PARENTING
Dampak Gaya Pengasuhan Intensif pada Anak, Membantu atau Justru Berbahaya?
Kinan | HaiBunda
Senin, 18 Nov 2024 19:40 WIBAda beberapa gaya pengasuhan yang dapat diterapkan orang tua dalam keluarga, salah satunya dengan pola asuh intensif. Kendati demikian, gaya pengasuhan ini disebut-sebut memiliki dampak buruk bagi karakter anak.
Ada banyak hal yang perlu dikhawatirkan sebagai orang tua saat ini, mulai dari dampak media sosial bagi anak, hingga kekerasan di sekolah. Namun, sebagian mungkin begitu khawatir hingga gaya pengasuhannya cenderung terlalu protektif dan bahkan mengekang.
Dari situ kemudian muncul tentang pengasuhan intensif, tepatnya sejak tahun 1996, oleh seorang sosiolog. Dikutip dari laman Parents, istilah tersebut kerap dibandingkan dengan pengasuhan helikopter atau helicopter parenting.
Apa itu gaya pengasuhan intensif?
Peneliti anak, Raquel Herrero-Arias, PhD, mengamati bahwa pola asuh intensif sebagai gaya pengasuhan yang berpotensi melakukan terlalu banyak hal, sehingga rentan merugikan seluruh keluarga.
Meskipun pola asuh intensif dapat memberikan manfaat, termasuk membangun ikatan orang tua dan anak melalui lebih banyak waktu yang dihabiskan bersama, pola asuh ini juga dapat menimbulkan dampak buruk jika dilakukan terlalu dalam.
Praktik pola asuh intensif yakni ketika orang tua terus-menerus berusaha menghibur anak, jarang meninggalkan mereka dalam pengasuhan orang lain, dan membela sampai tanpa sadar jadi tidak menghormati batasan dengan guru.
Orang tua cenderung terlalu mengatur hidup anak dan terlalu banyak melibatkan diri dalam kondisi emosional mereka. Bahkan kadang terobsesi untuk menangani situasi sulit yang tengah dihadapi anak.
Beberapa aspek pola asuh intensif membawa gagasan di mana semua berpusat pada anak. Bahkan orang tua mendasarkan seluruh rasa kesejahteraan mereka pada keberhasilan anak-anak dalam hidup.
Pola asuh intensif biasanya juga melibatkan keterlibatan orang tua dalam kegiatan akademis, ekstrakurikuler, dan interaksi sosial anak. Mereka juga sering kali turun tangan untuk membantu anak memecahkan masalah atau menghadapi tantangan.
Menurut para ahli, pola asuh intensif dapat menyebabkan tekanan yang tidak sehat pada anak dan orang tua yang tidak fokus pada diri mereka sendiri, hingga menjalani kehidupan yang sangat tidak seimbang.
Penyebab munculnya pola asuh intensif
Diyakini bahwa orang tua beralih ke gaya pengasuhan intensif karena membesarkan keluarga di dunia modern lebih sulit dan karenanya memerlukan pengawasan yang lebih ketat. Berikut alasan lainnya:
1. Tekanan media sosial
Para ahli mengatakan bahwa media sosial merupakan penyebab utama pola asuh intensif.
"Pada tingkat kognitif, bahwa media sosial adalah cuplikan dari apa yang sebenarnya terjadi. Namun, paparan konstan terhadap cara-cara yang tampaknya sempurna ini lama-lama bisa berdampak," ungkap psikolog klinis, Anne Welsh, PhD.
2. Meningkatnya ekspektasi orang tua
Media sosial bukan satu-satunya alasan mengapa mengasuh anak saat ini begitu menuntut. Welsh percaya bahwa secara keseluruhan, ekspektasi terhadap orang tua telah meningkat drastis dalam beberapa tahun terakhir.
"Ada ekspektasi bahwa orang tua diatur secara sempurna secara emosional selalu ada," ungkap Welsh.
3. Tipe kepribadian
Welsh melihat pengasuh dengan tipe kepribadian tertentu cenderung menerapkan pola asuh intensif, termasuk mereka yang berprestasi tinggi dan perfeksionis.
"Mereka terbiasa melakukan segala sesuatu dengan kerja keras, pemikiran strategis yang terencana, dan analisis yang matang," jelasnya.
Apa dampak pola asuh intensif?
Dikutip dari The Bump, meskipun ada keuntungan dari pola asuh intensif, ada juga dampak negatif yang dapat terjadi pada orang tua dan anak, terutama dalam hal kesehatan mental.
Dampak bagi orang tua
Bagi orang tua, risiko utamanya adalah kelelahan secara fisik dan mental. Ini dapat menyebabkan masalah kesehatan lebih lanjut lainnya.
Terutama karena harapan yang tinggi untuk diri sendiri dan anak, beserta tanggung jawab lainnya dari segi pekerjaan dan urusan domestik rumah tangga.
"Ini dapat menyebabkan stres, kelelahan, kurangnya perawatan diri. Dampaknya bisa memengaruhi kesehatan mental, suasana hati, serta kualitas pola asuh dan hubungan dengan pasangan," imbuh terapis kesehatan mental, Laila Rubin, LCSW.
Dampak bagi anak
Anak-anak yang diberikan pola asuh intensif rentan mengalami perasaan tertekan, ragu, rendah diri, tidak mampu, dan cemas jika harapan orang tua mereka terlalu tinggi.
Selain itu, anak rentan mengalami kesulitan membangun kemandirian dan keterampilan memecahkan masalah.
"Kurangnya waktu yang tidak terstruktur karena aktivitas yang terus-menerus dapat membatasi eksplorasi kreatif. Sifat protektif dari pola asuh ini juga dapat menghambat kemampuan anak untuk mengembangkan kemandirian dan ketahanan, karena mereka kehilangan kesempatan untuk menghadapi tantangan, membuat kesalahan, dan belajar darinya," imbuh psikolog Francyne Zeltser, PsyD.
Cara menghadapi pola asuh intensif
Jika Bunda melihat diri sendiri tanpa sadar menerapkan pola asuh intensif, ada banyak hal yang dapat di lakukan untuk memperbaikinya. Berikut ulasannya:
- Ingatlah bahwa tidak apa-apa jika anak-anak terkadang merasa bosan. Biarkan mereka mencari tahu cara menghabiskan waktu tanpa harus melakukan kegiatan yang terorganisasi atau arahan dari Bunda.
- Beri anak-anak kekuatan untuk memecahkan masalah sendiri. Tahan keinginan untuk mengambil alih dan beri mereka ruang untuk menyelesaikan konflik.
- Hindari membandingkan dengan keluarga lain. Pertimbangkan apa yang penting bagi keluarga dan fokuslah pada hal itu, sambil juga berusaha mempercayai naluri pengasuhan dari diri sendiri.
- Fokus pada hal-hal yang membuat keluarga gembira, bukan khawatir.
Demikian ulasan tentang gaya pengasuhan insentif dan dampak buruk yang rentan terjadi, baik pada orang tua maupun anak. Semoga bermanfaat ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(fir/fir)Simak video di bawah ini, Bun:
Bukan TV atau Gim, Ini Screen Time yang Bisa Picu ADHD pada Anak
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
7 Ciri Pola Asuh Otoriter yang Disebut Gaya Parenting Paling Bahaya
Kata Para Bunda soal Perbedaan Gaya Parenting Orang Tua Zaman Dulu dan Gen Z
5 Cara Mendidik Anak dalam Islam, Bunda Perlu Tahu
Kunci Sukses Pola Asuh Ideal, Ini Saran Ahli
TERPOPULER
5 Potret Reza SMASH Resmi Menikah di KUA & Pulang Naik Moge Curi Perhatian Netizen
11 Barang yang Tidak Boleh Disimpan di Bawah Wastafel Dapur, Waspadai Bahayanya
Bikin Bangga! Potret Cinta Laura Jadi Duta Nasional UNICEF Indonesia
Singkirkan 6 Benda Ini Jelang Imlek, Dianggap Pembawa Sial di Rumah
USG Rahim Bersih: Ciri dan Cara Mengetahui setelah Keguguran
REKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Muted Eyeshadow untuk Look Lembut dan Tidak Mencolok
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
10 Lotion Anti Nyamuk untuk Bayi yang Aman dan Melindungi Kulit Si Kecil
Nadhifa FitrinaREKOMENDASI PRODUK
9 Sepatu Karet Perempuan Waterproof yang Nyaman saat Hujan, Cocok untuk Kerja
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
9 Underpad Bayi untuk Perlindungan Maksimal, Pilih yang Aman dan Bagus Bun!
Nadhifa FitrinaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Bidet Portable yang Bisa Dibawa Ibu Hamil saat Bepergian & Liburan
Dwi Indah NurcahyaniTERBARU DARI HAIBUNDA
20 Kado Anniversary Pernikahan untuk Pasangan yang Bagus dan Berguna
Singkirkan 6 Benda Ini Jelang Imlek, Dianggap Pembawa Sial di Rumah
5 Potret Reza SMASH Resmi Menikah di KUA & Pulang Naik Moge Curi Perhatian Netizen
USG Rahim Bersih: Ciri dan Cara Mengetahui setelah Keguguran
11 Barang yang Tidak Boleh Disimpan di Bawah Wastafel Dapur, Waspadai Bahayanya
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Insertlive
Cara Ampuh Hilangkan Noda Lemak di Lemari Dapur
-
Beautynesia
5 Zodiak yang Dikenal Paling Penyabar dan Tenang
-
Female Daily
3 Alasan Kenapa ‘Even if This Love Disappears Tonight’ Menarik Ditonton Meski Menyedihkan
-
CXO
GOT7 Rilis Album Baru, Persiapan Harus Lewat Video Call Karena Hal Ini
-
Wolipop
Ramalan Zodiak Cinta 12 Februari: Aries Redam Ego, Taurus Jaga Kepercayaan
-
Mommies Daily
Cara Menjelaskan Makna Puasa ke Anak Balita dan Usia SD Menurut Psikolog