PARENTING
Anak SD yang Alami Depresi Makin Banyak, Ternyata Ini Penyebabnya
Azhar Hanifah | HaiBunda
Jumat, 23 May 2025 11:15 WIBKesehatan mental anak sekolah dasar kini menjadi perhatian serius di Korea Selatan. Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah siswa SD yang menunjukkan gejala depresi dan gangguan kecemasan terus meningkat, terutama di wilayah ibu kota Seoul.
Temuan ini berasal dari studi yang dilakukan oleh Seoul Metropolitan Office of Education, yang menyoroti adanya kenaikan tren memburuknya kondisi psikologis anak-anak usia dini. Lonjakan kasus ini tentu menimbulkan kekhawatiran, mengingat usia sekolah dasar adalah fase penting dalam perkembangan emosional dan sosial anak.
Studi tersebut dilakukan selama tiga tahun sejak 2021, melibatkan sebanyak 113 sekolah dasar dan total 3.754 siswa. Survei dilakukan menggunakan format focus group discussion (FGD), di mana siswa diajak berdiskusi secara mendalam mengenai berbagai topik yang berkaitan dengan kondisi emosional mereka.
Selanjutnya, temuan dari FGD ini juga dikonsultasikan dengan para ahli mental health terkait kondisi masalah kesehatan mental pada siswa sekolah dasar tersebut.
Depresi dan gangguan kecemasan pada anak SD di Korea Selatan meningkat
Dilansir Korea Herald, hasil studi yang dilakukan oleh Seoul Metropolitan Office of Education mencatat bahwa rata-rata skor gejala depresi pada anak SD mengalami peningkatan dari 0,51 pada tahun 2021, menjadi 0,66 di tahun 2022, dan meningkat lagi menjadi 0,73 pada tahun 2023.
Gejala kecemasan pun menunjukkan hal yang sama. Dalam skala satu poin, nilainya naik dari 0,44 pada 2021 menjadi 0,54 di tahun 2022, dan mencapai 0,58 pada 2023.
Siswa yang menunjukkan sensitivitas emosional juga mengalami peningkatan, dari 0,41 pada 2021 menjadi 0,49 pada 2023. Sementara itu, indikator untuk sifat pesimis pada siswa juga menunjukkan kenaikan, dari 0,17 menjadi 0,26 dalam periode yang sama.
Faktor untuk bantu turunkan masalah kesehatan mental anak
Tak hanya jumlahnya yang meningkat, gejala depresi dan kecemasan pada anak-anak usia sekolah dasar di Korea Selatan ternyata juga dipicu oleh beragam faktor yang saling berkaitan. Studi tersebut menemukan beberapa faktor penyebab penurunan kesehatan mental anak di kalangan siswa sekolah dasar, antara lain:
- Tekanan akademis
- Hubungan antar teman sebaya
- Gaya hidup yang terlalu banyak terpapar teknologi
- Kurangnya waktu tidur
- Membandingkan diri mereka dengan kehidupan orang lain
Masih dari studi yang sama, laporan tersebut mencatat, “Saat ini, semakin banyak anak di bawah umur yang aktif menggunakan media sosial seperti Instagram dan Youtube, di mana secara tidak langsung mereka dapat merasakan seperti apa kehidupan orang lain”
Selain faktor eksternal, penelitian juga menyoroti adanya pola asuh yang terlalu protektif sebagai penyumbang emosi negatif pada anak. Anak yang selalu dilindungi secara emosional sejak dini cenderung lebih mudah cemas dan cepat menyerah saat dihadapkan pada masalah sepele.
“Anak yang terlalu dilindungi secara emosional akan lebih mudah merasa cemas dan frustrasi dalam menghadapi masalah masalah kecil,” jelas laporan tersebut.
Studi ini mengungkap bahwa pola asuh yang terlalu sensitif dan terlalu menuruti emosi anak justru berdampak negatif terhadap kesehatan mental mereka.
Anak-anak SD di Seoul yang dibesarkan dengan pola asuh seperti ini cenderung memiliki daya tahan emosional yang rendah, sehingga lebih rentan mengalami depresi dan gangguan kecemasan.
Demikian ulasan mengenai penyebab kecemasan anak-anak sekolah dasar di Korea Selatan meningkat. Selain faktor pola asuh, media sosial juga berperan dalam memperburuk kesehatan mental anak sekolah di sana.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)Simak video di bawah ini, Bun:
5 Jenis Gangguan Kesehatan Mental pada Anak & Cirinya
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Curhat Influencer Naajmi W, Khawatir Putrinya Alami Depresi di Usia 5 Tahun
3 Dampak Buruk Tak Menjaga Kesehatan Mental Anak
Dampak Isolasi Pandemi Corona bagi Perkembangan Anak, Haruskah Bunda Cemas?
7 Kesalahan Orang Tua yang Dapat Merusak Mental Anak
TERPOPULER
Cara Tukar Uang Baru di Bank BCA, BRI, BNI, BSI, Mandiri dan Lainnya Tahun 2026
Momen Mahalini Ultah, Rizky Febian dan Keluarga Beri Kejutan Lucu
Pulang ke Indonesia dari Thailand Harus Bayar Rp608 Ribu Mulai Juni, Simak Aturannya
Viral Bayi Ditinggal dalam Gerobak di Pejaten Bersama Sepucuk Surat dari Kakak, Ibunda Meninggal
Tiket Kereta Murah Rute Yogyakarta untuk Mudik Lebaran, Hanya Rp175 Ribu
REKOMENDASI PRODUK
5 Snack Diet Lezat yang Bantu Turunkan Berat Badan
Annisa KarnesyiaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi MPASI Instan untuk Bayi 7 Bulan ke Atas, Praktis buat Mudik
Nadhifa FitrinaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Madu untuk Sahur, supaya Kuat Puasa dan Tetap Sehat
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Baju Lebaran 2026 Anak Laki-Laki 1-14 Tahun, Bisa Kembaran sama Ayah
Nadhifa FitrinaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Alat Pel Persiapan Ditinggal ART, Harga Terjangkau
Amira SalsabilaTERBARU DARI HAIBUNDA
Obat Batuk Anak 2 Tahun yang Bagus & Aman untuk Redakan Gejalanya
5 Snack Diet Lezat yang Bantu Turunkan Berat Badan
Viral Bayi Ditinggal dalam Gerobak di Pejaten Bersama Sepucuk Surat dari Kakak, Ibunda Meninggal
Bacaan Surah Al-Kautsar 7 Kali agar Tidak Mudah Haus & Lapar saat Puasa, Bisa Diamalkan Bersama Si Kecil
Apakah Minum Antibiotik Bisa Mengganggu Kesuburan? Simak Faktanya Bun
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Insertlive
Kimberly Ryder & Ibunda Jalani Puasa dan Idulfitri di Tanah Suci
-
Beautynesia
Biar Cepat Naik Jabatan, Hentikan 9 Kebiasaan Ini Sekarang
-
Female Daily
Rhode Menyambut Spring dengan Mengenalkan Sarah Pidgeon Jadi Muse Terbaru!
-
CXO
GOT7 Rilis Album Baru, Persiapan Harus Lewat Video Call Karena Hal Ini
-
Wolipop
Mirip Ed Sheeran, Pria Ini Diminta Asuransi Rp 200 Miliar untuk Masuk Mall
-
Mommies Daily
Kasus Campak Naik Lagi, Seberapa Aman Anak Kita? Ini yang Perlu Orang Tua Tahu