Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

Mengenal 4 Posisi Anak dalam Al-Qur'an, Si Kecil yang Mana?

Nadhifa Fitrina   |   HaiBunda

Sabtu, 10 Jan 2026 13:10 WIB

Mengenal 4 Posisi Anak dalam Al Quran, Si Kecil yang Mana?
Ilustrasi Mengenal Posisi Anak dalam Al Quran/Foto: Getty Images/coffeekai
Daftar Isi
Jakarta -

Kehadiran Si Kecil tentunya membawa kebahagiaan yang sulit dijelaskan lewat kata-kata. Dalam ajaran Islam, posisi anak dalam Al-Qur'an digambarkan sebagai anugerah sekaligus amanah yang harus dijaga oleh orang tua.

Saat rasa lelah itu datang, anak kerap hadir sebagai pelipur lara orang tuanya. Senyum dan tingkah lakunya sering kali sudah cukup untuk menenangkan hati Bunda.

Dilansir dari buku Tuntunan Mendidik Anak Secara Islami karya Azizah Hefni, Islam menempatkan anak pada posisi yang sangat mulia. Bahkan, Islam menganjurkan umatnya untuk memiliki banyak anak melalui pernikahan. Banyak anak berarti banyak anugerah dan rezeki.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Memperlakukan anak tentu tidak bisa disamakan dengan orang dewasa. Anak butuh kelembutan, kasih sayang, serta perhatian yang lebih agar tumbuh dengan rasa aman dan nyaman.

Ketika anak dibesarkan dengan sikap dan perlakuan yang baik, ia akan tumbuh menjadi pribadi yang berbakti. Anak seperti inilah yang kelak dapat menjadi anugerah bagi orang tua dan orang-orang di sekitarnya.

Mengenal empat posisi anak dalam Al-Qur'an

Dalam Al-Qur'an, anak digambarkan memiliki beberapa kategori. Pembagian ini dilihat dari berbagai hal, seperti cara orang tua mendidik, lingkungan tempat anak tumbuh, hingga pendidikan yang diterapkan. Dikutip dari buku Tuntunan Mendidik Anak Secara Islami oleh Azizah Hefni, berikut empat posisi anak dalam Al-Qur'an:

1. Anak sebagai perhiasan dan kesenangan hidup

مَالُ وَالْبَنُوْنَ زِيْنَةُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۚ وَالْبٰقِيٰتُ الصّٰلِحٰتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَّخَيْرٌ اَمَلًا ۝٤٦

Artinya:

"Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, sedangkan amal kebajikan yang abadi (pahalanya) adalah lebih baik balasannya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan." (QS. Al-Kahfi [18]: 46)

Dalam Al-Qur'an, anak disebut sebagai bagian dari perhiasan yang menghiasi perjalanan hidup manusia. Kehadirannya membawa rasa bahagia, bangga, dan kehangatan tersendiri bagi orang tua.

Selain anak, harta juga disebut sebagai salah satu sumber kesenangan hidup. Keduanya membawa kebahagiaan selama kita pahami sebagai titipan dan dijalani dengan cara yang baik.

Harta membantu memenuhi kebutuhan hidup dan memudahkan banyak urusan sehari-hari. Sementara itu, anak menghadirkan kebahagiaan batin yang lebih dalam, terutama saat mereka tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak baik.

Meski membawa kesenangan, harta dan anak sama-sama tidak bersifat kekal, Bunda. Keduanya bisa berubah, hilang, atau tak selalu berjalan sesuai dengan harapan orang tua.

Karena sifatnya yang sementara, harta dan anak tidak bisa dijadikan sandaran utama dalam hidup kita. Dalam Islam, Allah SWT tetap menjadi tumpuan terbaik bagi setiap hamba dalam menghadapi berbagai cobaan.

Lebih lanjut, anak perlu diperlakukan dengan penuh tanggung jawab dan kesabaran. Mereka membutuhkan pendidikan, pendampingan, serta penanaman nilai agama dan akhlak sejak dini.

Jika diperlakukan dengan cara yang keliru, makna anak sebagai 'perhiasan hidup' bisa perlahan memudar. Alih-alih membawa kebahagiaan, anak justru bisa menjadi bumerang penyesalan di kemudian hari.

2. Anak sebagai ujian dalam kehidupan

Seperti yang sudah kita bahas sebelumnya bahwa anak membutuhkan perlakuan yang tepat agar kehadirannya benar-benar membawa kebahagiaan bagi orang tua.

Kesalahan dalam mendidik anak bisa terjadi karena berbagai hal. Mulai dari kurangnya bekal iman, pengetahuan yang terbatas, pengalaman yang minim, hingga pengaruh lingkungan yang kurang baik.

Hal ini dijelaskan Allah SWT dalam Al-Qur'an melalui surah At-Taghabun ayat 14-18:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّ مِنْ اَزْوَاجِكُمْ وَاَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوْهُمْۚ وَاِنْ تَعْفُوْا وَتَصْفَحُوْا وَتَغْفِرُوْا فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ۝١٤

اِنَّمَآ اَمْوَالُكُمْ وَاَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌۗ وَاللّٰهُ عِنْدَهٗٓ اَجْرٌ عَظِيْمٌ ۝١٥

فَاتَّقُوا اللّٰهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوْا وَاَطِيْعُوْا وَاَنْفِقُوْا خَيْرًا لِّاَنْفُسِكُمْۗ وَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ ۝١٦

اِنْ تُقْرِضُوا اللّٰهَ قَرْضًا حَسَنًا يُّضٰعِفْهُ لَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْۗ وَاللّٰهُ شَكُوْرٌ حَلِيْمٌ ۝١٧

عٰلِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ ۝١٨

Artinya:

"Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka. Jika kamu memaafkan, tidak memarahi, dan mengampuni mereka, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan bagimu, dan di sisi Allah-lah pahala yang besar. Maka bertakwalah kepada Allah menurut kesanggupanmu, dengarlah dan taatlah, serta infakkanlah harta yang baik untuk dirimu. Barang siapa dijaga dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Dia akan melipatgandakan balasannya kepadamu dan mengampuni kamu. Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun. Dia Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."

Dalam kehidupan sehari-hari, tak sedikit anak yang justru menyakiti hati orang tuanya. Ada anak yang bersikap durhaka, berkata kasar, bahkan menelantarkan orang tuanya.

Anak yang menjadi sumber penderitaan bagi orang tuanya berarti ada tanggung jawab yang belum tertunaikan dengan baik. Setiap orang tua kelak akan dimintai pertanggungjawaban atas amanah yang Allah titipkan.

Meski begitu, kegagalan dalam mendidik anak bukanlah akhir segalanya, Bunda. Selalu ada kesempatan untuk memperbaiki diri dan hubungan dengan anak, selama usaha itu dilakukan dengan sungguh-sungguh.

3. Anak menjadi penyejuk hati

Di dalam Al-Qur'an, anak dijelaskan sebagai penyejuk dan penenteram hati bagi orang tuanya. Kehadiran anak yang tumbuh dengan baik kerap membawa rasa tenang dan bahagia dalam kehidupan Bunda.

Hal ini disampaikan langsung oleh Allah SWT dalam Al-Qur'an lewat surah Al-Furqan 25: 74.

وَالَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا ۝٧٤

Artinya:

"Dan, orang-orang yang berkata, "Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami penyejuk mata dari pasangan dan keturunan kami serta jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa."

Anak dapat menjadi penyejuk hati ketika dibekali iman dan ilmu yang cukup sejak dini. Peran orang tua penting dalam menanamkan nilai-nilai ini agar anak tumbuh ke arah yang lebih baik.

Dengan bekal yang tepat, anak pun akan belajar menghormati orang tuanya dan membiasakan perilaku terpuji. Ia juga akan tumbuh menjadi pribadi yang taat kepada Allah SWT.

4. Anak sebagai amanah yang harus dijaga

Anak merupakan amanah dari Allah yang perlu dijaga dengan penuh tanggung jawab. Kehadiran mereka adalah titipan yang harus dirawat dan dididik dengan baik oleh orang tua.

Allah SWT menegaskan hal ini dalam Al-Qur'an surah Al-Anfal ayat 27-28:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَخُوْنُوا اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ وَتَخُوْنُوْٓا اَمٰنٰتِكُمْ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ ۝٢٧

عْلَمُوْٓا اَنَّمَآ اَمْوَالُكُمْ وَاَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌۙ وَّاَنَّ اللّٰهَ عِنْدَهٗٓ اَجْرٌ عَظِيْمٌࣖ ۝٢٨

Artinya:

"Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu mengkhianati amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahuinya. Ketahuilah, hartamu dan anak-anakmu hanyalah sebagai cobaan, dan di sisi Allah ada pahala yang besar." 

Segala yang Allah titipkan kepada kita, termasuk anak, adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Karena itu, memperlakukan anak dengan baik ialah kewajiban yang harus dijalankan sepenuhnya.

Jika amanah ini kita abaikan, sama saja dengan mengkhianati kepercayaan Allah. Mengkhianati amanah anak bisa membawa kesulitan dan penderitaan, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Perlu kita ketahui anak adalah titipan yang bisa menjadi sumber kebahagiaan atau ujian bagi orang tua. Allah bisa kapan saja mengambil atau memberikan amanah ini.

Oleh karena itu, orang tua harus berusaha sebaik mungkin dalam mendidik Si Kecil. Cara orang tua mendidik akan menentukan apakah amanah itu menjadi anugerah atau justru menjadi sumber masalah.

Itulah penjelasan mengenai berbagai posisi anak dalam Al-Qur'an. Semoga Bunda bisa lebih memahami peran dan amanah tersebut, ya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ndf/fir)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda