Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

5 Tren Gaya Parenting yang Perlu Ditinggalkan di 2026, Bunda Perlu Tahu

Kinan   |   HaiBunda

Minggu, 04 Jan 2026 09:10 WIB

Happy Asian family using tablet, laptop for playing game watching movies, relaxing at home for lifestyle concept
Ilustrasi/Foto: Getty Images/iStockphoto/Nattakorn Maneerat
Daftar Isi
Jakarta -

Meski sudah ada banyak gaya parenting yang semakin berkembang, ada beberapa yang mulai perlu 'ditinggalkan'. Nah, apa saja tren gaya parenting yang perlu dipertimbangkan kembali dan ditinggalkan di tahun 2026 ini?

Ya, perkembangan teknologi dan media sosial saat ini disebut-sebut turut memengaruhi gaya pengasuhan yang ada.

Termasuk muncul 'tuntutan' dan persaingan untuk menjadi orang tua terbaik dalam mendidik anak, yang sering kali berujung pada sikap membanding-bandingkan. 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Tak sedikit pula orang tua yang menjadi stres, lalu turut berpengaruh pada sikap buruk ke anak. 

Tren gaya pengasuhan yang perlu ditinggalkan 

Berikut beberapa tren pengasuhan yang sebaiknya Bunda pertimbangkan kembali atau bahkan ditinggalkan di tahun baru 2026 ini: 

1. Mengandalkan AI

Tak sedikit orang tua yang mengandalkan AI (Artificial Intelligence) atau kecerdasan buatan, terutama untuk hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan dan keluhan medis anak.

Dikutip dari Parents, data menunjukkan bahwa orang tua lebih mempercayai ChatGPT dibandingkan dokter.

"Jika khawatir anak-anak berlebihan menggunakan AI, seharusnya perlu dipikirkan juga ketika orang tua terlalu sering menggunakannya," ungkap praktisi keamanan daring, Titania Jordan.

Menurutnya, hal ini perlu menjadi perhatian karena AI sangat tidak terduga dan masih banyak juga melakukan kesalahan. 

Hal ini bisa menjadi berbahaya jika benar-benar diterapkan orang tua dalam mengasuh anak, termasuk saat anak sakit. 

"Orang tua bisa menggunakan AI dengan lebih bertanggung jawab dengan menjadikannya sebagai mesin pencari, bukan terapis atau dokter," pesan psikolog klinis, Emily Guarnotta, PsyD.

Guarnotta menyebutkan sebagai contoh Bunda bisa menggunakan AI untuk mendefinisikan istilah tertentu, seperti 'apa itu regresi tidur?'.

Namun, AI sebaiknya tidak digunakan untuk mendiagnosis. Pastikan Bunda tetap membandingkannya dengan sumber terpercaya lain, seperti dokter anak.

2. Mencari validasi dari orang lain

Tanpa sadar, orang tua kerap mencari validasi dari orang lain untuk menghindari sebutan 'gagal' dalam membesarkan anak.

"Orang tua melakukan ini karena mereka merasakan tekanan yang sangat besar untuk menjadi sempurna dan takut gagal terhadap anak-anak mereka," ungkap Guarnotta.

Terlalu banyak mengunggah tentang situasi anak di internet kerap menjadi upaya untuk membela diri. Orang tua mencari validasi dari orang lain setelah melakukan kesalahan dalam mengasuh Si Kecil. 

Namun sebenarnya apakah validasi eksternal benar-benar berarti, saat anak sedang berupaya secara internal? 

Pahamilah bahwa tidak ada orang tua yang sempurna, Bunda. Hal terbaik yang dapat dilakukan untuk anak adalah berusaha sebaik mungkin, bertanggung jawab saat diperlukan, dan bersedia memperbaiki ketika dibutuhkan. 

3. Membuat jadwal terlalu padat untuk anak

Pertimbangkan kembali kondisi, kebutuhan dan kemampuan anak untuk melakukan banyak hal. Termasuk dengan memberikan terlalu banyak jadwal kegiatan untuk anak.

"Kesibukan yang terus-menerus membuat sistem saraf anak selalu 'aktif', yang nantinya dapat mempersingkat fokus, menurunkan suasana hati, dan bahkan mengganggu pola tidur," ucap psikolog anak dan remaja, Cameron Caswell, PhD.

Sebagai contoh, ketika setiap menit kegiatan anak dijadwalkan, mereka jadi memiliki lebih sedikit kesempatan untuk membuat pilihan, menyelesaikan masalah kecil, dan mengambil inisiatif. 

"Alih-alih belajar merenung dan berpikir sendiri, mereka belajar untuk sekadar tampil saja," imbuhnya.

4. Terlalu sering memberi label pada parenting tertentu

Terlalu banyak label yang diberikan saat ini pada metode-metode parenting yang ada. Bahkan bisa memicu gelombang penolakan karena kesalahpahaman dari makna pengasuhan itu sendiri.

Sebagai salah satu contoh adalah tentang gentle parenting, yang ditolak karena dianggap sama dengan pola asuh permisif. 

"Pola asuh permisif itu memiliki batasan rendah, yakni ketika orang tua yang membiarkan anak tidur larut karena itu keinginan mereka. Sementara itu, gentle parenting adalah bentuk pengasuhan otoritatif, yaitu menerima kebutuhan anak tapi dengan batasan yang jelas," ungkap Guarnotta.

Selain itu, ada juga pengasuhan FAFO. Dikutip dari laman Motherly, FAFO parenting merupakan singkatan dari F** Around and Find Out. Gaya pengasuhan ini hanyalah cara untuk mengatakan bahwa Bunda harus membiasakan anak-anak mengalami konsekuensi alami dari tindakan mereka tanpa harus terus menerus turun tangan untuk menyelamatkannya.

"Istilah parenting ini menyiratkan sikap menghukum yang seakan bergeser ke arah pembalasan seperti 'supaya anak kapok' atau 'kamu sudah membuat pilihan, tanggung sendiri'," kata Caswell.

Tanpa label, pola parenting seperti FAFO dan gentle parenting bisa saja dikombinasikan. Orang tua dapat 'mundur' sedikit agar anak bisa membangun keterampilan dan kemandirian, serta membiarkan konsekuensi dunia nyata mengajarkan sesuatu.

Ketika dipadukan dengan bimbingan, empati, dan batasan keamanan, konsekuensi alami jauh lebih efektif daripada hukuman dalam menumbuhkan tanggung jawab, kepercayaan diri, dan kompetensi.

5. Melupakan kondisi Bunda sebagai pengasuh utama

Dalam jenis pengasuhan apa pun, kondisi ibu sebagai pengasuh utama tak boleh disepelekan. Sebagian besar orang tua, bahkan angkanya mencapai 90 persen, kehilangan waktu tidur karena stres mengurus anak. 

Lama-kelamaan kondisi ini bisa menggerus kesehatan mental dan fisik, yang kemudian turut memengaruhi sikap orang tua ke anak. 

Oleh sebab itu, alih-alih sekadar memilih gaya parenting yang tepat, Bunda juga tetap perlu memperhatikan kondisi diri sendiri. Minta bantuan dari lingkungan sekitar jika memang dari perlu, ya.

Itulah ulasan tentang tren-tren gaya parenting yang perlu ditinggalkan di 2026. Ingatlah bahwa yang paling utama adalah menyesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan anak, serta kesehatan fisik dan mental orang tua juga.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(fir/fir)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda