HaiBunda

PARENTING

Studi Ungkap Kesalahan Mendidik Anak Berbakat, Orang Tua Sering Tidak Menyadarinya

Indah Ramadhani   |   HaiBunda

Senin, 02 Feb 2026 10:30 WIB
Kesalahan mendidik anak berbakat/ Foto: Getty Images/CHARTCHAI KANTHATHAN

Selama ini, mungkin orang tua berpikir, anak yang cerdas dan berbakat adalah anak yang memang sudah memiliki kelebihan itu sejak lahir. Tak jarang, orang tua juga menganggap anak yang berbakat adalah anak yang menguasai satu bidang yang spesifik.

Image anak yang cerdas biasanya erat kaitannya dengan anak yang pintar matematika, olahraga, atau musik. Alasannya, ketiga bidang ini memiliki fokus yang sangat besar, ditambah perlu menguasainya selama bertahun-tahun.

Padahal, dalam sebuah studi dibicarakan, anak yang berbakat sebenarnya bisa menguasai lebih banyak hal. Namun, karena sedikitnya orang tua yang memberikan kesempatan kepada sang anak untuk melakukan eksplorasi ke berbagai bidang, maka citra akan dirinya tersebut perlahan terbentuk.


Studi dari Universitas RPTU Kaiserslautern-Landau juga mengungkapkan banyak anak yang cerdas dan berbakat, mendapatkan pola asuh yang tidak sesuai. Maksudnya, cara orang tua mendidik kemungkinan kurang relevan dengan apa yang dialami oleh anak saat ini.

Beberapa cara tersebut mungkin tanpa disadari masih lumrah diterapkan oleh para orang tua. Oleh karena itu, penting untuk mulai menyadari dan memperbaiki pola asuh yang sekiranya bisa menghambat perkembangan anak, sebagai berikut.

Pola asuh yang kurang sesuai untuk membesarkan anak berbakat

Berikut beberapa pola asuh yang sebaiknya tidak diterapkan ke anak-anak berbakat:

1. Disiplin yang terlalu keras

Sebuah hipotesis dari penulis studi, sekaligus profesor ilmu olahraga di Universitas RPTU Kaiserslautern-Landau, Arne Güllich, mengungkapkan bahwa menerapkan kedisiplinan tinggi pada anak berbakat bisa menciptakan dua sisi, yakni sisi positif dan sisi negatif.

Kedisiplinan yang diterapkan pada anak yang cerdas adalah memang dapat memperkuat kapasitas belajar dan terus meningkatkan kemampuannya di kemudian hari pada tingkat tertinggi. Namun, terdapat beberapa risiko yang bisa berdampak padanya.

Menurutnya, kedisiplinan yang begitu tinggi bisa menyebabkan anak menjadi merasa kelelahan berlebih, ketidakseimbangan antara waktu belajar dan istirahat, produktif yang tidak sehat, hilangnya motivasi, hingga cedera fisik bila terlalu keras.

Sebaliknya, bagi anak yang menemukan kedisiplinannya sendiri, biasanya lebih optimal dalam mengembangkan potensi yang dimilikinya. Tekanan yang didapat tidak terlalu berat, sehingga masih dapat dikontrol dengan baik. Mereka juga memiliki peluang karir yang lebih luas.

2. Eksplorasi diri, minat, dan bakat yang terlalu dibatasi

Biasanya ketika orang tua mengetahui sang anak berbakat di bidang tertentu, maka mereka akan difokuskan untuk menjalani bidang yang sudah terlihat, tanpa mencoba untuk memberikan kesempatan mereka bereksplorasi.

Hal ini dibuktikan dalam penelitian Güllich yang menyatakan bahwa spesialisasi terlalu dini dapat menyebabkan anak merasa tidak bebas. Sebaliknya, anak-anak harus didorong untuk melakukan eksplorasi di beberapa bidang dan minat dan menerima dukungan setidaknya dalam dua hingga tiga bidang.

Orang tua bisa mengkombinasikan beberapa bidang tersebut menjadi satu kesatuan yang baik. Misalnya, bidang matematika dikombinasikan dengan geografi, ataupun bidang olahraga dikombinasikan dengan bidang musik.

Saran dari ahli terhadap pola asuh anak yang berbakat

Menurut Güllich, sinergitas antara kebijakan pemerintah, orang tua, dan anak akan menciptakan peluang yang lebih baik di masa depan. Sekaligus, segala kesempatan yang ada semakin terbuka luas.

“Hal ini dapat meningkatkan peluang untuk pengembangan para pelaku kelas dunia dalam sains, olahraga, musik, dan bidang lainnya,”  tuturnya dalam laman Science Daily.

Demikian informasi mengenai pola asuh yang sebaiknya tidak dilakukan pada anak berbakat. Semoga bisa memberi manfaat dan wawasan bagi para orang tua terkait bagaimana cara membesarkan anak yang cerdas dan berbakat dengan pola asuh yang tepat.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)

Simak video di bawah ini, Bun:

Gen Alpha vs Gen Beta, Begini Perbedaan Pola Asuhnya

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Sidang Lanjutan Cerai Boiyen Kembali Digelar Minggu Ini

Mom's Life Annisa Karnesyia

Sukses Turun BB 20 Kg, Melaney Ricardo Akui Tak Ambil Jalan Pintas Operasi tapi Pilih Cara Ini

Mom's Life Annisa Karnesyia

Alami Kelelahan Ekstrem & Rambut Rontok usai Melahirkan, Bunda Ini Kekurangan Zat Besi

Kehamilan Indah Ramadhani

Apakah GERD Bisa Disebabkan Anxiety? Ini Penjelasannya Menurut Studi

Mom's Life Amira Salsabila

Ciri-ciri Orang Berbohong Menurut Pakar, Sering Ucapkan 7 Kalimat Ini

Mom's Life Amira Salsabila

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

[TRENDING 5] Ciri Orang Baik tapi Tidak Tulus, Sering Ucapkan 12 Kalimat Ini Menurut Psikolog

Cara Diet Turunkan Berat Badan 40 Kg dalam 6 Bulan

Alami Kelelahan Ekstrem & Rambut Rontok usai Melahirkan, Bunda Ini Kekurangan Zat Besi

Sidang Lanjutan Cerai Boiyen Kembali Digelar Minggu Ini

Apakah GERD Bisa Disebabkan Anxiety? Ini Penjelasannya Menurut Studi

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK