongan seksual ini telah menyebabkan penderitaan yang signifikan atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau area penting lainnya.

3. Usia orang pedofil ini setidaknya berusia 16 tahun dan 5 tahun lebih tua dari anak dalam kriteria pertama. Namun, ini tidak termasuk individu di masa remaja akhir yang terlibat dalam hubungan seksual terus-menerus dengan anak berusia 12 atau 13 tahun.

4. Diagnosis pedofilia harus dapat menentukan apakah individu tersebut secara khusus tertarik pada anak-anak atau tidak, jenis kelamin apa yang membuatnya tertarik, dan apakah dorongan ini terbatas pada inses.

Diagnosis pedofilia cukup sulit ditentukan, Bunda. Diagnosis ini umumnya meliputi wawancara, pengawasan, atau catatan internet yang diperoleh melalui investigasi kriminal. Penggunaan media pornografi anak secara ekstensif juga merupakan indikator diagnostik yang berguna untuk gangguan ini.

Tak hanya itu, Bunda. Untuk mendiagnosis, orang tersebut perlu menjalani pemeriksaan laboratorium melalui rangsangan seksual dan didasarkan pada perubahan relatif dalam respons organ vital.

Kekerasan anakIlustrasi anak/ Foto: iStock

Tips agar anak tak jadi korban pedofil

Pada kondisi yang tak terkendali, pedofilia bisa melakukan tindakan kriminal untuk memuaskan hasrat seksualnya. Sejak dini, Bunda sebaiknya sudah menjaga anak agar tak jadi korban pedofil. Berikut 7 caranya:

1. Mengenalkan anatomi tubuh ke anak

Selain untuk mempelajari fungsinya, anak juga perlu tahu bagian tubuh mana saja yang bersifat pribadi, terutama empat bagian yakni mulut, dada, alat kelamin, dan bokong.

Bunda perlu menjelaskan pada anak bahwa empat area pribadi itu enggak boleh disentuh sembarangan oleh orang lain, kecuali orang tua dan dokter dengan kondisi harus ditemani Ayah dan Bundanya.

"Jangan lupa juga menyebut anggota tubuh dengan nama aslinya seperti penis atau vagina. Bukan apa-apa, kita perlu membuka mindset anak bahwa itu bukan sesuatu yang tabu tapi adalah istilah resmi," kata psikolog anak dan remaja, Ratih Zulhaqqi.

2. Ajarkan anak untuk berani dan tegas

Bunda dapat mengajarkan anak untuk menolak seseorang yang ingin ambil atau minta foto tubuhnya ya. Biasanya pedofil suka meminta anak untuk memfoto tubuhnya.

3. Biasakan akan berpakaian sopan

Sebagai orang tua, Bunda perlu memastikan baju yang dikenakan anak sopan. Pakaikan baju yang berlengan dan bawahan yang agak panjang, minimal di bawah lutut.

Sebagian besar pedofil tertarik dengan paha anak sebagai bahan fantasi seks-nya. Berpakaian kurang sopan kadang-kadang bisa membuat anak menjadi pusat perhatian.

4. Pastikan siapa saja yang berada di sekitar anak

Sebagai orang tua, kita juga perlu memastikan anak kita sedang bersama siapa. Bunda perlu tahu orang-orang dewasa yang terlibat kegiatan bersama anak, seperti guru atau teman sang kakak.

Ingat ya, Bunda. Pedofil itu enggak cuma dari kalangan yang enggak kita kenal saja, tapi juga dari orang yang kita kenal.

5. Tanamkan kejujuran pada anak

Kebanyakan kasus pedofil biasanya berawal dari anak yang enggak jujur, tak mau menceritakan sesuatu tentang apa yang sedang dia alami. Untuk itu, Ayah dan Bunda perlu menanamkan kejujuran dan keterbukaan sejak dini ke anak.

Bunda bisa coba tanyakan hal-hal sederhana, misalnya 'Hari ini adik main apa sama siapa? Seru enggak mainnya? Ngapain aja?'. Anak-anak pada dasarnya polos, kalau kita umpan dengan pertanyaan seperti itu maka dia akan terbuka dengan apa yang dilakukan.

6. Hati-hati gunakan media sosial

Semakin berkembang zaman, semakin berkembang pula kejahatan di media sosial alias medsos. Sekarang pun sudah mulai banyak akun-akun pedofil anak yang terselubung.

Untuk mencegah anak jadi korban pedofil, Bunda perlu hati-hati dalam menggunakan media sosial. Kalau akun medsos enggak mau private, Bunda bisa matikan geo tagging atau location ya. Hal ini untuk menghindari orang jahat yang ingin menguntit kita atau anak kita.

Selain itu, Bunda perlu meminta izin ke anak untuk memposting fotonya di medsos. Ratih mengatakan bahwa hal ini penting dilakukan sebagai upaya kita menghargai dan menghormati anak.

7. Ajarkan anak untuk percaya intuisinya

Bunda juga perlu mengajari anak untuk mendengarkan intuisi mereka. Mengutip All Pro Dad, intuisi adalah sistem pertahanan alami yang dirancang untuk melindungi kita dari bahaya atau situasi berbahaya.

Pastikan si Kecil memahami hal ini. Jika mereka merasa tidak nyaman, maka mereka bisa keluar dari situasi tersebut. Bunda juga harus mendengarkan anak, misalnya bila dia tidak mau pergi dengan orang tertentu, jangan memaksanya.

(ank/som)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi